UNAIR NEWS – Angkat inovasi atas keprihatinan terhadap kebijakan publik bagi penyandang disabilitas, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) sukses meraih juara 1 Artikel Ilmiah dalam ajang Festival Inklusi 2025. Kompetisi itu berlangsung pada Ahad (19/10/2025) oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang (HIMA PLB-UM). Tim beranggotakan Moch. Narendra Putra Nazar, Abdul Wahid Tamimi, dan Dea Vania Natalie.
Angkat Keprihatinan atas Fasilitas Umum yang Belum Inklusif
Dea Vania Natalie menerangkan bahwa inovasi lahir dari keprihatinan tim terhadap fasilitas yang belum ramah disabilitas. “Banyak banget fasilitas umum yang masih belum ramah bagi penyandang disabilitas, yang tersedia hanya sebatas formalitas tanpa ada perhatian lebih, sehingga kami merasa perlu mengangkat isu ini,” ungkapnya.
Proses pengerjaan dilakukan di tengah kesibukan masing-masing anggota tim, sehingga pembagian waktu menjadi tantangan tersendiri dalam pengerjaannya. Meski demikian, setiap anggota tetap bertanggung jawab pada tugasnya dan rutin berdiskusi melalui zoom meeting.
“Kesibukan yang sangat padat membuat kami harus benar-benar membagi jobdesk sesuai waktu luang dan kemampuan tiap anggota. Kami biasanya mengerjakan pada malam hari setelah kelas dan tugas clear semua,” tambahnya.
Kaji Isu Co-Governance dan Dorong Kesadaran Publik
Sementara itu, Abdul Wahid Tamimi menuturkan bahwa fokus utama inovasi yang diangkat adalah peningkatan efisiensi sistem pemberdayaan inklusif bagi penyandang disabilitas berbasis co-governance. Hal itu dilakukan agar pelaksanaannya lebih efektif dalam memperluas ruang aspirasi serta perbaikan fasilitas umum yang ramah disabilitas. Menurutnya, keunggulan karya terletak pada perumusan pengkajian isu co-governance yang mengintegrasikan aspek kebijakan publik, keadilan ekonomi, dan peningkatan kesadaran masyarakat luas.
Lebih lanjut, Moch Narendra Putra Nazar berharap inovasi tersebut dapat membuka kesadaran publik terhadap pentingnya implementasi sistem inklusif. “Kami berharap pihak pemerintah dan masyarakat lebih memperhatikan suara disabilitas dalam perumusan kebijakan publik melalui sistem co–governance. Karena pengelolaan co-governance yang baik dapat meningkatkan pemberdayaan penyandang disabilitas secara berkelanjutan,” jelasnya.
Ia berpesan bahwa mahasiswa harus memiliki keberanian. “Mahasiswa harus berani menyampaikan ide yang menyangkut kemaslahatan. Namun, keberanian juga harus seimbang dengan penyampaian yang baik dan terstruktur,” pungkasnya.
Penulis: Bethari Sri Indrajayanti
Editor: Khefti Al Mawalia





