Resistensi antibiotik menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat secara global. Gen resistensi antibiotik dapat menyebar antar bakteri melalui transfer gen horizontal, dan resistensi silang dapat disebabkan oleh paparan antibiotik dari kelompok yang berbeda. Resistensi terhadap antibiotik menyebabkan berkurangnya efikasi pengobatan, penyebaran infeksi yang lebih luas, angka kematian yang lebih tinggi, peningkatan biaya perawatan kesehatan, dan tantangan dalam pengembangan antibiotik baru.
Penularan bakteri resisten antibiotik dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung melalui air limbah, pupuk kandang, tanah, aerosol, polusi, serta konsumsi susu, daging, dan tanaman. Escherichia coli adalah bakteri utama yang berkontribusi terhadap penyebaran resistensi antibiotik. Escherichia coli dan bakteri gram negatif lainnya termasuk dalam produk famili Enterobacteriaceae extended-spectrum β-lactamase (ESBL) sebagai salah satunya mekanisme resistensi. Salmonella sp. dan Klebsiella pneumoniae juga dapat menghasilkan enzim ESBL. Enzim β-laktamase dikenal sebagai spektrum β-laktamase dapat menghidrolisis penisilin, dan sefalosporin generasi ketiga, dan aztreonam (kecuali sefamisin dan karbapenem). Namun, asam klavulanat dapat menekan aktivitasnya.
E. coli penghasil ESBL merupakan ancaman kesehatan dan indikator survei epidemiologi resistensi antibiotik menggunakan pendekatan One Health.
Bakteri Escherichia coli penghasil ESBL dapat menyebar melalui sejumlah jalur, termasuk memakan daging yang terkontaminasi, bersentuhan dengan kotoran di lingkungan, dan penularan dari manusia ke hewan. Kontaminasi dari unggas yang terinfeksi bakteri penghasil ESBL di pasar tradisional dapat mengakibatkan manusia terpapar bakteri resisten antibiotik di pasar. Lingkungan yang buruk meningkatkan penyebaran E. coli penghasil ESBL, yang dapat bertahan dalam bentuk aerosol di udara. Bakteri penghasil ESBL juga dapat resisten terhadap antibiotik aminoglikosida, fluorokuinolon, tetrasiklin, kloramfenikol, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa E. coli yang resistan terhadap berbagai obat (MDR) juga menghasilkan ESBL yang diisolasi dari unggas di seluruh dunia.
Tiga gen utama yang mengkode ESBL adalah sefotaksim (CTX-M), variabel sulfhidril (SHV), dan Temoneira (enzim β-laktamase kelas A yang pertama kali diidentifikasi pada Escherichia coli) (TEM). CTX-M ditransfer dari sebuah plasmid. Bagaimana CTX-M didistribusikan secara global masih terus berkembang. Gen-gen ini telah terdeteksi pada manusia, hewan, dan lingkungan; Oleh karena itu, diperlukan pendekatan untuk mengendalikan masalah ini. Escherichia coli yang menghasilkan ESBL dapat dideteksi pada manusia dan hewan yang menghasilkan makanan, seperti bebek. Ada kemungkinan bahwa bebek mengandung bakteri berbahaya yang dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit zoonosis. Beberapa laporan E. coli penghasil ESBL pada bebek berasal dari Thailand, sebesar 36,6%; bebek liar di Jerman, 4,26%; bebek di Korea, 4,1%; dan satu dari 10 isolat E. coli di pasar hidup Surabaya mengandung gen TEM dan CTX-M.
Bebek merupakan produk pangan yang sering dikonsumsi di Surabaya, Indonesia. Peningkatan konsumsi daging bebek di Indonesia menjadi perhatian keamanan pangan. Peran bebek sebagai reservoir penyebaran isolat AMR memerlukan investigasi menyeluruh untuk menetapkan signifikansinya, terutama untuk isolat penghasil ESBL. Oleh karena itu, langkah awal penelitian menggunakan usap kloaka untuk memastikan keberadaan gen CTX-M sebagai gen pengkode utama ESBL harus dilakukan. Identifikasi masalah ini memungkinkan pengembangan intervensi strategis yang bertujuan untuk mengurangi prevalensinya, terutama melalui kebijakan yang mengatur penggunaan antibiotik yang bijaksana dan bijaksana dalam peternakan unggas.
