Universitas Airlangga Official Website

Dinamika Nilai Tukar Rupiah: Peran Kebijakan Moneter

Dalam era ketidakpastian ekonomi global, nilai tukar mata uang menjadi sorotan utama, mempengaruhi tidak hanya para ekonom dan analis keuangan, tetapi juga masyarakat umum yang merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang diketahui bersama, mata uang merupakan cermin ekonomi suatu negara, dan nilai tukar merupakan indikator vital yang mencerminkan kondisi ekonomi domestik serta respons terhadap dinamika pasar internasional.

Selama beberapa tahun terakhir, nilai tukar Rupiah mengalami variasi yang signifikan, terutama saat terjadi pandemi COVID-19 yang memukul perekonomian global. Pada awal pandemi, Rupiah mengalami tekanan serius seiring dengan kekhawatiran akan ketidakpastian ekonomi dan keluarnya modal dari pasar keuangan Indonesia. Bank Indonesia merespons dengan langkah-langkah kebijakan moneter yang kuat, termasuk menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah potensi pelemahan lebih lanjut. Meskipun demikian, pergerakan nilai tukar Rupiah tetap dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas dan kebijakan moneter global.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, pada tahun 2023, Mansor Ibrahim dan Raditya Sukmana menerbitkan artikel berjudul “Monetary Policy and Exchange Rate in a Large Emerging Economy” di Global Business Review. Artikel ini mengkaji hubungan sebab-akibat antara kebijakan moneter dan nilai tukar untuk ekonomi besar yang sedang berkembang, yaitu Indonesia. Kontribusi penting penelitian ini adalah untuk memperkuat pemahaman pembacanya tentang hubungan antara kebijakan moneter dan nilai tukar, terutama dalam konteks ekonomi besar yang sedang berkembang, Indonesia.

Dalam analisisnya, penulis menggunakan model Vector Autoregressive (VAR) yang terdiri dari nilai tukar rupiah, variabel kebijakan moneter (tingkat suku bunga atau selisih suku bunga) dan tingkat inflasi, dengan menggunakan data bulanan setelah krisis keuangan global dari tahun 2009 hingga 2022.

Hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah menguat setelah penerapan kebijakan moneter yang ketat. Selanjutnya, efek apresiasi nilai tukar akibat kebijakan moneter lebih nyata ketika selisih suku bunga digunakan sebagai indikator kebijakan moneter, dan hasil ini tetap konsisten meskipun variabel keempat (seperti inflasi AS, ketidakpastian pasar, dan harga minyak) ditambahkan dalam kerangka VAR. Hal ini mencerminkan pentingnya independensi bank sentral dan kerangka target inflasi dalam meningkatkan kredibilitas kebijakan moneter Indonesia.

Dalam kesimpulannya, penulis mencatat bahwa kenaikan kebijakan moneter baru-baru ini oleh bank sentral banyak negara sebagai respons terhadap kenaikan tingkat suku bunga efektif federal AS telah memicu kembali minat terhadap hubungan antara kebijakan moneter dan nilai tukar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penilaian hubungan tersebut untuk Indonesia, sebuah ekonomi besar yang semakin penting. Model dasar melibatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, indikator kebijakan moneter yang diwakili oleh tingkat suku bunga pasar uang atau selisih antara tingkat suku bunga pasar uang dan tingkat suku bunga efektif federal (selisih suku bunga), dan tingkat inflasi. Melalui metodologi VAR pada data time series bulanan dari 2009 hingga 2022, ditemukan bukti mendukung terhadap efek apresiasi akibat kebijakan moneter yang ketat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengaruh sebab-akibat kebijakan moneter terhadap nilai tukar tampak lebih kuat ketika selisih suku bunga digunakan sebagai indikator kebijakan moneter. Meskipun demikian, penulis memberikan catatan hati-hati bahwa temuan ini mungkin tidak dapat diperluas ke periode ketidakpastian tinggi, seperti pada masa pandemi COVID-19 dan setelahnya.

Akhirnya, penulis mengakui beberapa keterbatasan dalam model VAR, termasuk ketidakmampuannya untuk sepenuhnya mengatasi sifat maju baik kebijakan moneter maupun nilai tukar. Keterbatasan ini dianggap sebagai potensi penelitian masa depan untuk dijelajahi lebih lanjut.

Artikel ini memberikan dukungan untuk pandangan tradisional mengenai kemampuan kebijakan moneter untuk membalik atau menghentikan penurunan nilai mata uang. Diperkuat oleh peningkatan independensi bank sentral dan adopsi kerangka target inflasi, Bank Indonesia berhasil mendapatkan kredibilitas dalam menjalankan kebijakan moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi.

* Tulisan ini disarikan dari jurnal “Monetary Policy and Exchange Rate in a Large Emerging Economy” oleh Ibrahim, M. & Sukmana, R. Terbit pada Global Business Review tahun 2023