Universitas Airlangga Official Website

Deteksi Kanker Serviks Pemeriksaan IVA

Ilustrasi kanker serviks (sumber: Sehatqu)

Kanker serviks, juga dikenal sebagai kanker leher rahim, adalah jenis kanker yang berkembang dari jaringan leher rahim (serviks) pada wanita. Leher rahim adalah bagian bawah dari rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Kanker serviks biasanya berkembang secara lambat selama beberapa tahun, dimulai dengan perubahan pada sel-sel leher rahim yang dapat menjadi lesi prakanker atau displasia sebelum akhirnya menjadi kanker.

Kanker serviks biasanya disebabkan oleh infeksi virus human papillomavirus (HPV), terutama jenis HPV tertentu yang disebut HPV tipe 16 dan 18. Faktor-faktor risiko lainnya termasuk merokok, memiliki sistem kekebalan yang lemah, memiliki banyak pasangan seksual, melakukan hubungan seksual pada usia muda, dan riwayat paparan terhadap DES (dietilstilbestrol) yang merupakan obat yang digunakan pada masa lalu.

Gejala kanker serviks pada tahap awal mungkin tidak terlihat, tetapi gejala yang mungkin muncul ketika kanker telah berkembang termasuk perdarahan setelah hubungan seksual, pendarahan diantara periode menstruasi, nyeri panggul atau nyeri saat berhubungan seksual, dan perubahan pada pola menstruasi.

Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) memiliki beberapa manfaat bagi wanita, terutama dalam deteksi dini kanker leher rahim (serviks) dan kondisi prakanker yang disebut lesi prakanker. Berikut adalah beberapa manfaatnya:

  1. Pemeriksaan IVA dapat membantu dalam mendeteksi dini perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim yang dapat menjadi tanda awal kanker serviks. Dengan mendeteksi kondisi ini pada tahap awal, perawatan dan intervensi medis yang tepat dapat dilakukan lebih awal, meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi risiko komplikasi
  2. Pencegahan kanker serviks: Dengan mengidentifikasi lesi prakanker atau sel-sel abnormal, pemeriksaan IVA memungkinkan untuk melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan, seperti kolposkopi atau pengangkatan jaringan yang terkena melalui prosedur seperti pengikisan (eksisi) atau ablasi
  3. Pemeriksaan IVA juga dapat membantu dalam pemantauan kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk deteksi dini kanker serviks, pemeriksaan ini juga dapat mengidentifikasi kondisi lain yang mungkin mempengaruhi kesehatan reproduksi wanita, seperti infeksi menular seksual (IMS) atau perubahan hormonal
  4. Melalui proses pemeriksaan IVA, wanita dapat mendapatkan informasi yang lebih baik tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Ini dapat mendorong kesadaran dan pengetahuan yang lebih baik
  5. Dengan mendeteksi kanker serviks pada tahap awal atau bahkan sebelum menjadi kanker, pemeriksaan IVA berpotensi untuk mengurangi angka kematian akibat penyakit ini. Pada saat yang sama, pemeriksaan rutin juga dapat membantu mengurangi angka kecacatan dan biaya perawatan kesehatan yang terkait dengan pengobatan lanjutan kanker serviks. 

Cara pencegahan kanker serviks antara lain:

  1. Vaksinasi HPV adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi HPV, yang merupakan penyebab utama kanker serviks. Vaksin HPV direkomendasikan untuk anak perempuan dan laki-laki pada usia 9 hingga 26 tahun. Idealnya, vaksinasi dilakukan sebelum seseorang terlibat dalam aktivitas seksual, karena vaksin bekerja lebih baik saat diberikan sebelum terpapar HPV
  2. Skrining rutin sangat penting untuk mendeteksi perubahan sel-sel prakanker pada leher rahim sebelum menjadi kanker atau mendeteksi kanker serviks pada tahap awal ketika lebih mudah untuk diobati. Dua metode utama skrining adalah tes Pap smear dan tes HPV. Tes Pap smear melibatkan pengambilan sampel sel dari leher rahim untuk dianalisis di laboratorium guna mencari tanda-tanda perubahan sel prakanker atau kanker. Sedangkan Tes HPV mendeteksi keberadaan virus HPV pada sel-sel leher rahim. Tes ini dapat membantu mengidentifikasi wanita yang berisiko tinggi untuk mengembangkan kanker serviks
  3. Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) juga dapat digunakan sebagai metode skrining tambahan di daerah yang sumber daya medisnya terbatas. Pemeriksaan ini melibatkan penggunaan cairan asam asetat untuk mengidentifikasi perubahan sel-sel abnormal pada leher rahim
  4. Menghindari faktor-faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker serviks, seperti merokok, memiliki banyak pasangan seksual, melakukan hubungan seksual pada usia muda, dan memiliki sistem kekebalan yang lemah
  5. Penggunaan kondom dapat membantu melindungi dari infeksi HPV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya, meskipun tidak sepenuhnya mencegah penularan HPV; 6) Menerapkan gaya hidup sehat, termasuk makan makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, dan menjaga berat badan yang sehat, dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mengurangi risiko kanker serviks serta berbagai penyakit lainnya.

Perawatan untuk kanker serviks dapat meliputi pembedahan, radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi dari kedua atau semua metode tersebut, tergantung pada stadium dan karakteristik individu dari kanker tersebut.

Penulis: Nunik Puspitasari

Detail tulisan ini dapat diakses di: 

https://e-journal.unair.ac.id/JBK/article/view/42295/26606

Hutabarat AN, Puspitasari N. Spatial Autocorrelation Analysis on Coronavirus Transmission and Population Density in East Java Province 2020. J Biometrika dan Kependud [Internet]. 2023;12(2):230–8. Available from: https://doi.org/10.20473/jbk.v12i2.2023.230-238

DOI Number: https://doi.org/10.20473/jbk.v12i2.2023.230-238