Sejak Desember 2019, masyarakat harus beradaptasi dengan penyakit baru yang disebut Coronavirus 2019 (COVID-19) yang telah menjadi pandemi dan menginfeksi lebih dari 200 juta orang, dengan tingkat kematian lebih dari 4,6 juta orang di seluruh dunia (Syafa’ah, 2021). Pasien dengan penyakit kronis seperti tuberkulosis (TB) memiliki risiko kematian lebih tinggi di masa pandemi COVID-19 (Fei et al., 2020). COVID-19 maupun TB dapat memengaruhi sistem pernapasan, terutama paru-paru seperti batuk, demam dan kesulitan bernapas (Kant & Tyagi, 2021). Keduanya adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui udara tetapi penularan COVID-19 lebih cepat dan sulit dikendalikan dibanding penyakit TB (Duarte et al., 2021).
Pandemi COVID-19 memberikan tekanan besar pada pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Beberapa solusi yang disarankan seperti mengatur jarak dan melakukan karantina wilayah di beberapa area dapat membantu menahan penyebaran virus. Namun, solusi tersebut juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan pasien yang memiliki penyakit kronis karena akses ke fasilitas kesehatan untuk perawatan rutin dan pengobatan harus dibatasi (Kretchy et al., 2021). Hal tersebut dapat mengakibatkan meningkatnya stres psikologis, memicu ketidakpatuhan pengobatan, memengaruhi kualitas hidup pasien bahkan meningkatkan jumlah kematian pasien TB di masa pandemi COVID-19. Hasil penelitian memprediksi akan terjadi peningkatan kematian pasien TB antara tahun 2020 dan 2035. Perkiraan peningkatan jumlah kematian terjadi di berbagai negara seperti 4,65% di India, 7,64% di Indonesia, 2,09% di Kenya dan 8,68% di Pakistan. Perkiraan peningkatan insiden dan kematian TB tersebut dikaitkan dengan dampak COVID-19 pada surveilans dan pengobatan TB (Tovar et al., 2021).
Penyakit kronis dapat membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi dan mengalami kesulitan dalam manajemen pengobatan sehingga membuat beberapa pasien mengalami stres di masa pandemi. Penurunan aktivitas dan interaksi sosial juga membuat tingkat stres pasien TB semakin tinggi (Febi et al., 2021). Dampak negatif dari wabah COVID-19 dapat memengaruhi hasil klinis dari pasien dengan kondisi kronis ditambah dengan stres psikologis yang dialami pasien (Kretchy et al., 2021).
Dampak lain dari pandemi COVID-19 terhadap pasien TB adalah menurunnya tingkat kepatuhan pengobatan. Beberapa fasilitas kesehatan memberikan kebijakan seperti pasien harus diberikan obat TB selama 1 hingga 2 bulan selama pandemi, untuk mengurangi kunjungan pasien dan mengurangi risiko penularan penyakit. Hal tersebut dapat menyebabkan kurangnya kontrol terhadap kepatuhan pengobatan (Jain et al., 2020). Beberapa pasien TB selama pandemi COVID-19 menghentikan kegiatan rehabilitasi, membatasi kegiatan rawat jalan, menghindari akses fasilitas kesehatan karena takut meskipun memiliki gejala yang parah sehingga semakin memperparah kondisi penyakitnya dan berakibat pada kematian (Dina Visca et al., 2020). Pasien TB menjadi sulit untuk dipantau kondisi kesehatannya, sehingga pasien yang membutuhkan perawatan dan tindak lanjut secara teratur menjadi tidak terjangkau (Jain et al., 2020). Banyak penderita TB yang mengalami kejadian berulang karena ketidakpatuhan pengobatan dan mengalami kondisi yang semakin parah bahkan kematian (Putra & Toonsiri, 2019). Kepatuhan pengobatan merupakan kunci untuk memastikan tingkat keberhasilan yang tinggi di akhir pengobatan dan mengendalikan penyakit TB (Sarinoglu et al., 2020). Konseling intensif dan pemantauan pengobatan sangat diperlukan dalam mengatasi ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB (Kaur et al., 2021).
Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi masalah pasien TB selama pandemi. Pemberian edukasi kesehatan dan rehabilitasi medis dilakukan dalam berbagai media salah satunya layanan telehealth. Petugas kesehatan dapat menggunakan layanan virtual dan teknologi digital seperti video dan pesan teks yang berisi tentang pengawasan pengobatan, sarana edukasi dan terapi pengobatan TB. Layanan virtual dan teknologi digital memiliki tujuan agar pasien TB mendapatkan dukungan kepatuhan pengobatan, petugas juga dapat memantau kesehatan pasien TB, melakukan konseling dan konsultasi lanjutan (Fei et al., 2020). Terapi menggunakan media video peragaan juga dapat mendukung kepatuhan pengobatan dan membantu pasien TB menyelesaikan pengobatan di masa pandemi (Jain et al., 2020). Hasil penelitian menjelaskan bahwa media video peragaan secara signifikan dapat menurunkan ketidakpatuhan pengobatan, menghemat waktu dan uang serta meningkatkan kepuasan pasien (D. Visca et al., 2021). Penggunaan layanan telehealth di masa pandemi COVID-19 juga dapat mencegah penularan dan berfokus pada layanan kesehatan (Dina Visca et al., 2020). Penggunaan teknologi kesehatan digital harus diintensifkan untuk mendukung pasien, meningkatkan komunikasi, konseling, perawatan, dan pemberian edukasi kesehatan. Sesuai dengan rekomendasi WHO, teknologi seperti pengawasan pengobatan, sarana edukasi dan terapi yang didukung oleh video dapat membantu pasien menyelesaikan pengobatan TB (World Health Organization, 2020).
Penulis: Tintin Sukartini, Natalia Christin Tiara Revita
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://e-journal.unair.ac.id/JR/article/view/30968/21349
Revita, N. C. T., Sukartini, T., Makhfudli, Acob, J. R. U., Hasanudin, & Aini, H. N. (2022). Impact of the COVID-19 pandemic on tuberculosis services. Pulmonology, 28(3), 210–219. https://doi.org/10.1016/j.pulmoe.2022.01.015





