n

Universitas Airlangga Official Website

Empat Delegasi UNAIR Ikuti Simulasi Sidang PBB di Kanada

simulasi sidang pbb
Delegasi Universitas Airlangga di ajang Harvard World Model United Nations. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebanyak empat delegasi Universitas Airlangga mengikuti simulasi sidang PBB The Harvard World Model United Nations (WorldMUN) di Montreal, Kanada, pada 13-18 Maret lalu. Ajang bergengsi itu diikuti oleh lebih dari duaribu mahasiswa delegasi dari 136 negara. Mereka berasal dari mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di dunia, termasuk UNAIR.

Keempat mahasiswa itu adalah Dirgandaru Galih Waskito (mahasiswa Hubungan Internasional/2014), Fransiska Berliani (Sastra Inggris/2015), Andreyanto Surya Putra (HI/2013), dan Eko Ratmoko (HI/2015).

Para delegasi banyak mendapatkan pengalaman berharga dari keikutsertaannya dalam ajang WorldMUN. Mereka banyak berlatih negosiasi dan diplomasi dalam berdebat dengan mahasiswa dari seluruh dunia.

“Ajang ini memberikan kami satu tempat untuk bisa berinteraksi dengan mahasiswa dari seluruh dunia, bertukar ide, wawasan, gagasan, dan menyelesaikan isu-isu internasional,” ujar Dirga, ketua delegasi WorldMUN dari UNAIR.

Sebagai ajang berkumpulnya akademisi dari berbagai belahan negara di dunia, WorldMUN menjadi forum bertemunya gagasan yang berkaitan dengan isu-isu politik internasional. Mulai dari isu imigrasi, kesehatan, keamanan, dan beragam isu politik internasional lainnya.

Belajar menjadi diplomat

Dalam forum internasional ini, seluruh peserta seakan menjadi diplomat dari negara-negara yang telah ditentukan. Seluruh rangkaian sidang dalam forum, mengacu pada sidang yang biasa dijalankan PBB. Tentu, ada banyak aturan yang dilayangkan.

Step by step persidangan mengacu pada sidang-sidang yang dilakukan PBB. Kita bukan bikin acara sendiri. Saat melakukan amandemen, bikin resolusi draf, kita belajar bagaimana PBB melakukan sidang,” cerita Fransiska.

Fransiska menambahkan, kegiatan simulasi sidang PBB seperti ini penting diikuti oleh mahasiswa. Selain melatih kemampuan negosiasi dan diplomasi, banyak kemampuan non teknis yang didapat dari ajang MUN. Poinnya adalah, ajang MUN bukan hanya bermanfaat untuk mahasiswa yang memiliki cita-cita menjadi diplomat. Softskill yang didapat dari forum ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tujuan utamanya memang melatih skill diplomasi dan negosiasi. Tapi, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari MUN. Negosiasi pun bukan semata-mata untuk menjadi diplomat. Tapi banyak softskill yang dibutuhkan untuk mahasiswa. Seperti berdebat yang santun, cara bersikap, melatih kita bertukar ide, wawasan, dan gagasan dengan orang lain,” ujar Fransiska.

Memperkenalkan budaya Indonesia

Masih di rangkaian forum WorldMUN, terdapat acara global village. Dalam acara simulasi sidang PBB tersebut, setiap delegasi dari masing-masing negara membuat booth untuk mempresentasikan identitas negara asal mereka. Dirga dan tim cukup berbangga. Sebab, hanya timnya yang menampilkan booth dengan cara unik dan berbeda.

“Waktu itu kita menghiasi booth yang merepresentasikan Reog Ponorogo. Kita bawa budaya Jatim di sana. Kita pakai kostum Jatim, dan kita adalah satu-satunya booth yang halal. Booth lain nggak ada yang memamerkan budaya, tapi pamer makanan dan minuman, alkohol yang lebih banyak,” ujar Dirga sambil tertawa.

Rupanya, booth dari delegasi UNAIR ini mendapat perhatian lebih dari para peserta. “Kami jelaskan bahwa Reog Ponorogo adalah bagian dari budaya kami. Kami jelaskan bahwa reog itu pakai topeng, punya kekuatan mistis. Mereka sangat excited (senang),” kenang Dirga.


Kehidupan masyarakat Kanada

Suhu yang ekstrim di Kanada hingga minus 27 derajat Celcius, untungnya tidak sampai membuat kesehatan Dirga dan tim menurun. Mereka mengaku takjub dengan kehidupan masyarakat di Kanada seperti tingginya toleransi antar masyarakat, ketaatan warga pada aturan dari pemerintah setempat, hingga lalulintas jalanan kota yang teratur.

“Tidak ada macet apalagi kebut-kebutan. Jalanan kota sangat teratur. Kanada sangat terbuka dengan imigrasi, sehingga masyarakat di sana berasal dari multinegara. Tapi mereka tidak pernah konflik,” ucap Dirga.

Yang menakjubkan lagi bagi Dirga dan teman-teman adalah, meskipun jauh-jauh pergi ke Kanada, mereka masih saja ‘menemukan’ Indonesia di sana.

“Kami bertemu dengan orang yang pernah tinggal di Jakarta. Dia ramah banget. Jauh-jauh ke Montreal, di sana kami ketemu orang yang bisa berbahasa Indonesia,” ujar Dirga.

Sebelum berangkat ke Kanada, keempat delegasi UNAIR telah melalui berbagai tahapan. Mulai dari seleksi internal, persiapan materi konferensi, dan persiapan keberangkatan. Seleksi internal dilakukan oleh komunitas Airlanggaa Model United Nations (AIRMUN).

Komunitas yang diketuai oleh Ni Putu Indah Maharani ini, sejak beberapa tahun terakhir menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk mengikuti ajang bergengsi MUN, baik itu WorldMUN, Harvard National Model United Nations (HNMUN), Asia-Pacific Model United Nations Conference (AMUNC), dan berbagai MUN tingkat nasional.(*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Defrina Sukma S