UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di daerah eks lokalisasi, Kampung Dolly, Surabaya, pada Minggu (26/10/2025). Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian program kerja Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM FIB UNAIR, DEPUTRA 8.0 hari kedelapan. Mengusung tema Bertukar Santun, Berbudi Luhur: Membangun Karakter Anak Indonesia Melalui Bahasa, kegiatan itu berfokus pada pentingnya peran tutur kata dalam membentuk karakter anak dan keharmonisan keluarga.
Empat dosen dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris FIB UNAIR hadir sebagai pemateri, yakni Dr Lilla Musyahda Dra MPd, Dra Anna Dewanti Dipl TESL MPd, Erlita Rusnaningtias SS MA, dan Lastiko Endi Rahmantyo SS M Hum. Kegiatan itu menyasar ibu rumah tangga dan orang tua di lingkungan Kampung Dolly sebagai agen utama pembentuk karakter anak.
Bahasa Sebagai Cermin Karakter
Dalam pemaparannya, Erlita Rusnaningtias SS MA menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan membentuk nilai-nilai karakter dalam diri seseorang. Ia menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan bahasa kasar di kalangan anak-anak sebagai dampak dari teknologi digital dan lingkungan sosial yang permisif.
“Bahasa yang kita gunakan di rumah memiliki kekuatan membentuk karakter anak. Kata-kata yang lembut dan positif akan menumbuhkan rasa percaya diri dan empati,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya peran ibu sebagai role model dalam mendidik anak melalui kebiasaan tutur kata sehari-hari. “Anak belajar dari yang mereka dengar. Kalau di rumah suasananya keras, itu yang mereka tiru,” tambahnya.
Erlita menuturkan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap melemahnya nilai sopan santun generasi muda. “Kalau anak tidak dibekali sejak dini, mereka bisa tumbuh tanpa tahu unggah-ungguh. Maka lewat bahasa, kita ajak para orang tua mengingatkan diri bahwa tutur kata adalah pintu pertama membentuk karakter anak Indonesia,” tutupnya.

TOMAT, Singkatan Tiga Kata Ajaib
Sementara itu, Dr Lilla Musyahda, Dra MPd menyoroti tentang peran ibu dalam menjaga keharmonisan komunikasi di rumah. Ia mengajak para peserta untuk menahan emosi ketika menghadapi anak dan berlatih berbicara dengan nada yang menenangkan. “Kalau kita berbicara lembut, anak pun akan belajar meniru kelembutan itu,” ujarnya.
Dra Anna Dewanti Dipl TESL M Pd melanjutkan dengan memperkenalkan konsep TOMAT singkatan dari Tolong, Maaf, dan Terima Kasih. Tiga kata sederhana itu, menurutnya, dapat menjadi fondasi pembiasaan berbahasa santun dalam keluarga.
“Ucapkan tolong saat meminta, maaf saat berbuat salah, dan terima kasih saat dilayani. Tiga kata ini membangun kebiasaan untuk menghormati dan memahami orang lain,” tuturnya.
Pengingat Sederhana untuk Rumah yang Lebih Hangat
Selain itu, Lastiko Endi Rahmantyo SS M Hum memberikan ide kreatif agar nilai-nilai kesantunan lebih mudah diingat di rumah. Ia memberi usul agar warga menempelkan gambar atau tulisan yang akan mengingatkan mereka untuk bersikap dan bertutur kata positif.
“Mungkin, bisa tulisan atau gambar Tomat besar di print dan ditempelkan di dalam rumah, jadi ketika kita ingin marah lihat gambar tomat langsung ingat untuk berhenti sejenak. Hal sederhana seperti itu bisa membantu kita dalam mengendalikan emosi dan agar anak-anak tidak meniru bahasa kasar di rumah,” ujarnya.
Kegiatan pengmas ini menjadi bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian masyarakat. Melalui kegiatan ini, FIB UNAIR berharap dapat menumbuhkan kesadaran keluarga di Kampung Dolly akan pentingnya peran bahasa dalam membangun karakter anak Indonesia yang santun, empatik, dan berkepribadian luhur.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Khefti Al Mawalia





