Universitas Airlangga Official Website

Di Balik Gorengan dan Makanan Manis: Perbedaan Risiko Metabolik Laki-laki dan Perempuan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya prevalensi metabolic syndrome (MetS) secara global maupun di Indonesia, yang berkaitan erat dengan obesitas, pola makan tidak sehat, dan gaya hidup sedentari. Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi MetS di Indonesia meningkat dalam satu dekade terakhir dan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Transisi nutrisi akibat urbanisasi dan perubahan sosial-ekonomi mendorong konsumsi makanan tinggi gula, lemak, garam, serta makanan olahan, disertai rendahnya konsumsi buah dan sayur. Meskipun hubungan antara konsumsi makanan tidak sehat dan risiko metabolik telah banyak diteliti, dimensi perbedaan jenis kelamin (sex differences) dalam hubungan tersebut masih terbatas dieksplorasi. Perbedaan biologis dalam distribusi lemak tubuh, metabolisme lipid, sensitivitas insulin, serta preferensi makanan berpotensi memodifikasi dampak pola makan terhadap profil metabolik. Oleh karena itu, studi ini bertujuan menganalisis hubungan konsumsi makanan tidak sehat dengan profil metabolik pada orang dewasa Indonesia serta menilai apakah hubungan tersebut dimodifikasi oleh perbedaan jenis kelamin menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023

Hasil penelitian pada 14.639 orang dewasa menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan dalam karakteristik metabolik maupun pola konsumsi makanan. Perempuan memiliki prevalensi obesitas sentral, MetS, dan kadar HDL rendah yang lebih tinggi, sedangkan laki-laki menunjukkan prevalensi hipertrigliseridemia, kadar HbA1c, dan prediabetes yang lebih tinggi

Dari sisi pola makan, laki-laki lebih sering mengonsumsi makanan manis, sementara perempuan lebih sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, makanan olahan, serta makanan yang mengandung MSG. Analisis regresi linear multivariat (dengan koreksi Bonferroni) menunjukkan bahwa konsumsi tinggi makanan berlemak berasosiasi dengan peningkatan BMI, trigliserida, dan LDL, terutama pada perempuan. Konsumsi makanan asin dan mengandung MSG berhubungan dengan profil lipid yang lebih buruk pada perempuan, sedangkan konsumsi makanan manis berkaitan dengan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik pada perempuan. Sebaliknya, konsumsi buah dan sayur yang cukup berasosiasi dengan BMI yang lebih rendah pada kedua jenis kelamin, meskipun terdapat variasi interaksi berdasarkan jenis kelamin

Secara implikatif, temuan ini menegaskan bahwa dampak konsumsi makanan tidak sehat terhadap risiko metabolik tidak bersifat seragam antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tampak lebih rentan terhadap dampak metabolik dari konsumsi makanan tinggi lemak, manis, asin, dan MSG, terutama terkait obesitas dan dislipidemia. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan intervensi gizi dan pencegahan penyakit tidak menular yang mempertimbangkan perbedaan biologis dan perilaku berbasis jenis kelamin. Strategi kesehatan masyarakat di Indonesia perlu mengintegrasikan edukasi pola makan sehat yang lebih terarah dan sensitif gender untuk menekan beban MetS yang terus meningkat.

Artikel lengkap dapat dibaca di: https://link.springer.com/article/10.1007/s44187-025-00782-z

Penulis: Arif Sabta Aji, A. J. Rohana, Alya Ayu Alvitananda, Qonita Rachmah, Bunga A. Paramashanti, Dian Caturini Sulistyoningrum & Adriyan Pramono

Penulis artikel popular: Qonita Rachmah