African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan mematikan. Penyakit ini menyerang babi domestik dan babi hutan, dengan tingkat kematian hampir 100% pada hewan yang terinfeksi. ASF disebabkan oleh virus ASF (ASFV) yang tergolong dalam keluarga Asfarviridae dan genus Asfivirus, berisi DNA beruntai ganda. Sejarah penyakit ASF sendiri telah ada selama lebih dari satu abad. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Kenya, Afrika Timur, pada tahun 1921, meskipun telah terdokumentasi sejak tahun 1909. Sejak saat itu, wabah ASF menyebar secara global dan menjadi ancaman besar bagi industri peternakan babi di seluruh dunia. Pada tahun 2007, ASF muncul kembali di Georgia dan dengan cepat menyebar ke berbagai negara di Eropa Timur, termasuk negara-negara di Eropa Tengah dan Selatan. Pada tahun 2018, virus ini dilaporkan mencapai China, yang merupakan pasar babi terbesar di dunia. Penyebaran virus ini tidak berhenti di situ, melainkan terus meluas ke Asia dan bahkan ke kawasan Karibia, seperti Haiti dan Republik Dominika pada tahun 2021.
Penyakit ASF memiliki karakteristik penyebaran yang sangat cepat dan susah untuk dikendalikan. Sejak kemunculannya di Georgia, ASF telah menyebar ke berbagai negara tanpa kendali yang efektif, menciptakan mimpi buruk bagi peternak dan pemerintah di seluruh dunia. Wabah ini membuat negara-negara yang terdampak harus melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan yang ketat, termasuk pengendalian pergerakan babi dan produk turunannya serta karantina wilayah. Pada tahun 2015, ASF menyebar dengan cepat di Eropa Timur dan Tengah, kemudian menyebar ke negara-negara di Eropa Barat. Selanjutnya, virus ini menyebar ke Asia, termasuk Korea Selatan dan Vietnam. Pada tahun 2018, virus ASF masuk ke China dan menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara. Terbaru, pada 2021, ASF dilaporkan telah menyebar ke beberapa negara di Asia dan Karibia, termasuk Haiti dan Republik Dominika (Schambow et al., 2023). Penyebaran yang cepat ini menunjukkan bahwa penyakit ASF sangat sulit dikendalikan tanpa upaya koordinasi dan penanganan yang efektif.
Di Indonesia, wabah ASF pertama kali terdeteksi pada tahun 2019. Sejak saat itu, penyebarannya semakin meluas ke seluruh daerah di Indonesia, menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan peternak babi dan pemerintah. Pemerintah Indonesia bersama peternak dan stakeholder terkait tengah berupaya keras untuk memerangi wabah ini. Langkah utama yang dilakukan adalah meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap pergerakan babi, memperketat pengawasan di pelabuhan, serta melakukan edukasi kepada peternak mengenai langkah pencegahan dan penanganan ASF. Wabah ASF tidak hanya menjadi tantangan di Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menilai bahwa ASF adalah salah satu penyakit yang paling berpotensi menyebar secara epidemi di seluruh dunia. Penyebarannya yang cepat dan tidak terkendali dapat mengancam keberlangsungan industri peternakan babi secara global dan berdampak besar terhadap ekonomi dan ketahanan pangan. Karena sifatnya yang sangat menular dan mematikan, penanggulangan ASF membutuhkan tindakan cepat dan efektif. Saat ini, belum ada vaksin yang benar-benar mampu mencegah penyebaran virus ini secara menyeluruh, sehingga pencegahan lebih difokuskan pada pengendalian epidemi melalui karantina wilayah, penggembalaan yang terkontrol, dan sterilisasi area peternakan yang terpapar. Penting juga dilakukan penelitian lebih dalam agar dapat ditemukan solusi jangka panjang, seperti pengembangan vaksin yang efektif dan metode biosecurity yang lebih ketat. Selain itu, pemerintah dan peternak harus bekerjasama dalam melakukan langkah preventif yang komprehensif agar wabah ini tidak terus menyebar dan menyebabkan kerugian besar.
Salah satu aspek penting dalam memahami penyakit ini adalah mengetahui keberadaan dan karakteristik virus penyebabnya, yaitu ASF Virus (ASFV). Virus ini memiliki kemampuan untuk bertahan lama di lingkungan dan menyebar melalui berbagai jalur, sehingga penanganan yang efektif sangat diperlukan. ASFV secara alami ditemukan pada tungau lunak dari genus Ornithodoros dan babi hutan. Di Afrika, babi hutan yang terinfeksi mampu menyebarkan virus ini selama waktu yang cukup lama tanpa menunjukkan gejala tertentu. Kehadiran virus ini sulit dilacak karena keberadaannya yang tersembunyi dan mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras. Komplekitas genom dan struktur partikel virus ASFV menyebabkan virus ini mampu hidup berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di luar tubuh inang dan di lingkungan sekitar. Penyebaran virus ASF pada babi domestik bisa dilakukan dengan dua cara utama. Pertama, secara langsung melalui kontak langsung antara babi yang terinfeksi dengan babi sehat, termasuk melalui tubuh cairan, ludah, tinja, atau darah dari hewan yang sakit. Kedua, secara tidak langsung melalui kontak dengan objek yang terkontaminasi virus, seperti peralatan, kandang, dan alat transportasi. Bahkan, gigitan tungau lunak Ornithodoros juga dapat menjadi jalur transmisi tidak langsung yang cukup efektif. Waktu inkubasi ASF sendiri berkisar antara 3 hingga 15 hari sejak babi terinfeksi. Tingkat keparahan penyakit bergantung pada kondisi kesehatan inang dan tingkat virulensi virus yang menyerang. Penyakit ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari akut, subakut, kronis, hingga perakut (Li et al., 2022). Gejala klinis ASF beragam dan seringkali sulit dikenali secara pasti, terutama pada tahap awal. Babi yang terinfeksi biasanya mengalami demam tinggi, penurunan nafsu makan, lesu, muntah, diare, serta perubahan warna kulit seperti kemerahan atau perdarahan. Bahkan, babi bisa meninggal mendadak tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Beberapa kasus menunjukkan bahwa babi dalam kondisi parah kehilangan kemampuan bergerak dan mengalami gangguan sistem imun yang serius.
