Universitas Airlangga Official Website

Dampak Polimida pada Daur Ulang Limbah Styrofoam

Dampak Polimida pada Daur Ulang Limbah Styrofoam
Sumber: Forester Act

Styrofoam adalah bahan busa termoplastik yang kaku, yang dipolimerisasi dari monomer stirena, yang sebagian besar digunakan untuk kemasan dan sebagai bahan isolasi. Di Indonesia, banyak penjual makanan menggunakan kemasan styrofoam karena harganya yang murah dan ringan. Warna putih juga memberikan kesan kebersihan dan higienis. Karena manfaatnya, penggunaan styrofoam meningkat. Sebenarnya, styrofoam memiliki dampak karbon yang rendah karena teknologi produksi menghasilkan kebutuhan energi dan air yang rendah dengan limbah produksi yang lebih sedikit. Namun, karena teknik dan fasilitas daur ulang yang terbatas di Indonesia, sebagian besar pusat daur ulang dan bank sampah lokal tidak menerima limbah styrofoam. Alih-alih didaur ulang atau digunakan kembali, jenis limbah ini langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir atau berakhir mencemari saluran air dan terurai menjadi mikroplastik.

Dalam penelitian ini, kelayakan daur ulang limbah styrofoam, yang berasal dari kemasan makanan, menjadi membran filtrasi diinvestigasi. Membran dibuat menggunakan metode inversi fase basah, dengan polimida sebagai aditif pencampur yang bervariasi dari 0 hingga 8 wt.%. Karakterisasi dilakukan menggunakan pengukuran sudut kontak air, SEM, dan spektrofotometri UV-Vis. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa semua membran styrofoam/PI menunjukkan tingkat penolakan mikroplastik melebihi 80%, dan mereka menunjukkan keseragaman yang lebih besar dibandingkan dengan membran styrofoam. Selain itu, protein rejection meningkat dengan penambahan konsentrasi PI. Penambahan 8 wt.% polimida menyebabkan peningkatan penolakan protein sebesar 240%, dengan semua membran memiliki permukaan hidrofilik. Gambar SEM mengungkapkan bahwa penambahan polimida mengubah struktur membran, meningkatkan sifat filtrasi dengan memodifikasi struktur seperti jari dari membran. Penambahan 8% polimida ke larutan styrofoam mengurangi ukuran pori dan porositas ke nilai terendah yang diamati, sekaligus meningkatkan sifat anti-fouling sebesar 67%.

Penemuan ini menunjukkan bahwa membran styrofoam/PI memiliki potensi signifikan untuk menyelesaikan tantangan penumpukan limbah styrofoam, serta menawarkan solusi berkelanjutan untuk mengatasi polusi mikroplastik dengan mendaur ulang limbah styrofoam menjadi membran filtrasi berkualitas tinggi.

Penulis: Gunawan Setia Prihandana

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/impact-of-polyimide-on-the-recycling-of-waste-expanded-polystyren

Baca juga: Ancaman Tersembunyi Mikroplastik bagi Ekosistem Laut