Universitas Airlangga Official Website

Dokter UNAIR Bicara Penanganan Kembar Siam

(Dari kanan ke kiri) moderator dr Sarwendah P Budiman MKed Klin SpBA menyapa narasumber dr Ariandi Setiawan SpB SpBA SubspDA (K). (Foto: SS Youtube)

UNAIR NEWS – Kembar siam atau dalam istilah medis conjuring twins merupakan suatu kelainan kongenital yang sangat jarang terjadi. Kondisi itu tentunya memerlukan operasi pemisahan. Lantas, bagaimana penanganan pada bayi kembar siam? Berikut penjelasan Dokter UNAIR dalam Dokter UNAIR TV.

Menurut Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) – RSUD dr Soetomo, dr Ariandi Setiawan SpB SpBA SubspDA (K), kembar siam adalah kondisi bayi yang salah satu atau beberapa bagian (organ) tubuhnya saling menempel. dr Ariandi menuturkan, kembar siam karena kelainan bawaan dari pemisahan sel yang tidak sempurna.

“Secara sains, pada masa kehamilan sekitar hari ketujuh terjadi gangguan sehingga proses pemisahan sel tidak sempurna. Harusnya satu sel menjadi kembar identik, namun akibat gangguan maka ada organ yang menyatu atau disebut parasitic twins,” tuturnya dalam siaran Dokter Edukasi, Jumat (25/8/2023).

Ia juga menjelaskan, terdapat delapan tipe kembar siam. Yakni, cephalopagus (wajah), thoracopagus (dada), omphalopagus (perut), ischiopagus (panggul), craniopagus (tulang tengkorak), pygopagus (punggung bawah hingga pantat), rachipagus (tulang belakang), serta parapagus (dada, perut, dan panggul menyatu).

Kondisi kembar siam, kata dr Ariandi, dapat diketahui sejak bayi dalam kandungan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). “Jadi kalau terlihat ada bayi kembar, maka sebaiknya perlu rujuk ke dokter spesialis kandungan atau konsultan fetomaternal untuk mengetahui apakah ini kembar biasa atau kembar siam,” terang dokter subspesialis digestif anak itu.

Penanganan

Terkait penanganan kembar siam, dr Ariandi menyebut hal itu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya, mengetahui jumlah organ tubuh yang ada dan menyatu tidaknya suatu organ pada tubuh bayi. Sebab pengambilan tindakan medis kembar siam tergantung pada kondisi yang dialami bayi.

Berdasarkan penuturan dr Ariandi, apabila bayi kembar siam masing-masing memiliki organ, maka bisa untuk operasi. Namun, sambungnya, kembar siam dengan satu organ tubuh yang saling menempel atau satu organ tubuh menghidupi kedua bayi, artinya kondisi ini tidak bisa terpisahkan.

Kemudian, ia menuturkan bahwa tindakan operasi juga mempertimbangkan faktor sintasan (survival rate) bayi kembar siam. Keseluruhan proses ini tentunya melibatkan dokter spesialis ilmu lain yang tergabung dalam tim kembar siam FK UNAIR – RSUD dr Soetomo. 

“Sebagai tim, kita berkolaborasi bukan hanya dengan satu bagian saja. Kita melibatkan mulai dari dokter spesialis bedah, bedah anak, anestesi, hingga dokter spesialis bedah organ terkait. Bahkan, pendukung lain seperti perawat dan ahli gizi,” jelas dr Ariandi.

Ia menerangkan, tindakan operasi pada bayi kembar siam perlu adanya persetujuan dari pihak keluarga. Selain itu, penanganan kasus tersebut juga mempertimbangkan faktor sosial, keagamaan, dan media massa. 

“Misalnya, kita perlu menyelamatkan salah satu dari dua bayi yang kemungkinan satu tidak survive sehingga kita sertakan tokoh religi,” imbuh dosen ilmu bedah anak FK UNAIR itu.

Sebagai informasi tambahan, operasi kembar siam pertama kali dilakukan di Kota Surabaya tahun 1975. Saat ini, ada sebanyak 100 kasus yang telah tertangani dan tim dokter FK UNAIR – RSUD dr Soetomo terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Penulis: Sela Septi Dwi Arista

Editor: Nuri Hermawan