Universitas Airlangga Official Website

Digital Transformation in Healthcare: Investigating Key Determinants of Examining Telemedicine Adoption

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Transformasi digital dalam industri kesehatan berkembang pesat melalui integrasi e-consultation, digital health platforms, Internet of Things (IoT), big data, dan kecerdasan buatan. Perkembangan ini mendorong perubahan signifikan pada cara layanan kesehatan diberikan, meningkatkan efisiensi, aksesibilitas, dan kualitas layanan. Namun, adopsi telemedicine secara global, khususnya di negara berkembang, masih belum merata. Di Malaysia, upaya pemerintah melalui inisiatif telemedicine sejak 1997 menunjukkan komitmen awal terhadap digitalisasi layanan kesehatan, tetapi pemanfaatannya tetap rendah. Hambatan seperti biaya implementasi tinggi, infrastruktur digital yang belum optimal, serta kebijakan reimbursement yang kurang mendukung masih menyebabkan resistensi, terutama dari tenaga kesehatan yang menjadi pengguna utama teknologi ini.

Tenaga kesehatan memegang peran penting dalam keberhasilan implementasi telemedicine karena mereka adalah pengguna langsung dalam pelayanan klinis. Meskipun sebagian besar tenaga kesehatan memahami manfaat potensial telemedicine, penerimaan mereka masih moderat. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran mengenai kesesuaian telemedicine dengan alur kerja klinis, ketersediaan dukungan teknis, serta tingkat kesiapan teknologi dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Sebelum pandemi, adopsi telemedicine berjalan lambat akibat kendala regulasi dan batasan hukum. Faktor tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi telemedicine sangat dipengaruhi oleh persepsi, sikap, dan kesiapan individu terhadap teknologi.

Dalam kajian adopsi teknologi, Technology Acceptance Model sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan memengaruhi niat penggunaan. Namun, penerimaan teknologi tidak hanya ditentukan oleh penilaian terhadap karakteristik sistem, melainkan juga oleh predisposisi psikologis individu. Integrasi antara Technology Readiness dan Technology Acceptance Model melalui pendekatan TRAM memungkinkan analisis yang lebih komprehensif. Pendekatan ini menggabungkan persepsi terhadap teknologi dengan kesiapan personal seperti optimisme dan kecenderungan untuk berinovasi sehingga memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai faktor yang membentuk niat adopsi telemedicine.

Selain aspek psikologis dan teknologi, karakteristik demografis juga berkontribusi pada perbedaan tingkat adopsi. Usia merupakan salah satu variabel penting yang dapat memengaruhi tingkat penerimaan terhadap teknologi. Tenaga kesehatan yang lebih muda umumnya lebih terbiasa menggunakan teknologi dan cenderung memiliki persepsi positif terhadap inovasi digital. Sebaliknya, tenaga kesehatan yang lebih senior mungkin menunjukkan kehati-hatian karena teknologi dianggap dapat mengubah prosedur kerja yang telah mapan. Perbedaan ini menjadikan variabel usia relevan untuk dianalisis sebagai faktor yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara persepsi teknologi dan niat adopsi telemedicine di kalangan tenaga kesehatan.

Sampel dan Metode Penelitian

Pengumpulan data dilakukan melalui survei daring yang disebarkan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit swasta di Malaysia. Survei ini ditujukan untuk mengukur persepsi, kesiapan teknologi, dan niat adopsi telemedicine. Penelitian mengumpulkan 140 respons selama periode Januari hingga April 2023. Setelah proses penyaringan, sebanyak 14 responden yang merupakan pengguna aktif telemedicine dikeluarkan karena penelitian berfokus pada faktor yang mempengaruhi niat adopsi, bukan pada perilaku penggunaan aktual. Dengan demikian, total sampel valid yang dianalisis adalah 126 responden.

Sampel penelitian mencakup berbagai latar belakang profesional kesehatan, seperti dokter, perawat, ahli bedah, dokter gigi, psikolog, serta tenaga medis lainnya. Mayoritas responden merupakan dokter atau medical officers yang memberikan kontribusi terbesar terhadap data penelitian. Distribusi usia menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia 30 hingga 45 tahun, diikuti oleh kelompok usia di atas 45 tahun, sementara responden berusia di bawah 30 tahun jumlahnya lebih sedikit. Responden juga berasal dari berbagai wilayah Malaysia, termasuk Penang, Selangor, Kuala Lumpur, Johor, Kedah, Perak, Sabah, Sarawak, dan Malacca sehingga sampel memiliki sebaran geografis yang luas dan representatif untuk sektor swasta.

Instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur berbasis skala Likert lima poin untuk mengukur konstruk psikologis dan persepsi responden. Konstruk yang digunakan mencakup optimisme dan kecenderungan berinovasi dalam kerangka Technology Readiness, serta persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, dan niat adopsi dalam kerangka Technology Acceptance Model. Semua item diadaptasi dari studi sebelumnya dan telah diuji reliabilitas serta validitasnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua konstruk memenuhi kriteria reliabilitas internal melalui nilai Cronbach alpha dan composite reliability, serta memenuhi kriteria validitas konvergen dan diskriminan.

Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling. Metode ini dipilih karena sesuai untuk memodelkan hubungan yang kompleks antar variabel laten serta cocok untuk ukuran sampel yang relatif kecil. Prosedur bootstrapping dengan lima ribu pengulangan digunakan untuk menguji signifikansi hubungan antar variabel. Selain itu, penelitian ini memasukkan variabel usia sebagai moderator untuk menilai perbedaan pengaruh persepsi teknologi terhadap niat adopsi di antara kelompok usia yang berbeda. Validitas model diuji melalui pemeriksaan nilai Average Variance Extracted, heterotrait monotrait ratio, dan variance inflation factor sehingga model struktural yang dihasilkan dinyatakan layak untuk menguji hipotesis penelitian.

Hasil Penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi kegunaan merupakan faktor terkuat yang memengaruhi niat tenaga kesehatan untuk mengadopsi telemedicine. Responden yang menganggap telemedicine bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas pelayanan lebih cenderung memiliki niat untuk menggunakannya. Optimisme terhadap teknologi juga memiliki pengaruh signifikan terhadap niat adopsi. Individu yang memandang teknologi sebagai sesuatu yang positif, dapat meningkatkan kinerja, dan memudahkan proses pelayanan menunjukkan tingkat kesiapan yang lebih tinggi untuk mengadopsi telemedicine. Sebaliknya, kecenderungan berinovasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap niat adopsi yang mengindikasikan bahwa sikap ingin mencoba teknologi baru tidak selalu berkaitan langsung dengan keputusan untuk mengadopsi telemedicine dalam konteks layanan klinis.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan tidak berpengaruh signifikan terhadap niat adopsi. Temuan ini berbeda dari pola umum yang sering ditemukan dalam kajian Technology Acceptance Model, namun dapat dijelaskan oleh konteks klinis yang menempatkan manfaat klinis telemedicine sebagai aspek yang lebih penting dibandingkan tingkat kemudahan operasional. Tenaga kesehatan lebih memprioritaskan efektivitas dan dampak klinis daripada aspek teknis penggunaan sistem. Hal ini menggambarkan bahwa keputusan adopsi telemedicine bersifat pragmatis dan berorientasi pada hasil, bukan hanya kenyamanan penggunaan.

Analisis mediasi mengungkap bahwa persepsi kegunaan memainkan peran penting sebagai mediator antara optimisme dan niat adopsi. Individu yang optimis terhadap teknologi cenderung menilai telemedicine lebih bermanfaat, dan persepsi manfaat inilah yang pada akhirnya mendorong niat untuk mengadopsinya. Mediasi ini tidak ditemukan pada hubungan lain seperti antara kecenderungan berinovasi dan persepsi kegunaan atau persepsi kemudahan. Sebagian besar hubungan mediasi yang diajukan dalam model tidak signifikan, yang menunjukkan bahwa tidak semua karakteristik personal dalam kerangka Technology Readiness secara otomatis diterjemahkan menjadi persepsi positif terhadap sistem telemedicine.

