Universitas Airlangga Official Website

Dosen UNAIR: Program Kampus Berdampak Wujud Transformasi Pendidikan

FOTO Prof Dr Sukardiman MS Apt saat menjelaskan tantangan dalam pendidikan Indonesia. (Foto: dok pribadi)
FOTO Prof Dr Sukardiman MS Apt saat menjelaskan tantangan dalam pendidikan Indonesia. (Foto: dok pribadi)

UNAIR NEWS –  Pembelajaran sepanjang hayat menjadi salah satu kewajiban manusia karena ilmu terus berkembang. Hal tersebut menjadi pesan Prof Dr Sukardiman MS Apt, Direktur Direktorat Pendidikan Universitas Airlangga dalam acara Transformasi Pendidikan Indonesia dari Masa ke Masa. Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada Jumat (2/5/2025) itu membahas tentang sistem pendidikan di Indonesia berkembang dari masa ke masa.

Prof Sukardiman membagi perkembangan sistem pendidikan di Indonesia berbasis generasi menjadi tiga yakni generasi bulgur, burger, dan blender. “Setiap zaman punya keunggulan dan kekurangan masing-masing,” tegasnya. Ia menyebut pendidikan di zaman generasi bulgur dialami oleh generasi baby boomer yang mana pendidikan saat itu serba terbatas. 

“Meskipun begitu, karakteristik manusia yang dihasilkan zaman itu luar biasa tangguh, daya ingat kuat, etika sosial dan akademiknya tinggi,” jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa generasi burger yang lahir tahun 1970-2010 telah mengalami transisi digital dan perkembangan multimedia dalam pendidikan. Generasi X, milenial, dan Z yang mengalami masa itu mendapat banyak kemudahan akses media belajar seperti laptop, whiteboard, hingga powerpoint. “Kecerdasan kognitifnya luar biasa, tetapi daya ingatnya menurun,” ucapnya.

Terakhir, Prof Sukardiman juga menyebut generasi blender atau generasi alpha yang mengalami perkembangan pendidikan yang serba instan dan digital. Generasi tersebut memiliki banyak media pembelajaran digital yang dapat dimanfaatkan seperti AI, Youtube, hingga AR/VR. 

“Mereka kreatif, cepat adaptif, mudah terdistraksi,” jelasnya.

Prof Sukardiman menjelaskan beberapa tantangan yang masih dihadapi oleh pendidikan Indonesia. Pertama, yaitu akses pendidikan yang berkualitas masih belum merata di berbagai daerah di Indonesia. Tidak hanya itu, Prof Sukardiman juga menyebut bahwa pandemi Covid-19 juga membuat banyak siswa yang tertinggal belajarnya karena keharusan untuk adaptasi teknologi secara cepat.

“Tetapi ada hikmahnya yaitu kita lebih familiar dengan penggunaan IT seperti saat ini, ada kegiatan hybrid online. Itu adalah dampak positif,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kesenjangan digital dan perbedaan kemampuan teknologi menjadi salah satu tantangan. Tak hanya itu, tantangan lain yang sering terjadi di Indonesia adalah perubahan kurikulum yang lambat beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Ia menyoroti betapa seringnya Indonesia melakukan perubahan kurikulum.

“Fenomena di Indonesia ketika terjadi pergantian kabinet, semuanya diganti. Seperti hari ini program MBKM diganti menjadi Kampus Berdampak. Jadi, perubahan itu harus ada signifikansi, transformasi menuju ke yang lebih baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Sukardiman menyampaikan sebuah transformasi baru dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu program Kampus Berdampak. Ia menyebut bahwa Kampus Berdampak merupakan transformasi dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Tentunya harus kita ikuti karena tujuannya baik,” tegasnya.

Kampus Berdampak, sambungnya, memiliki strategi implementasi yaitu peningkatan kualitas hidup masyarakat, pemberdayaan SDM dan komunitas lokal. Selain itu, juga pemanfaatan teknologi digital tepat guna, peningkatan akses keadilan sosial, serta penguatan ekosistem kolaborasi. Ia menyebutkan bahwa softskills harus dibangun melalui kolaborasi berbagai sektor.

“Melalui program Kampus Berdampak, mahasiswa dapat terpapar pengalaman di luar kampus sehingga dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan kepercayaan diri. Harapannya ketika lulus tidak gagap teknologi dan komunitas,” jelasnya.

Prof Sukardiman juga berharap program Kampus Berdampak dapat menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga cerdas secara softskills-nya. Tidak hanya itu, ia juga berharap transformasi pendidikan dapat mewujudkan lulusan yang cerdas secara kognitif dan karakter.

Penulis: Septy Dwi Bahari Putri

Editor: Khefti Al Mawalia