Pangan merupakan kebutuhan vital bagi kelangsungan hidup manusia. Sumber pangan dapat berasal dari hewan ternak maupun tumbuhan dan berfungsi sebagai sumber energi, protein, vitamin, dan mineral. Bahan pangan yang berasal dari hewan ternak dapat berupa daging, susu, dan telur. Kebutuhan pangan asal hewan ternak, khususnya daging, terus meningkat. Upaya pemenuhan kebutuhan daging antara lain dengan mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya ternak lokal serta melakukan diversifikasi berbagai jenis unggas penghasil daging, salah satunya berasal dari bebek.
Di Indonesia, bebek merupakan salah satu unggas yang banyak dipelihara oleh masyarakat kelas menengah ke bawah di pedesaan. Hal ini dikarenakan bebek memiliki banyak manfaat dan tidak rumit dalam pemeliharaannya. Masalah utama dalam usaha peternakan adalah penurunan produksi yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, dan parasit. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dapat menyebar dari ternak ke manusia melalui berbagai cara, termasuk melalui kontaminasi makanan. Bebek dan unggas lainnya sering menjadi pembawa bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter jika terkontaminasi dan dikonsumsi oleh manusia. Selain itu, beberapa strain Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae juga dipastikan membawa gen yang resistan terhadap antibiotik tertentu. Bakteri Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu patogen yang sering ditemukan pada unggas dan dapat menyebabkan berbagai penyakit pada hewan dan manusia.
Beberapa strain bakteri ini diketahui membawa gen blaTEM yang mengkode produksi enzim extended spectrum beta-lactamase (ESBL). Enzim-enzim tersebut dapat menghidrolisis antibiotik beta-laktam, seperti penisilin dan sefalosporin, sehingga bakteri menjadi resistan terhadap antibiotik tersebut. Saat ini, banyak laporan tentang peningkatan K. pneumoniae yang menunjukkan resistensi multiobat (MDR) termasuk karbapenem, ESBL, dan fluorokuinolon. Telah banyak laporan kasus kematian manusia di seluruh dunia akibat infeksi K. pneumoniae yang resistan terhadap antibiotik. Keberadaan K. pneumoniae yang resistan terhadap antibiotik dan dapat menghasilkan ESBL dengan gen blaTEM pada bebek cukup mengkhawatirkan dan dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Berdasarkan kerangka konseptual di atas, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi ilmiah bagi masyarakat dan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap biosekuriti di sekitar tempat tinggal yang merupakan salah satu tujuan kesehatan masyarakat veteriner.
Peternakan bebek merupakan tahap awal yang penting dalam rantai pasokan daging bebek dan penggunaan antibiotik digunakan untuk mengendalikan patogen pada ternak. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat memfasilitasi evolusi strain yang resistan terhadap banyak obat. Kotoran bebek juga merupakan reservoir potensial untuk gen resistensi antibiotik. Oleh karena itu, peternakan bebek dapat memainkan peran penting dalam produksi dan penyebaran strain MDR. Waktu perawatan yang lebih lama dan penyembuhan yang lebih sulit disebabkan oleh banyaknya laporan tentang meningkatnya resistensi multiobat K. pneumoniae, yang mencakup resistensi terhadap karbapenem, ESBL, dan fluoroquinolone. Enterobactericeae yang berasal dari manusia dan ternak dapat berfungsi sebagai reservoir untuk penyebaran resistensi antibiotik.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Cina menyatakan bahwa 186 dari 215 (86,51%) strain Enterobactericeae yang diisolasi dari peternakan bebek di Zhejiang resistan terhadap banyak obat. Bakteri tersebut menunjukkan resistensi terhadap tetrasiklin, oksasilin, amoksisilin, trimetoprim, dan kloramfenikol. Sebagian besar dari keenam antibiotik ini dikategorikan sebagai “antimikroba yang sangat penting” bagi manusia. Klebsiella pneumoniae memiliki tingkat resistensi yang tinggi terhadap sefazolin, amoksisilin-asam klavulanat, sefuroksim, dan sefepim. Resistensi terhadap antibiotik ini berasal dari air yang merupakan sumber daya bersama antara hewan liar, hewan peliharaan, ternak, dan manusia. Penelitian tambahan juga menunjukkan bahwa area umum seperti tanah dan air sangat penting untuk penyebaran resistensi antibiotik. Isolat Klebsiella pneumoniae dalam penelitian ini resisten terhadap antibiotik sefalozin, trimetoprim, Levoxacin, Strepromycin, Penisilin, dan Eritromisin.
