Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) adalah kondisi yang berhubungan dengan hormon yang ditandai dengan ovulasi yang jarang atau tidak ada, tanda-tanda kadar androgen yang tinggi, dan banyak kista kecil pada ovarium. Frekuensi global penyakit ini bervariasi antara 6% dan 20%, bergantung pada kriteria diagnostik, dengan perkiraan menggunakan kriteria Rotterdam berkisar antara 8% hingga 13%. Prevalensi PCOS di Indonesia tercatat sebesar 4,5% di antara wanita usia reproduksi.
Resistensi insulin dan hiperinsulinemia merupakan karakteristik utama PCOS, yang memengaruhi sekitar 80% individu obesitas dan hingga 40% individu dengan berat badan normal. Kelainan metabolisme ini menyebabkan gangguan folikulogenesis dan anovulasi. Olahraga intensitas sedang telah terbukti efektif dalam meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan skor HOMA-IR, dan memperbaiki fungsi ovulasi serta keteraturan siklus menstruasi pada wanita dengan PCOS. Peningkatan kebugaran kardiorespirasi, lingkar pinggang, kadar kolesterol LDL, dan VOâ‚‚ max telah diamati setelah menjalani program aktivitas fisik yang terorganisir.
Studi yang dilakukan pada hewan menemukan bahwa diet yang kaya gula dan asam kolat menyebabkan ciri metabolik dan reproduksi yang mirip dengan PCOS, seperti resistensi insulin, kadar androgen yang lebih tinggi, dan masalah dengan perkembangan folikel.
Para peneliti mengaitkan model ini dengan peningkatan obesitas, kista ovarium, dan berkurangnya jumlah folikel yang berkembang. Tidak seperti model injeksi hormon yang hanya meniru kadar androgen tinggi, model diet lebih mewakili berbagai fitur metabolik PCOS, termasuk ketidakseimbangan usus, peradangan, dan stres oksidatif.
Selain itu, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa berenang dengan beban yang setara dengan 6% dari berat badan adalah cara yang baik untuk meningkatkan folikulogenesis tanpa menyebabkan terlalu banyak stres. Hal ini selaras dengan kadar laktat stabil yang optimal, menyelaraskan beban metabolik dan respons ovarium (13). Karena keterbatasan etika dalam memperoleh histologi ovarium manusia, model hewan sangat penting untuk menyelidiki patofisiologi PCOS. Studi ini dilakukan dengan tujuan mengevaluasi bagaimana olahraga memengaruhi resistensi insulin (diukur dengan HOMA-IR) dan perkembangan folikel pada tikus yang diberi diet tinggi gula dan asam kolat untuk menciptakan ciri-ciri mirip PCOS. Diperoleh dari ekor tikus, secara bersamaan menganalisis berbagai jenis folikel dan korpus luteum.
Penulis: Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si