Untuk memastikan keberadaan virus ASF, dilakukan berbagai prosedur laboratorium seperti isolasi virus, tes PCR (Polymerase Chain Reaction), dan serologi. Metode ini sangat penting karena virus ASF tidak berpotensi menular ke manusia, tetapi keberadaannya sangat berbahaya bagi populasi babi dan ekonomi peternakan secara luas (Penrith et al., 2024). Walaupun virus ASF tidak menular ke manusia, dampaknya sangat besar terhadap peternakan babi di seluruh dunia. Penyebarannya yang cepat dan tingkat kematiannya yang tinggi dapat menimbulkan kerugian besar bagi peternak, terutama di daerah yang sangat bergantung pada usaha peternakan babi. Banyak peternak kecil mengalami kerugian finansial yang besar akibat kematian ternak masal dan penutupan pasar hewan selama wabah. Melihat situasi tersebut, berbagai negara telah melakukan tindakan antisipatif untuk membatasi penyebaran virus ASF. Upaya ini termasuk peningkatan biosekuriti, pembatasan transportasi babi dan produk olahannya, serta edukasi kepada peternak mengenai praktik peternakan yang aman dan sehat (Kim et al., 2021). Karena saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang mampu menghilangkan virus ASF secara definitif, pengendalian outbreak lebih banyak melalui diagnosis cepat dan pencegahan ketat. Langkah strategis ini meliputi pemeriksaan laboratorium secara rutin, karantina wilayah, serta pengelolaan lingkungan yang bersih dari infeksi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa saat babi terinfeksi ASF, virus masuk melalui tonsil atau mukosa faring dorsal, kemudian menyebar ke kelenjar getah bening mandibula dan retropharyngeal. Dari lokasi ini, virus akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah (viremia). Penyebaran virus ini sangat cepat dan didukung oleh kemampuan virus untuk menginfeksi monosit dan makrofag, serta berkembang biak di dalam sel-sel tersebut. Virus ASF juga mampu masuk ke dalam sel melalui proses endositosis yang dimediasi oleh reseptor spesifik.
Gejala penyakit ASF muncul dalam waktu antara tiga hingga lima belas hari setelah infeksi. Penyakit ini muncul dalam empat bentuk utama: akut, subakut, kronis, dan perakut. Bentuk akut biasanya ditandai oleh gejala berat seperti demam tinggi, tonjolan pembengkakan, pendarahan internal, dan kematian mendadak. Pada saat autopsi, ditemukan lesi khas berupa splenomegali (pembesaran limpa) yang sangat parah akibat pendarahan hebat di dalam organ ini. Bentuk kronis terjadi dengan gejala yang lebih ringan dan berlangsung lebih lama, tetapi tetap berisiko tinggi menyebabkan kematian.
Pengendalian ASF sangat bergantung pada deteksi dini dan pengujian laboratorium yang akurat. Diagnosis dapat dilakukan melalui berbagai metode seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), isolasi virus, dan pengujian serologi. Pemeriksaan ini penting agar penyebaran virus dapat dideteksi sejak dini dan dilakukan langkah-langkah karantina serta pengendalian secara cepat. Penyebaran ASF pada babi domestik bisa terjadi secara langsung dari babi terinfeksi maupun melalui kontak dengan cairan tubuh babi sakit, seperti cairan hidung, darah, maupun tinja. Selain itu, penyebaran juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan objek yang terkontaminasi virus, seperti alat, kandang, kendaraan, maupun lingkungan yang terpapar virus. Saat ini, belum tersedia vaksin atau obat yang mampu menyembuhkan atau mencegah ASF secara efektif. Oleh karena itu, pengendalian wabah harus dilakukan melalui pengujian cepat, sanitasi lingkungan, dan penerapan biosekuriti yang ketat.
ASF merupakan penyakit yang sangat menular dan melintasi batas negara, sehingga membutuhkan penanganan yang bersifat koordinatif dan global. Kecepatan penyebarannya mengancam industri peternakan dunia, menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Negara-negara di seluruh dunia harus bekerja sama dalam pengawasan, pencegahan, dan pengendalian ASF. Penggunaan teknologi diagnostik yang cepat dan akurat, seperti PCR, serta penerapan langkah-langkah biosecurity yang ketat, menjadi kunci utama dalam mengatasi ancaman ini. ASF adalah pandemi yang menghantui dunia peternakan dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan hewan dan ketahanan pangan. Tanpa adanya vaksin dan pengobatan yang efektif, upaya utama adalah deteksi cepat dan pembersihan lingkungan dari virus.
Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes.
Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/african-swine-fever-a-highly-fatal-disease-that-is-spreading-glob





