Universitas Airlangga Official Website

Dosen FKH Dorong Peternak Milenial Tangani Gangguan Reproduksi Sapi Perah

Tim dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (Foto: Tim Pengmas)
Tim dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (Foto: Tim Pengmas)

UNAIR NEWS – Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung kemajuan peternakan rakyat, tim dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas). Pengmas tersebut bertajuk Penanggulangan Gangguan Reproduksi pada Sapi Perah yang terlaksana di Koperasi Produksi Usaha Desa (KPUD) Tani Wilis, Desa Dono, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung.

Kegiatan yang terselenggara pada Sabtu (26/7/2025) ini melibatkan para peternak sapi perah setempat. Termasuk generasi muda yang mulai terlibat aktif dalam kegiatan agribisnis. Acara dibuka oleh drh. Didik selaku perwakilan pengurus KPUD Tani Wilis, yang menyampaikan apresiasinya atas perhatian dunia akademik terhadap tantangan nyata yang dihadapi para peternak di lapangan. Terutama terkait dengan masalah reproduksi yang berdampak langsung pada produktivitas sapi perah.

Dalam kegiatan ini, hadir sebagai narasumber utama adalah Oky Setyo Widodo drh MSi PhD seorang dokter hewan lulusan program doktoral di Jepang yang telah memiliki pengalaman panjang dalam industri peternakan sapi perah di Negeri Sakura. Dalam paparannya, drh Oky membagikan pengetahuan dan pengalamannya mengenai strategi penanggulangan gangguan reproduksi. Mulai dari identifikasi masalah, manajemen pakan, hingga pentingnya pencatatan reproduksi yang akurat.

Tim dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (Foto: Tim Pengmas)

Lebih dari sekadar membahas teknis kesehatan hewan drh Oky juga memberikan gambaran tentang bagaimana sistem peternakan sapi perah di Jepang mampu menghasilkan produktivitas tinggi berkat penerapan teknologi, manajemen yang efisien, dan keterlibatan generasi muda dalam sektor peternakan. “Peternak muda di Jepang sangat melek teknologi dan memiliki mentalitas wirausaha. Ini yang perlu kita tanamkan juga di Indonesia, agar peternakan tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan kuno, melainkan sebagai peluang bisnis modern yang menjanjikan,” ujarnya di hadapan para peserta.

Saran Aplikatif

Diskusi interaktif menjadi bagian yang paling dinantikan oleh para peternak. Banyak peserta yang mengungkapkan kendala yang mereka hadapi, seperti sulitnya mendeteksi birahi, kasus retensi plasenta, hingga tingginya angka infertilitas pada sapi-sapi mereka. Tim pengmas FKH UNAIR memberikan penjelasan serta saran aplikatif yang dapat diterapkan langsung di kandang masing-masing.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 20 peternak ini tidak hanya menambah wawasan peserta, tetapi juga menjadi ajang berbagi pengalaman antarpeternak. Suasana hangat dan penuh semangat terlihat saat sesi penutupan dilakukan, yang diakhiri dengan foto bersama sebagai simbol kolaborasi antara akademisi dan peternak.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat peternakan dapat membawa dampak positif. Diharapkan, ke depan akan lebih banyak kegiatan serupa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan praktik di lapangan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.

Penulis: Dr Emy  Koestanti Sabdoningrum drh MKes

Editor: Yulia Rohmawati