Cuaca ekstrem dan perubahan iklim sedang meningkat seiring meningkatnya suhu rata-rata global. Menurut perkiraan suhu permukaan bumi akan mencapai 1,5 °C di masa depan, sehingga menyebabkan badai, gelombang panas, dan kebakaran hutan yang lebih sering dan parah. Emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya karbon dioksida (CO2), merupakan kontributor utama pemanasan global. Untuk menjaga suhu global pada 1,5 derajat Celcius, emisi harus mencapai nol pada tahun 2050. Perjanjian Paris mengakui peran aktor subnasional dan non-negara dalam mengurangi emisi GRK. Oleh karena itu, perlu ada dekarbonisasi ladang minyak dan gas.
Studi terbaru menyoroti proses-proses baru untuk mentransmisikan industri berat menuju emisi GRK net-zero pada pertengahan abad ini, namun terdapat kesenjangan antara strategi pengurangan yang layak dan pencapaian net-zero, khususnya di negara-negara dengan emisi yang besar. Penghapusan Karbon Dioksida (CO2) sangat penting untuk mencapai emisi nol bersih. Pemerintah, industri real estat, dan perusahaan berupaya mencapai target net-zero, namun memasukkan CO2 ke dalam strategi bisa cukup berisiko.
Sebuah studi menganalisis efektivitas dekarbonisasi di lapangan hulu migas menggunakan analisis dekarbonisasi dengan model panel pada data 25 ladang hulu migas tahun 2015-2018. Studi ini menemukan bahwa penggunaan energi, jumlah dan biaya dekarbonisasi, serta total produksi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengurangan karbon dengan koefisien pola yang berbeda-beda, sehingga menyatakan bahwa program dekarbonisasi yang saat ini berjalan di lapangan belum sepenuhnya efektif.
Kerangka Dekarbonisasi
Di Indonesia, kerangka dekarbonisasi merupakan suatu keharusan di sektor industri untuk mendukung tujuan nasional pengurangan emisi karbon. Di bidang hulu migas, program dekarbonisasi telah menjadi program dekarbonisasi proses utama dan program dekarbonisasi fasilitas pendukung. Namun, terdapat keterbatasan dalam menerapkan pengurangan karbon dalam proses utama di lapangan, termasuk akses, prioritas, dan komitmen.
Fasilitas penunjang lapangan migas mempunyai pola dekarbonisasi yang berbeda. Optimalisasi bahan bakar merupakan program dekarbonisasi yang paling sering orang gunakan, yang kedua adalah penggantian lampu tradisional ke lampu LED dan penerapan fotovoltase atau sel surya. Kampanye perilaku dan pengendalian program dekarbonisasi juga biasa dilakukan di fasilitas pendukung.
Pengurangan Karbon
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan energi, jumlah program dekarbonisasi, dan biaya terhadap pengurangan karbon di lapangan hulu migas. Model data panel utama, model 1, menguji hubungan antara faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi dan pengurangan karbon. R-square keseluruhan dalam model ini adalah 0,3456, yang menunjukkan bahwa variabel terikat menjelaskan sekitar 35% pengurangan karbon. Koefisien positif model reduksi karbon dalam penggunaan energi disebabkan oleh perbedaan baseline penggunaan energi dan reduksi karbon. Pola timbal balik antara pengeluaran dan pengurangan karbon terlihat di sektor hulu migas.
Model data panel pada proses utama peneliti bangun untuk menyelidiki pola pengurangan karbon lebih lanjut. Pada model reduksi karbon pada proses utama menunjukkan pola yang mirip dengan model utama, sedangkan model emisi karbon sedikit berbeda. Model pengurangan karbon dan emisi karbon menunjukkan pola serupa dalam hal penggunaan energi dan jumlah program. Efektivitas implementasi program masih menjadi tantangan dalam industri ini.Dekarbonisasi harus selaras dengan kinerja produksi minyak dan gas pada proses utama. Selain itu, pengaruh sumber daya sangatlah penting untuk menciptakan program mitigasi karbon yang berkelanjutan. Keterbatasan penelitian ini terkait dengan data observasi yang pendek, sehingga perlu ada penelitian lebih lanjut dengan dataset yang lebih besar.
Penulis: Aditya Prana Iswara, Lin-Han Chiang Hsieh,Syahbaz Abbas,Denny Dermawan,Sonny Kristianto





