Lansia dan pralansia adalah kelompok populasi yang nyatanya mengalami peningkatan risiko infeksi klinis yang lebih berat serta kematian akibat COVID-19, apalagi mereka dengan komorbiditas penyakit seperti kardiovaskular dan diabetes. Oleh sebab itu, protokol kesehatan, seperti menghindari kerumunan dan berdiam di rumah diterapkan secara lebih ketat untuk mereka.
Gangguan kesehatan mental merupakan salah satu permasalahan serius yang muncul sebagai bagian krisis multidimensi global pada pandemi COVID-19, namun terabaikan di tengah chaos penanggulangan jumlah kasus yang kian meningkat dengan keterbatasan tenaga medis dan sarana prasarana Kesehatan. Penelitian di berbagai negara seperti di Cina, USA, Jerman, dan Iran menunjukkan peningkatan masalah kesehatan mental seperti depresi, anxietas dan stres selama pandemi COVID-19.
Selain kekhawatiran akan terkena infeksi COVID-19, lansia dan pralansia dengan komorbiditas mungkin merasa khawatir atas kondisi penyakit komorbiditasnya, yang mana saat COVID-19 tengah merajalela, mereka dibatasi untuk kunjungan kontrol ke rumah sakit, maupun mendapatkan obat secara rutin. Mereka juga dibatasi untuk bersilaturahmi dengan kerabat atau teman sehingga mungkin muncul rasa kesepian yang bisa menjadi pemicu depresi, belum lagi adanya orang terdekat yang meninggal akibat COVID-19. Kesemua kondisi ini ditambah lagi krisis ekonomi dan maraknya misinformasi bisa menjadi faktor pemicu gangguan kesehatan mental. Identifikasi gangguan kesehatan mental pada lansia dan pralansia dengan komorbiditas selama pandemi COVID-19 di Indonesia beserta faktor penentunya perlu untuk dilakukan. Diharapkan hasil penelitian dapat menggambarkan peta masalah kesehatan yang mendasari penentuan kebijakan kesehatan dan menjadi bagian dari perencanaan mitigasi wabah pandemi di masa depan.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4 September hingga 10 Oktober 2021, di kala terjadi gelombang kedua kenaikan kasus COVID-19. Sejumlah 105 responden dewasa berusia 45 tahun ke atas yang menderita penyakit komorbiditas COVID-19 bersedia berpartisipasi. Kuesioner penelitian daring disampaikan kepada peserta webinar “Kesehatan Mental Lansia” serta disebarkan melalui media sosial. Kuesioner terdiri atas 3 bagian butir pertanyaan, yakni mengenai 1) macam komorbiditas yang diderita beserta karakteristik sosiodemografis; 2) Dua puluh satu butir pertanyaan yang menilai level depresi, kecemasan dan stress dalam 2 minggu terakhir, dengan menggunakan instrumen depression, anxiety, stress scale (DASS-21); 3) Kunjungan ke rumah sakit dan pengobatan selama COVID-19.
Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yang menarik. Sekitar 28,6% responden memiliki lebih dari satu macam penyakit komorbid COVID-19. Penyakit kardiometabolik adalah yang paling banyak dilaporkan. Depresi ditemukan pada 14,3%, anxietas 41%, dan stress pada 17,1% responden. Jenis kelamin, status pernikahan dan level ekonomi merupakan faktor determinan terjadinya gangguan mental. Wanita melaporkan level gejala anxietas dan stress yang lebih berat dibandingkan pria. Sedangkan responden yang tidak menikah atau berstatus janda/duda melaporkan gejala depresi dan anxietas yang lebih berat daripada mereka yang menikah. Begitu pula responden dengan level ekonomi di bawah rata-rata mengalami level depresi yang lebih berat ketimbang status ekonomi menengah ke atas.
Responden yang jarang atau tidak pernah ke rumah sakit cenderung mengalami gejala depresi anxietas dan stress daripada yang sering ke rumah sakit untuk kunjungan rutin. Begitu juga, responden yang masih rutin mengonsumsi obat untuk penyakit komorbiditasnya cenderung kurang menunjukkan gejala anxietas dan stress. Selain itu, mereka yang memiliki lebih dari satu macam penyakit komorbiditas cenderung mengalami stress. Namun semua temuan yang terkait penyakit komorbiditas, kunjungan rumah sakit serta konsumsi obat tersebut tidak bermakna secara statistik. Meski demikian, hal ini patut diperhatikan mengingat 34% responden jarang atau tidak pernah melakukan kunjungan rumah sakit, dan 45% jarang atau tidak pernah mengonsumi obat untuk penyakit komorbiditasnya selama pandemi COVID-19.
Studi ini menyoroti dampak psikologis pandemi COVID-19 pada kelompok pra-lansia dan lansia dengan komorbiditas. Ditemukan prevalensi gejala depresi, kecemasan, dan stres yang cukup tinggi pada populasi ini. Beberapa subkelompok, seperti wanita, individu berstatus ekonomi rendah, serta mereka yang tidak menikah atau berstatus janda/duda lebih rentan mengalami masalah mental selama krisis multidimensi akibat pandemi.
Interaksi antara masalah fisik dan mental pada kelompok rentan ini dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas akibat COVID-19. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan layanan kesehatan yang komprehensif, termasuk strategi untuk memperkuat ketahanan mental. Pemanfaatan telemedisin dapat menjadi solusi untuk menjembatani keterbatasan layanan kesehatan selama pandemi, khususnya dalam pemberian perawatan psikiatri bagi individu dengan komorbiditas fisik dan mental.
Penulis: Nurina Hasanatuludhhiyah dr., M.Si
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Rahman, B. A. I., Hasanatuludhhiyah, N., Atika, Brihastami Sawitri, Erikavitri Yulianti, & Anastasia K. Sikora. (2025). Determinants of Mental Health Status in Indonesian Pre-elderly and Elderly with Comorbidities during COVID-19. Jurnal Psikiatri Surabaya, 14(1), 81–89. https://doi.org/10.20473/jps.v14i1.56640





