Universitas Airlangga Official Website

Dermatitis Kontak pada Lansia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Dermatitis kontak adalah salah satu gangguan kulit keradangan yang paling umum terjadi akibat paparan agen eksternal. Dua jenis utama dermatitis kontak adalah dermatitis kontak alergi, yang ditandai dengan keradangan akibat paparan dengan alergen tertentu dan dermatitis kontak iritan, yang terjadi skibat reaksi iritasi.

Dermatitis kontak menempati peringkat ketiga sebagai gangguan kulit yang paling sering terjadi di Eropa dan kelima di Amerika Serikat. Di Eropa, angka kejadian dermatitis kontak adalah 15%, dengan angka tertinggi pada populasi berusia 35-50 tahun. Angka kejadian dermatitis kontak cukup tinggi di kalangan lansia, dengan 63,7% dari 600 pasien lansia didiagnosis menderita dermatitis kontak. Pembentukan kolagen dan sebum, serta kandungan air dan lemak yang menurun seiring bertambahnya usia, dapat menyebabkan kulit kering dan kulit sensitif. Dua pertiga lansia yang mengalami kulit kering, disertai dengan gatal menahun, di mana kulit kering merupakan salah satu faktor predisposisi dermatitis kontak pada populasi lansia.

Secara umum, dermatitis kontak biasanya ditandai dengan gatal, rasa seperti terbakar, kemerahan, bengkak dan dapat disertai dengan infeksi bernanah yang terutama terlokalisasi di tempat paparan. Bahan penyebab alergi yang paling umum berupa logam (nikel, merkuri, paladium), karet, pewarna rambut, campuran wewangian, dan bahan oles pada kulit (balsam, campuran paraben, krim). Udara kering, air panas, agen pembersih, dan tekanan mekanis sering memicu dermatitis kontak iritan. Peningkatan kejadian inkontinensia urin (mengompol) pada pasien lanjut usia dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya dermatitis kontak pada area popok, akibat kerusakan sawar kulit.

Penurunan kualitas hidup terkait kesehatan akibat dermatitis kontak sangat berkaitan dengan intensitas dan durasi gejala, terutama keluhan gatal yang sangat mengganggu. Gatal menahun dapat menyebabkan kesulitan dalam bekerja dan berdampak pada gangguan tidur yang mengakibatkan kecemasan dan depresi. Kondisi ini merupakan alasan tersering dari pasien untuk datang berobat ke dokter.

Data epidemiologi menunjukkan angka kejadian dermatitis kontak pada lanjut usia di unit rawat jalan dari tahun 2019 hingga 2021 adalah 0,99% (90 dari 9.063 kasus penyakit kulit pada lansia). Dermatitis kontak pada lansia terjadi pada 18,33% dari semua pasien dermatitis kontak (n=491). Dalam penelitian ini, alergen yang paling sering adalah kosmetik (40,1%) dan minyak herbal (33,3%), diikuti oleh sandal karet (9,9%), salep (9,9%), dan pewarna rambut (6,7%). Sedangkan penyebab reaksi iritasi kulit  berupa minyak herbal (25,9%), deterjen (22,4%), dan sabun cuci piring (18,9%).

Dari 90 pasien dermatitis kontak, gejala awal berupa  gatal (93,3%), ruam (72,2%), dan rasa seperti terbakar (24,4%).  Distribusi bagian tubuh yang terpengaruh adalah tangan (36,7%) dan wajah (24,4%), diikuti oleh tungkai bawah, tungkai atas, kaki, secara umum, dan perut.

Hasil penelitian ini menggarisbawahi perlunya peningkatan kesadaran mengenai kerentanan sawar kulit pada lansia dan pencegahan yang bertujuan untuk meminimalkan kontak dengan bahan penyebab berupa alergen dan iritan. Edukasi pasien mengenai alat pelindung diri yang tepat, strategi pencegahan, dan penggunaan pelembap secara rutin sangat penting dalam mengurangi kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup.

Available at:

Damayanti, Aulia Anisa Putri, Raden Argarini, Sylvia Anggraeni, Fitra Tri Kurniasari, Safira Fakhrizah Wildani. Profile of Contact Dermatitis in Elderly Patients. Journal of Pakistan Association of Dermatologists 2025; 35 (4)