Penelitian juga menemukan bahwa usia berperan sebagai variabel moderator yang memengaruhi hubungan antara persepsi kegunaan dan niat adopsi. Pada kelompok usia yang lebih tua, pengaruh persepsi kegunaan terhadap niat adopsi cenderung melemah. Hal ini dapat mencerminkan perbedaan tingkat kenyamanan dan kesiapan digital antar generasi. Kelompok tenaga kesehatan yang lebih senior mungkin lebih berhati-hati dan membutuhkan bukti manfaat yang lebih kuat untuk meyakini efektivitas telemedicine sebelum berniat mengadopsinya. Sementara itu, efek moderasi usia tidak ditemukan pada hubungan lainnya sehingga pengaruh utama terutama terletak pada perbedaan persepsi manfaat antar kelompok usia. Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan lebih dari setengah variasi dalam niat adopsi telemedicine, yang menunjukkan kekuatan prediktif yang baik.

Implikasi Penelitian

Temuan penelitian menegaskan bahwa persepsi kegunaan merupakan faktor utama yang mendorong niat tenaga kesehatan untuk mengadopsi telemedicine. Implikasi praktis dari hasil ini adalah pentingnya penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan untuk menekankan bukti manfaat nyata telemedicine dalam praktik klinis. Pelatihan, sosialisasi, dan program edukasi perlu difokuskan pada bagaimana telemedicine dapat meningkatkan efisiensi, mempercepat proses pelayanan, dan membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan medis. Memberikan contoh kasus penggunaan, demonstrasi pasien, serta evaluasi hasil klinis yang terukur akan memperkuat persepsi tenaga kesehatan bahwa telemedicine memberikan nilai tambah yang signifikan.

Temuan bahwa persepsi kemudahan penggunaan tidak berpengaruh signifikan mengindikasikan bahwa desain antarmuka atau kenyamanan penggunaan bukanlah hambatan utama bagi tenaga kesehatan. Hal ini berarti penyedia sistem dapat memprioritaskan pengembangan fungsi yang meningkatkan efektivitas klinis dan integrasi dengan alur kerja rumah sakit sebelum berfokus pada penyederhanaan teknis. Namun demikian, kemudahan penggunaan tetap perlu diperhatikan terutama untuk memastikan kelancaran operasional, meskipun bukan penentu utama niat adopsi. Fokus tata kelola teknologi perlu diarahkan pada penyediaan dukungan teknis yang kuat, pemecahan masalah cepat, dan jaminan keandalan sistem.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa optimisme terhadap teknologi berperan langsung maupun tidak langsung dalam membentuk niat adopsi melalui persepsi kegunaan. Implikasi penting dari temuan ini adalah organisasi kesehatan perlu membangun budaya positif terhadap inovasi digital. Inisiatif seperti kampanye literasi digital, berbagi pengalaman pengguna, dan pelatihan peningkatan kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi dapat meningkatkan kesiapan psikologis tenaga kesehatan. Ketika tenaga kesehatan memandang teknologi sebagai alat yang mendukung pekerjaan mereka, persepsi manfaat akan semakin kuat dan hal ini akan mendorong peningkatan adopsi telemedicine dalam jangka panjang.

Peran usia sebagai moderator memberikan gambaran penting bagi strategi implementasi telemedicine. Tenaga kesehatan yang lebih senior menunjukkan pengaruh yang lebih lemah antara persepsi kegunaan dan niat adopsi sehingga mereka mungkin memerlukan pendekatan yang lebih personal dan berbasis kebutuhan. Organisasi kesehatan dapat menyediakan pelatihan khusus, pendampingan lebih intensif, dan penjelasan manfaat klinis yang lebih terperinci untuk kelompok ini. Sementara itu, tenaga kesehatan yang lebih muda cenderung lebih cepat menerima manfaat telemedicine sehingga dapat dilibatkan sebagai champion atau duta digital untuk mempromosikan penggunaan teknologi dalam lingkungan kerja. Secara keseluruhan, implikasi penelitian ini memberikan panduan strategis bagi rumah sakit dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan tingkat adopsi telemedicine melalui pendekatan yang berorientasi pada bukti, pemahaman psikologis, dan diferensiasi berdasarkan karakteristik demografis.

Penulis: Bayu Arie Fianto, Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/21582440251379912

Cheah, J. S. S., Lim, P.-H., Amran, A., Fianto, B. A., Anisha, A. I. I. N., & Gan, C. (2025). Digital Transformation in Healthcare: Investigating Key Determinants of Examining Telemedicine Adoption. Sage Open, 15(4). https://doi.org/10.1177/21582440251379912 (Original work published 2025)