Universitas Airlangga Official Website

Diskusi AIIOC dan Museum Etnografi Bahas Praktik Perawatan Makam Kampung Plampitan

Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k) Menjelaskan Belief System Dalam Perawatan Makam Kampung Plampitan. (Foto: Panitia)
Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k) Menjelaskan Belief System Dalam Perawatan Makam Kampung Plampitan. (Foto: Panitia)

UNAIR NEWS – Kematian merupakan hal yang absolut, dan terjadi kepada siapa saja. Tak peduli usia berapa, laki-laki atau perempuan, bos besar ataupun pegawai. Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC) mengadakan diskusi bersama mengenai praktik perawatan makam dengan Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian Universitas Airlangga pada Sabtu (25/5/2024) di RT 01 RW 02 Kampung Plampitan, Peneleh, Surabaya. 

Acara itu merupakan salah satu agenda dalam “Ritus Liyan” yang diadakan mulai 24-31 Mei mendatang. Ritus Liyan merupakan kegiatan pameran menyambut International Convention of Asian Scholars (ICAS) ke-13. 

Di Kampung Plampitan, ada satu tokoh yang dipercaya menjadi “buyut” mereka. Mbah Buyut Panjang, sebutan warga pada tokoh tersebut. Dulunya, warga Kampung Plampitan banyak yang merawat makam buyut tersebut, namun seiring berkembangnya zaman, hanya tersisa dua orang yang merawat makam Mbah Buyut Panjang. Mereka adalah ibu Cucuk dan bapak Burhan. 

Sistem Kepercayaan pada Makam

Ibu Cucuk menjelaskan bahwa keluarganya percaya dengan merawat makam buyut, mereka akan terlindungi. Selain itu, peneliti dalam program Ritus Liyan bernama Ryan Herdiansah menemukan di RT 7 ada pula makam yang masih dirawat oleh warganya. Makam itupun dipercaya punya kekuatan melindungi lingkungan sekitar. 

Selaras dengan itu, Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati DFM PA(k) menjelaskan kepercayaan kepada leluhur atau belief system apapun yang dipelihara akan menimbulkan collective consciousness (kesadaran bersama) sehingga makam menjadi tidak menakutkan dan malah memberikan rasa aman bagi yang mempercayainya. 

“Karena ada rasa ‘memiliki’ makam tersebut, warga menjadi tidak takut untuk merawat makam, meskipun makamnya terdapat dalam lingkungan hidup mereka. Sekaligus menimbulkan rasa aman,” jelasnya. 

Perkembangan zaman dan bergantinya generasi tentu menghilangkan kepercayaan itu. Terbukti, hanya tersisa dua orang yang merawat makam Mbah Buyut Panjang di Kampung Plampitan. Namun, nampaknya warga masih ada rasa untuk mengembalikan masa lalu itu dengan kembali merawat makam bersama-sama. 

“Menurut saya, saya juga kepingin menghormati walaupun saya tidak tau siapa Mbah Buyut Panjang,” ujar Titis, warga setempat.

Prof Toetik menyamakan kepercayaan itu dengan rasa cinta. Ia mencontohkan Grand Heaven sebagai rasa cinta kepada yang telah meninggal dengan ditempatkan area dengan “status” tinggi. 

“Bahasanya sama cinta, tapi ekspresinya beda. Ketika berada di makam kan muncul emosi, sense of belonging. Kita bukan mengkultuskan mereka, namun menghargai mereka karena telah mengawali hidup di tempat kita,” tuturnya. 

Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia

Editor: Feri Fenoria

Baca Juga:

Menuju ICAS, AIIOC Buka Pameran Seni Ritus Liyan Bersama Masyarakat Kampung Plampitan Surabaya

UNAIR Tengah Bersiap Menyambut ICAS Ke-13