Kanker kolorektal/Colorectal Cancer (CRC) adalah salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi, dengan tingkat kejadian dan kematian yang tinggi secara global. Perkembangan penyakit CRC yang membutuhkan waktu panjang, memungkinkan dilakukannya skrining potensial dan identifikasi penyakit secara dini. Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pasien kanker meningkat ketika diagnosis ditegakkan dibuat pada tahap sebelumnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkembangan CRC, termasuk lesi pra-kankernya, dipengaruhi tidak hanya oleh faktor genetik tetapi juga oleh variabel epigenetik. Penelitian menunjukkan bahwa epigenetika memainkan peran penting dalam perkembangan kanker, khususnya CRC. Meskipun pendekatan ini masih berada pada tahap awal dan masih menghadapi tantangan
Peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga melakukan studi pustaka untuk mengkaji bukti terkini yang mendukung tentang biomarker genetik dan epigenetik untuk skrining dan diagnosis. Selain itu, studi pustaka ini juga membahas kelayakan penerjemahan metodologi tersebut ke dalam lingkungan klinis. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan di Journal Medicine and Life.
Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat beberapa biomarker yang berpotensi dan menjanjikan yaitu: metilasi vimentin (VIM), syndecan-2 (SDC2), dan septin 9 (SEPT9). Namun, penerapannya sebagai alat skrining dan diagnostik, khususnya untuk CRC tahap awal, belum sepenuhnya optimal dan uji efektivitasnya memerlukan validasi pada populasi pasien multicenter yang besar. Selain itu, beberapa perubahan epigenetik yang diamati pada CRC juga ditemukan di
tumor padat lainnya di luar CRC. Biomarker tunggal yang sesuai untuk semua gejala CRC sulit ditemukan karena heterogenitas molekuler CRC yang signifikan, sehingga sulit untuk mendeteksinya dan sulit untuk menentukan metode mana yang lebih unggul. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kombinasi teknik diagnostik dapat meningkatkan sensitivitas. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah biomarker genetik dan epigenetik dapat berfungsi sebagai tes skrining mandiri biomarker multi gen, atau apakah keduanya harus digabungkan dengan tes lain seperti: guaiac fecal occult blood test (gFOBT) dan fecal immunochemical test (FIT). Oleh karena itu, evaluasi sistematis terhadap tes dan studi klinis yang tersedia sangat penting untuk menentukan pendekatan skrining yang optimal bagi pasien. Meskipun hasil studi pustaka menunjukkan bahwa biomarker genetik dan epigenetik memiliki potensi yang signifikan untuk skrining non-invasif dan mendiagnosis pasien CRC, akan tetapi masih banyak tantangan yang harus dihadap dan diatasi sebelum biomarker ini dapat diterapkan secara efektif dalam dunia klinis. Salah satu kendala yang mungkin akan muncul adalah banyaknya jalur yang terganggu dikarenakan adanya heterogenitas CRC. Untuk mengatasi tantangan ini, pendekatan yang menjanjikan adalah dengan melibatkan pemanfaatan panel biomarker daripada hanya mengandalkan satu biomarker saja. Alternatifnya, menggabungkan biomarker ini dengan metode yang sudah ada, seperti FIT. Sehingga, dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas, serta menghindari keterbatasan yang ditimbulkan oleh heterogenitas CRC. Skala besar uji coba multicenter yang melibatkan beragam populasi diperlukan untuk uji efektifitas dan aplikasi klinis di masa depan.
Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp-PD-KGEH., Ph.D





