Di tengah arus perubahan zaman yang semakin digital, dunia hiburan juga mengalami pergeseran yang signifikan (Lozić, J., et al 2020). Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri musik, di mana cara kita mengonsumsi musik telah berubah secara radikal dalam beberapa dekade terakhir (Swarbrick et al., 2019). Jika dulu penggemar musik rela mengantre berjam-jam untuk membeli tiket konser musik atau album fisik, kini hanya dengan beberapa klik di ponsel, jutaan lagu bisa mereka akses dari berbagai platform streaming (Zhang, Q., & Negus, K. 2021).
Platform streaming seperti Spotify, Apple Music, dan Google Music telah memberikan kemudahan luar biasa bagi penggemar musik untuk mendengarkan jutaan lagu kapan saja dan di mana saja (Holt, 2010; Swarbrick et al., 2019). Namun, di balik kenyamanan yang ditawarkan oleh streaming, ada pertanyaan mendalam. Apakah mendengarkan musik secara digital dapat menggantikan pengalaman nyata dari menyaksikan konser musik secara langsung? Bagi banyak orang, konser bukan hanya soal mendengar lagu yang artis favorit bawakan. Melainkan tentang merasakan energi dan emosi yang hanya dapat dirasakan di tengah-tengah kerumunan, saat ribuan suara bergabung menjadi satu dalam harmoni.
Saat artis berada di atas panggung, setiap nada yang dimainkan, setiap syair yang dinyanyikan menjadi lebih hidup, menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Itu adalah momen-momen yang tidak bisa sepenuhnya ditiru oleh teknologi. Tidak peduli seberapa canggih algoritma atau kualitas audio yang ditawarkan oleh Spotify atau Apple Music (Barata & Coelho, 2021).
Konser Musik, Pengalaman yang Tak Tergantikan
Bagi banyak orang, konser musik tidak hanya tentang mendengarkan lagu-lagu favorit secara live. Lebih dari itu, konser merupakan pengalaman emosional dan sosial yang tak tergantikan. Ketika ribuan orang berkumpul dalam satu tempat, bertepuk tangan, bernyanyi bersama, dan merasakan energi langsung dari artis yang tampil, ada rasa kebersamaan dan kegembiraan yang tidak bisa diduplikasi oleh teknologi.
Sebuah penelitian dari Nielsen Music (2018) mengungkapkan bahwa 52 persen penggemar musik merasa bahwa konser live memberikan pengalaman emosional yang lebih mendalam. Daripada sekadar mendengarkan musik melalui perangkat digital. Studi yang oleh Holt (2010) menyebutkan bahwa ekonomi live music terus berkembang meskipun di tengah digitalisasi, menunjukkan bahwa permintaan akan konser musik tetap tinggi. Penelitian lain dari Swarbrick et al. (2019) menunjukkan bahwa respons emosional dan gerakan kepala penonton dalam konser live jauh lebih kuat daripada saat mendengarkan rekaman. Ini menegaskan bahwa pengalaman musik secara langsung memberikan dimensi emosional yang sulit ditiru oleh teknologi. Namun, tidak semua orang bisa menghadiri konser. Harga tiket yang mahal, jarak, dan waktu menjadi penghalang bagi sebagian penggemar untuk menikmati konser secara langsung. Di sinilah peran platform streaming menjadi relevan.
Platform Streaming, Revolusi Digital Musik
Spotify dan platform streaming lainnya menawarkan solusi yang sangat berbeda. Dengan hanya membayar biaya berlangganan bulanan yang terjangkau, pengguna dapat menikmati jutaan lagu di ujung jari mereka. Spotify, khususnya, telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari banyak orang, memungkinkan mereka untuk menikmati musik di mana pun dan kapan pun. Dengan lebih dari 517 juta pengguna aktif bulanan pada 2023, Spotify menunjukkan bahwa orang-orang semakin menghargai kemudahan dan aksesibilitas (Saragih, H. S. 2023).
