Kanker paru merupakan kanker nomer dua terbanyak di seluruh dunia. Kanker ini juga merupakan penyebab kematian nomer satu akibat kanker. Biasanya penderita kanker paru baru memeriksakan diri ke dokter setelah kanker mencapai stadium lanjut. Hal itu dikarenakan penderita tidak merasakan gejala pada stadium awal. Kesulitan yang dihadapi dalam mendiagnosis kanker paru pada stadium awal adalah lokasi tumor yang sulit dijangkau.
Lokasi di daerah pinggir atau di tengah rongga dada sulit untuk dijangkau dengan peralatan yang ada. Oleh karena itu, pendekatan molekuler untuk membantu deteksi kanker paru atau menentukan hasil klinis dapat dikembangkan pada wilayah tertentu dari tumor paru-paru, baik yang berlokasi di regio sentral maupun perifer di rongga dada.
Salah satu pendekatan yang mungkin untuk mendiagnosis pasien dengan tumor paru di daerah perifer adalah dengan melakukan biopsi inti. Biopsi inti dapat dilakukan di rongga dada dengan panduan USG atau tomografi komputer. Spesimen yang diperoleh melalui biopsi inti cukup memadai dan dapat digunakan untuk menentukan jenis diagnosis histopatologi kanker paru dan juga berkontribusi dalam pemilihan terapi yang tepat untuk pasien tumor paru. Selain itu, risiko komplikasi seperti pneumotoraks atau hemoptisis pada biopsi inti dapat dikurangi. Oleh karena itu, sampel dari biopsi inti tumor paru-paru dapat digunakan dalam diagnosis molekuler berdasarkan teknik PCR.
Antigen terkait melanoma (MAGE) adalah antigen tumor yang pertama kali ditemukan pada pasien melanoma. MAGE A termasuk dalam golongan antigen kanker/testis yang diekspresikan pada sel kanker dan sel germinal, termasuk testis, ovarium janin, dan plasenta. Gen MAGE A dilaporkan dapat dideteksi pada berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru.
Penelitian kami sebelumnya telah mengidentifikasi ekspresi MAGE A1-10 melalui nested PCR menggunakan primer universal yaitu MF10/MR10 dan MF10/MR12. Oleh karena itu, identifikasi beberapa subtipe MAGE A yang terdiri dari MAGE A1 hingga MAGE A10 (MAGE A1-10) dapat meningkatkan nilai diagnostik dan menjadi penanda prediktor perkembangan kanker.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi melanoma antigen (MAGE) A yaitu MAGE A1-10, yang terdiri dari MAGE A1, MAGE A2, MAGE A3, MAGE A4, MAGE A5, MAGE A6, MAGE A8, MAGE A 9, dan MAGE A10 pada tumor paru yang berlokasi di perifer dan menganalisis hubungannya dengan diagnosis patologi. Selain itu juga membandingkan dengan penelitian sebelumnya yang mengidentifikasi enam subtipe keluarga gen MAGE A yaitu MAGE A1 sampai MAGE A6. Sampelnya adalah potongan kecil dari spesimen biopsi inti dari tumor paru perifer.
Penelitian potong lintang dilakukan pada 67 potongan kecil tumor paru perifer yang diperoleh melalui biopsi inti dari pasien dengan diagnosis klinis seperti tumor paru dan mediastinum. Spesimen dibagi menjadi dua, satu untuk melakukan diagnosis histopatologi dan terakhir untuk pemeriksaan mRNA MAGE A. Polymerase chain reaction (PCR) dilakukan menggunakan primer universal, MF10/MR10 dan MF10/MR12. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik statistik yang sesuai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 64,2 % specimen ditemukan sel kanker dan 35,8 % spesimen tidak ditemukan sel kanker. MAGE A1-10 dapat dideteksi pada 70,1 % pasien dan MAGE A1-6 ditemukan pada 37,3 % pasien. Pada specimen yang ditemukan sel kanker, MAGE A1-10 dapat dideteksi pada 80 % pasien dan MAGE A1-6 terdeteksi pada 46,3% pasien. Pada specimen yang tidak ditemukan sel kanker, MAGE A1-10 dapat dideteksi pada 53,9% pasien dan MAGE A1-6 dapat dideteksi pada 23,1% pasien. Pemeriksaan MAGE A1-A10 ini mempunyai sensitifitas sebesar 80,5%, spesifisitas sebesar 46,2% dan nilai akurasi diagnosis sebesar 67,2%.
Pemeriksaan ekspresi MAGE A1-10 dengan teknik nested PCR dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk mendeteksi sel kanker pada spesimen dari potongan kecil spesimen biopsi inti kanker paru perifer. Oleh karena itu, uji MAGE A1-10 dapat bermanfaat untuk membantu diagnosis keganasan pada tumor paru-paru.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa MAGE A1-10 paling sering terdetekadi dan dikaitkan dengan temuan histopatologi. Selain itu, deteksi MAGE A1 sampai MAGE A10 ini merupakan pemeriksaaan yang ini lebih sensitif dan spesifik, serta memiliki akurasi diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan tes lainnya. Oleh karena itu, uji MAGE A1-10 dapat meningkatkan akurasi diagnosis keganasan pada tumor paru perifer.
Penulis: Dr. Gondo Mastutik, drh., M.Kes.
Link artikel pada web jurnal : https://journal.waocp.org/article_90704.html