Hasil isolasi dan identifikasi 144 sampel usap kloaka bebek di pasar hewan hidup Surabaya menunjukkan 120 sampel (83,33%) positif E. coli. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri E. coli merupakan salah satu anggota terpenting dari famili Enterobacteriaceae, yang bersifat komensal dan dapat bersifat patogen pada unggas. Hasil uji resistensi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa 14/120 (11,6%) pasien mengalami MDR. Uji resistensi melibatkan lima antibiotik: aztreonam, kloramfenikol, gentamisin, siprofloksasin, dan eritromisin. Uji resistensi dievaluasi menggunakan kelas antibiotik berspektrum luas.
Berdasarkan hasil penelitian lanjutan setelah konfirmasi MDR, uji fenotipe berupa DDST sebesar 50% (7/14) berasal dari lima area pasar ternak di Surabaya. Selanjutnya, konfirmasi uji genotipe CTX-M dilakukan menggunakan PCR dengan persentase dari Surabaya Pusat, Surabaya Barat, Surabaya Selatan, dan Surabaya Utara sebesar 1/1 (100%), sedangkan Surabaya Timur sebesar 0/2 (0%), sehingga total insiden ESBL yang diperoleh dari swab kloaka bebek di pasar hidup Surabaya adalah 5/7 (71,4%). Hasil negatif dari Surabaya Timur dapat disebabkan oleh keberadaan gen penghasil β-laktamase lainnya, seperti TEM dan SHV.
Namun, hasil ini lebih tinggi daripada yang telah dilakukan pada broiler di pasar tradisional Surabaya; yaitu, satu dari dua isolat memiliki gen CTX-M.
Jumlah isolat yang menjalani uji molekuler yang kecil (n = 7 ESBL-positif, n = 5 CTX-M-positif)
merupakan keterbatasan penelitian ini, yang membatasi generalisasi temuan. Oleh karena itu, hasil harus ditafsirkan dengan hati-hati, dan penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan cakupan geografis yang lebih luas disarankan untuk mengonfirmasi pola ini. Kondisi pasar ternak hidup dapat menyebarkan gen resistensi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa bakteri E. coli penghasil ESBL dapat berisiko tinggi dalam
produksi hewan penghasil pangan. Selain itu, E. coli penghasil ESBL berisiko menyebarkan gen resistensi dari manusia ke hewan atau sebaliknya, sehingga menimbulkan ancaman global terhadap kesehatan masyarakat. Keterbatasan penelitian ini adalah kurangnya perbandingan statistik antar lokasi pasar karena jumlah isolat per lokasi yang sedikit. Akibatnya, perbedaan potensial dalam prevalensi atau pola resistensi antarwilayah tidak dapat dievaluasi. Penelitian di masa mendatang dengan ukuran sampel yang lebih besar dan lebih seimbang diperlukan untuk menentukan keberadaan perbedaan tersebut.
Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan bukti awal mengenai keberadaan E. coli penghasil ESBL dan pembawa gen CTX-M pada bebek yang dijual di pasar tradisional di Surabaya, Indonesia. Temuan kami menunjukkan adanya E. coli penghasil ESBL pada bebek dari pasar hidup di Surabaya, yang menggarisbawahi perlunya pengawasan yang berkelanjutan. Namun, mengingat terbatasnya ukuran sampel untuk pengujian molekuler, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hasil ini.
Penulis korespondensi: Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., Mkes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Wiwiek Tyasningsih* , Mustofa Helmi Effendi, Aswin Rafif Khairullah , Budiastuti Budiastuti, Freshinta Jellia Wibisono, Irfan Alias Kendek, Mariana Febrilianti Resilinda, Saifur Rehman, Ikechukwu Benjamin Moses and Sheila Marty Yanestria. Molecular detection of CTX-M gene from ducks sold in traditional markets in Surabaya, Indonesia. Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(9): 4691-4699