Platform streaming tidak hanya memberikan akses ke katalog musik yang luas, tetapi juga menyediakan algoritma cerdas yang mampu merekomendasikan musik berdasarkan preferensi pengguna. Barata & Coelho (2021) dalam studi mereka mengungkapkan bahwa personalisasi inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong utama dalam keputusan konsumen untuk tetap berlangganan dan merekomendasikan layanan streaming. Ini berarti bahwa setiap orang dapat memiliki pengalaman mendengarkan musik yang unik dan personal.
Bagi banyak orang, Spotify adalah tempat di mana mereka menemukan musik baru dan artis baru, serta menyusun playlist untuk setiap suasana hati atau aktivitas. Namun, meski penawaran kenyamanannya sangat menarik, pengalaman mendengarkan musik melalui aplikasi streaming tidak dapat menggantikan energi saat konser musik langsung. Suara yang diproduksi secara digital melalui headphone tidak dapat menyamai dentuman bass yang terasa di seluruh tubuh saat menonton konser secara langsung.
Konser vs. Streaming, Kompetisi atau Kolaborasi?
Apakah konser dan platform streaming benar-benar bersaing untuk mendapatkan perhatian penggemar, ataukah keduanya sebenarnya saling melengkapi? Pada kenyataannya, keduanya bisa saling mendukung. Platform streaming seperti Spotify membantu memperluas jangkauan artis, memungkinkan mereka menjangkau audiens yang lebih luas dan global. Pendengar baru yang menemukan artis melalui Spotify mungkin terdorong untuk membeli tiket konser mereka ketika artis tersebut mengadakan tur.
IFPI Global Music Report 2023 melaporkan bahwa 65 persen dari pendapatan industri musik global berasal dari streaming. Namun konser live tetap menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi musisi. Sebagai contoh, penelitian yang oleh Naveed et al. (2017) menunjukkan bahwa ada co-evolusi antara streaming dan konser live, di mana peningkatan popularitas streaming sebenarnya mendorong permintaan untuk konser live. Artis menggunakan platform seperti Spotify untuk mempromosikan tur mereka, sementara penggemar yang menikmati musik melalui platform streaming terdorong untuk membeli tiket konser. Taylor Swift, salah satu artis terbesar di dunia, memanfaatkan platform streaming untuk memperluas basis penggemarnya dan mempromosikan tur dunianya. Spotify menjadi alat pemasaran yang kuat bagi musisi. Sementara konser tetap menjadi puncak dari pengalaman penggemar musik, memberikan interaksi langsung yang tidak bisa diberikan oleh teknologi.
Menggabungkan Teknologi dengan Emosi
Kemajuan teknologi seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) membuka kemungkinan baru untuk menggabungkan pengalaman konser langsung dengan elemen digital. Penelitian terbaru oleh Kulla et al. (2024) menunjukkan bahwa kehadiran sosial dalam konser, baik live maupun rekaman, dapat meningkatkan kepuasan emosional penonton.
Konser virtual di platform seperti Fortnite, yang menarik lebih dari 12 juta penonton saat Travis Scott tampil pada 2020, adalah contoh betapa kuatnya dampak dari perpaduan antara teknologi dan musik. Namun, meskipun teknologi dapat menawarkan inovasi baru yang menarik, perasaan emosional yang konser tawarkan langsung tetap unik dan sulit tergantikan. Ke depan, industri musik kemungkinan akan melihat bagaimana teknologi seperti VR dan AR dapat memperkaya pengalaman konser tanpa menghilangkan esensi dari kehadiran fisik di acara live.
Sinergi Musik di Era Digital
Di dunia musik modern, konser musik dan platform streaming tidak perlu terlihat sebagai dua pilihan yang bertentangan. Keduanya memiliki kelebihan yang unik dan dapat saling melengkapi dalam memberikan pengalaman terbaik bagi penggemar musik. Sementara platform streaming menawarkan kenyamanan dan aksesibilitas, konser musik menawarkan pengalaman emosional yang mendalam. Kombinasi dari keduanya memberikan penggemar kebebasan untuk menikmati musik dengan cara yang paling sesuai dengan gaya hidup mereka.
Penulis: Arin Saumi Fortuna, Mahasiswa Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga.





