UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menggelar webinar sebagai salah satu rangkaian acara Management Competition Training 2022 pada Jumat (20/5/2022).
Dengan tema “How to Improve the Millenial’s Critical Thinking in Today’s Business”, webinar tersebut mengundang Made Gitanadya SE MSM, dosen program studi Manajemen FEB UNAIR untuk membagikan tips mengenai berpikir kritis kepada mahasiswa.
Konsep Berpikir Kritis
Sebelum masuk pada pokok materi, Gita terlebih dahulu menjelaskan konsep iqro (bacalah) dalam Al-Qur’an. Menurutnya, makna iqro bukan sekadar membaca, tetapi juga memahami, mempelajari, dan menyebarkan.
“Perintah utama Allah kepada manusia itu bukan taat atau ibadah atau aktivitas keagamaan lainnya, tapi manusia harus terlebih dulu memahami iqro yang mana konsepnya sama dengan berpikir kritis,” ucapnya.
Lalu, Gita menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah terjemahan harfiah dari critical thinking. Ia menggarisbawahi bahwa kritis di sini bukan sesuatu yang negatif, tetapi kritis artinya sebelum membentuk suatu penilaian atau pandangan kita harus melakukan analisis objektif dan mengevaluasi isu.
“Ketika kita berpikir kritis, maka kita jangan cepat marah, jangan cepat mengambil keputusan, dan jangan menerima suatu pendapat mentah-mentah. Pelan-pelan, pikir, analisis, dan tidak reaktif saat menghadapi masalah,” tambahnya.
Kemudian, ia memberikan informasi mengenai hasil penelitian tentang beberapa keahlian yang dibutuhkan di masa depan oleh World Economic Forum 2020. Salah satu keahlian itu adalah kemampuan berpikir kritis dan analisis. Menurut Gita, kemampuan berpikir kritis harus dikuasai oleh setiap mahasiswa agar dapat mempersiapkan masa depan.
Cara Berpikir Kritis
Dalam kesempatan itu, dosen Manajemen itu menyampaikan empat poin penting tentang cara berpikir kritis.
- Menjadi pembelajar yang aktif
Pembelajar di sini bukan hanya untuk lingkungan kelas, tetapi juga di luar kelas. Seorang pembelajar dapat belajar dari mana saja. Contohnya belajar dari orang baru pengalaman baru, dan tempat baru. Hal-hal tersebut adalah sumber ilmu yang luar biasa.
- Memiliki pikiran terbuka
Tidak ada orang yang selalu menjadi paling benar sebab dunia tidak hanya hitam dan putih serta tidak sepenuhnya benar ataupun salah, selalu ada area abu-abu. Dengan itu, setiap orang harus belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
- Memisahkan emosi dan fakta
Setiap orang harus pandai membedakan antara berpikir dan merasakan karena pada dasarnya berpikir menggunakan otak, sedangkan merasakan dengan hati. Oleh sebab itu, berpikirlah secara logis, bukan impulsif.
- Menghindari kesalahan logika. Artinya, argumen yang seolah-olah benar, tetapi jika dipikir lebih jauh mengandung banyak kesalahan.
Berikut merupakan jenis-jenis kesalahan logika atau logical fallacy:
- Ad hominem, menyerang fisik atau pribadi seseorang, bukan logikanya.
- Argumentum ad populum, hal yang diterima banyak orang, padahal salah. Contohnya menyontek, korupsi, dan sebagainya.
- Overgeneralization, mengambil keputusan dengan terlalu menggeneralisasi.
- False dichotomy, hanya melihat dua sisi saja, benar dan salah, seolah-olah dunia hanya hitam dan putih.
- Red herring, mengalihkan pembicaraan.
- Cherry picking, hanya memberikan fakta yang mendukung opininya
Sebagai penutup, sekretaris program studi Manajemen itu berkata bahwa berpikir kritis yang baik akan mendukung penyelesaian masalah yang lebih baik.
“Dengan berpikir kritis, kita bisa melihat masalah dari helicopter view secara luas sehingga bisa memikirkan solusinya dengan lebih baik,” tukasnya. (*)
Penulis: Rafli Noer Khairam
Editor: Binti Q. Masruroh





