Diabetes Melitus atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan kencing manis, merupakan sindrom yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula di dalam darah saat puasa dan setelah makan. Kondisi meningkatnya kadar gula darah tersebut muncul akibat ketidakcukupan sekresi hormon insulin, baik absolut maupun relatif, yang berfungsi untuk membantu penyerapan glukosa ke dalam sel-sel tubuh untuk mengendalikan kadar gula darah.
Salah satu jenis Diabetes Melitus, yakni Diabetes Melitus tipe 1 (DMT1) banyak terjadi pada anak-anak. Data yang dikeluarkan oleh International Diabetes Federation (IDF), menyebutkan bahwa jumlah individu dengan DMT1 yang berusia < 20 tahun di Indonesia adalah sebanyak 13.311 dari total penderita DMT1 yakni, 41.817 atau sebanyak 31,38% dari seluruh penderita DMT1.
Diabetes Melitus tipe I (DMT1), disebabkan oleh kerusakan sel β, yang sering kali diakibatkan oleh proses autoimun. Ketika sel β pankreas tidak mengeluarkan insulin dalam jumlah yang cukup. Hormon insulin adalah hormone yang berperan dalam metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein di dalam tubuh manusia. Apabila tubuh seseorang memproduksi sedikit hormone insulin, atau bahkan tidak memproduksi sama sekali dalam jangka waktu yang panjang, tentu saja akan terdapat banyak konsekuensi metabolik yang tidak diinginkan, salah satunya adalah gangguan dalam tumbuh kembang. Gangguan pertumbuhan pada anak-anak dengan DMT1 dapat disebabkan oleh Insulin Like Growth Factor-1 (IGF-1). Faktor-faktor yang memengaruhi IGF-1 pada DMT1 sangat kompleks.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Divisi Endokrin Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo Surabaya kepada 71 penderita DMT1 menyimpulkan bahwa kadar IGF-1 pada anak- anak dengan DMT1 lebih rendah daripada anak-anak bukan penderita DMT1. Rendahnya kadar IGF-1 juga berkorelasi kuat dengan control glikemik yang buruk, durasi rawat inap yang lebih lama, dan terjadinya Diabetes Ketoasidoasis (DKA) yang lebih sering. DKA adalah komplikasi serius Diabetes Melitus yang terjadi akibat tingginya kadar asam darah tingkat tinggi yang disebut keton.
Diabetes Melitus tipe 1 pada anak-anak merupakan tantangan medis yang kompleks, dengan dampak signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kontrol gula darah yang optimal serta manajemen komprehensif bagi anak-anak dengan DMT1 untuk meminimalkan risiko masalah pertumbuhan dan komplikasi lainnya. Melalui pendekatan yang holistik, termasuk edukasi, pengawasan medis yang rutin, dan dukungan keluarga, kita dapat membantu anak-anak penderita DMT1 mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan potensi pertumbuhan yang maksimal. Kesadaran dan penelitian lebih lanjut di bidang ini tentunya akan sangat berkontribusi pada penanganan Diabetes Melitus tipe 1 di masa depan.
Penulis: Dr. Nur Rochmah, dr., Sp.A(K); Dr. Neurinda Permata Kusumastuti, dr., Sp.A(K); Dr. Muhammad Faizi, dr., Sp.A(K); Dr. Yuni Hisbiyah, dr., MMRS., Sp.A; Rayi Kurnia Perwitasari, dr., Sp.A,M.Ked.Klin; dr. Calcarina Nira Pramesthi
Baca juga: Efek Program Pendidikan Kesehatan pada Pasien Diabetes Tipe 2