Klebsiella spp. secara alami sensitif atau sedang terhadap penisilin, semua aminoglikosida, kotrimoksazol, tetrasiklin, kuinolon, kloramfenikol, trimetoprim, dan nitrofurantoin. Isolat Klebsiella pneumoniae juga menunjukkan resistensi terhadap antibiotik aminoglikosida (Streptomisin). Resistensi ini dapat dikaitkan dengan efektivitas penggunaan Streptomisin dalam pengobatan hewan dan manusia di Indonesia. Penanganan yang baik adalah pemberian kombinasi antibiotik Penisilin dan Streptomisin, namun perlu dilakukan pengawasan penggunaan antibiotik Streptomisin dalam penanganan penyakit hewan di Indonesia. Pada penelitian ini, bakteri K. pneumoniae juga menunjukkan resistensi terhadap antibiotik beta laktam seperti penisilin dan sefalozin. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa K. pneumoniae yang diisolasi dari hewan peliharaan menunjukkan resistensi sebesar 40% terhadap antibiotik beta laktam termasuk sefalosporin, fluorokuinolon, dan aminoglikosida.
Klebsiella pneumoniae dikenal sebagai patogen yang dapat terbawa bersama makanan seperti sayuran segar, daging, dan jajanan kaki lima. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak wabah bawaan makanan yang disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae telah dilaporkan di banyak negara. Keberadaan bakteri yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat dan hewan. Keberadaan bakteri, khususnya K. pneumoniae, dapat mempersulit pemilihan pengobatan infeksi bakteri baik pada manusia maupun hewan. Kebijakan dan pengawasan veteriner penting untuk diterapkan dalam penanganan penyakit dan ternak di Indonesia. Berdasarkan fenomena tersebut, penting bagi semua pihak untuk berperan dalam konsep One Health guna menghentikan penyebaran MDR agar tidak semakin parah. Sebuah strategi yang disebut One Health mengeksplorasi hubungan antara kesehatan lingkungan, hewan, dan manusia. Kesehatan manusia berkaitan erat dengan kesehatan hewan dan lingkungan. Tiga konsep panduan yang mendasari pendekatan One Health: kerja sama, koordinasi, dan komunikasi antara lingkungan, kesejahteraan hewan, kesehatan manusia, dan bidang lainnya. Tidak ada satu organisasi atau sektor pun yang mampu menyelesaikan masalah sendirian, tetapi memerlukan kerja sama dan kolaborasi dari semua sektor. Diharapkan pihak kesehatan manusia dan hewan dapat menerapkan higiene dan sanitasi yang baik di lingkungan sekitar dan sebagai tenaga ahli kesehatan manusia/hewan yang berwenang melakukan tindakan pengobatan, mereka dapat menggunakan antibiotik secara lebih bijak untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut bakteri yang resistan terhadap antibiotik.
Disimpulkan bahwa Klebsiella pneumoniae ditemukan pada usapan kloaka bebek yang diambil dari peternakan bebek di tiga kecamatan berbeda, yaitu kecamatan Paras, kecamatan Karang Turi, dan kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang, sebanyak 100% (21/21) sampel (100%) isolat resistan terhadap antibiotik dan 76,19% (16/21) isolat resistan terhadap berbagai obat. Penelitian ini menunjukkan bahwa 76,2% (16/21) sampel resistan terhadap chepalozin, trimethoprim, levoxacin, streptomisin, penisilin, dan eritromisin. Adanya bakteri yang resistan terhadap berbagai jenis antibiotik merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan. Kebijakan dan pengawasan veteriner penting untuk dilaksanakan dalam penanganan penyakit dan ternak di Indonesia.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Naomi Lan Noviana Thesia, Aswin Rafif Khairullah, Mustofa Helmi Effendi, Wiwiek Tyasningsih, Yulianna Puspitasari, Susmitha Nur Ahadini, Ikechukwu Benjamin Moses, Sheila Marty Yanestria, Katty Hendriana Priscilia Riwu, Wasito Wasito, Zein Ahmad Baihaqi, and Riza Zainuddin Ahmad. Detection of multidrug-resistant Klebsiella pneumoniae isolated from duck cloacal swab in Jombang, Indonesia. Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(1): 300-306. DOI: 10.5455/OVJ.2025.v15.i1.28





