Total Hip Arthroplasty (THA) atau operasi penggantian sendi panggul merupakan prosedur ortopedi yang sangat efektif untuk mengurangi nyeri dan mengembalikan fungsi pada pasien dengan kerusakan sendi panggul berat. Namun, salah satu komplikasi yang masih menjadi tantangan adalah dislokasi sendi setelah THA. Di antara berbagai jenis dislokasi, dislokasi anterior adalah yang paling jarang terjadi dan penanganannya menjadi lebih sulit apabila tidak segera terdeteksi.
Sebuah kasus menarik ditemukan pada seorang wanita berusia 72 tahun yang datang dengan keluhan tidak dapat berjalan dan nyeri panggul yang tidak kunjung membaik. Pasien diketahui pernah menjalani THA enam bulan sebelumnya akibat patah leher tulang paha. Pemeriksaan fisik menunjukkan tungkai kiri tampak lebih pendek dan dalam posisi rotasi ke luar. Pemeriksaan radiologi memperlihatkan dislokasi anterior yang sudah lama (neglected) dengan sudut kemiringan asetabulum mencapai 65° serta terbentuknya pseudo-acetabulum, menandakan bahwa kepala femur palsu telah berada di luar soket sendi dalam waktu lama.
Kasus seperti ini jarang ditemukan karena teknik operasi THA saat ini umumnya sudah lebih presisi. Namun, beberapa faktor tetap dapat meningkatkan risiko dislokasi, seperti posisi komponen implan yang kurang tepat, ketidakseimbangan jaringan lunak, hingga perubahan biomekanik panggul akibat kelainan tulang belakang. Bila tidak segera ditangani, dislokasi kronis dapat menyebabkan pengerasan jaringan (fibrosis), kontraktur, bahkan deformitas tulang sehingga tindakan koreksi menjadi lebih kompleks.
Pada pasien ini, dokter melakukan operasi open reduction untuk mengembalikan posisi implan, sekaligus memperbaiki fraktur trokanter mayor menggunakan teknik tension band wiring. Pendekatan posterolateral dipilih agar seluruh struktur panggul terlihat jelas dan memungkinkan rekonstruksi jaringan penstabil panggul, terutama otot gluteus medius yang berperan penting menjaga kestabilan sendi. Hasil foto rontgen pascaoperasi menunjukkan posisi implan telah kembali normal dan struktur panggul tersusun secara anatomis.
Kasus ini memberikan pesan penting bahwa pencegahan dislokasi sangat bergantung pada penempatan komponen implan yang tepat. Dalam THA, orientasi mangkuk acetabulum yang ideal berada dalam Lewinnek safe zone, yakni inklinasi 30–50° dan anteversi 5–25°. Deformitas kecil pada posisi komponen dapat meningkatkan risiko dislokasi, baik anterior maupun posterior. Selain itu, evaluasi stabilitas sendi saat operasi, perbaikan jaringan lunak terutama otot-otot abduktor panggul, serta pemantauan pascaoperasi pada lansia perlu dilakukan secara rutin untuk mencegah terjadinya ketidakstabilan.
Kasus ini menunjukkan bahwa meskipun dislokasi anterior pasca-THA sangat jarang, kewaspadaan tetap diperlukan. Deteksi dini, pemeriksaan komprehensif, dan rekonstruksi yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan penatalaksanaan serta mengembalikan fungsi panggul pasien secara optimal.
Penulis: Rahadiyan Rheza Dewanto, Mohammad Zaim Chilmi, Vincent Gunawan
Link: https://verjournal.com/index.php/ver/article/view/410





