UNAIR NEWS – Lima dosen Universitas Airlangga (UNAIR) dari berbagai rumpun berkolaborasi menggelar seminar bertajuk Multidisciplinary Talk on Artificial Intelligence pada Selasa (17/06/2025) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus C UNAIR. Acara itu menghadirkan Parlaungan Iffah Nasution, S IAN MPA sebagai salah satu narasumber dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Administrasi Publik.
Diskusi yang berlangsung secara hybrid itu membahas implikasi lintas sektor dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya dalam perspektif kebijakan dan etika publik.
Mengurai Manfaat dan Risiko
Dalam pemaparannya, Parlaungan menyampaikan bahwa AI adalah teknologi disruptif yang membawa potensi besar sekaligus risiko yang kompleks. Ia menekankan pentingnya obligation atau kewajiban regulatif agar penggunaan AI tidak merugikan masyarakat.
“Terdapat tiga karakteristik utama AI: data-driven problem solving, automated decision making, dan adaptive system, semuanya menyimpan potensi bias jika tidak diatur dengan benar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia membagi tingkat risiko AI dalam empat kategori menurut standar Uni Eropa. Yakni, unacceptable risk (tidak dapat diterima, seperti social scoring dan manipulasi), high risk (berisiko tinggi dan wajib diregulasi), limited risk (dengan pengawasan terbatas), dan minimal risk. Ia juga menyoroti perlunya transparansi untuk mencegah AI menjadi black box yang tak dapat diakses publik.
Etika Global dan Praktik Lokal
Mengacu pada prinsip etika AI dari OECD (Organization for European Economic Co-operation), Parlaungan menekankan pentingnya nilai transparansi, keadilan, akuntabilitas, dan keberpihakan pada HAM dalam setiap aplikasi AI. Menurutnya, berbagai negara telah mulai menerapkan standar ini, termasuk melalui regulasi seperti Surat Edaran Menkominfo No. 9 Tahun 2023 yang menjadi rujukan di Indonesia.
Diskusi juga menyoroti tantangan disrupsi AI dalam ilmu sosial dan politik. “AI bisa menjadi sumber post-truth baru. Ketika masyarakat terlalu percaya pada hasil AI tanpa pemahaman konteks, di situlah potensi manipulasi muncul,” jelasnya.
Parlaungan juga mengajak mahasiswa lintas disiplin untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktor reflektif yang sadar akan implikasi sosial, etis, dan politik dari AI. “Tantangan AI bukan hanya teknis, tetapi juga moral. Kita butuh generasi yang mampu menavigasi antara inovasi dan tanggung jawab,” pungkasnya.
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





