Kanker nasofaring adalah jenis kanker kepala dan leher yang sering ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Radioterapi adalah metode utama pengobatan kanker nasofaring. Namun, salah satu tantangan terbesar adalah resistensi terhadap radiasi atau radioresistensi, yang dapat menurunkan efektivitas terapi.
Cyclin D1 adalah protein yang berperan penting dalam siklus pembelahan sel. Protein ini membantu transisi sel dari fase G1 ke fase S, yang memungkinkan sel untuk memperbanyak diri. Dalam kondisi kanker, overekspresi Cyclin D1 dapat menyebabkan proliferasi sel tak terkendali dan memperburuk radioresistensi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa overekspresi Cyclin D1 terkait dengan mekanisme radioresistensi melalui jalur tertentu, seperti SHP-1 dan β-catenin. Studi ini juga menunjukkan bahwa:
- Cyclin D1 berkontribusi pada perbaikan DNA yang rusak akibat radiasi, yang membuat sel kanker lebih sulit dihancurkan.
- Menghambat ekspresi Cyclin D1 dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap radiasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Cyclin D1 dapat dijadikan target terapi molekuler untuk meningkatkan efektivitas radioterapi pada pasien NPC. Dengan memahami mekanisme molekuler ini, dokter dapat mengembangkan pendekatan yang lebih personal dalam pengobatan NPC. Memahami peran Cyclin D1 dalam radioresistensi membuka peluang baru untuk diagnosis dan pengobatan kanker nasofaring. Pengendalian ekspresi Cyclin D1 dapat menjadi langkah penting untuk meningkatkan harapan hidup pasien.
Penulis: Achmad Chusnu Romdhoni, Arya Satya Rajanagara, Chabib Fachry Albab, Langgeng Agung Waskito, Idznika Nurannisa Wibowo, Mohd Razif Mohamad Yunus
Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39068551/





