Dalam menghadapi krisis iklim dan tantangan pembangunan berkelanjutan, dunia usaha terus mencari cara untuk menjalankan bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan dan adil secara sosial. Sayangnya, satu hal penting sering kali terlupakan: spiritualitas. Padahal, bagi masyarakat Bali, misalnya, nilai-nilai spiritual bukan sekadar urusan keagamaan, melainkan menjadi dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengelola usaha.
Penelitian kami mencoba melihat bagaimana eco-spirituality, gabungan antara kesadaran lingkungan dan nilai-nilai spiritual, dapat mendorong keberlanjutan usaha, khususnya dalam konteks Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Bali. Kami mewawancarai dan menyebarkan survei kepada 179 manajer BUMDes di berbagai wilayah, untuk melihat apakah nilai spiritual yang mereka anut benar-benar berpengaruh terhadap kinerja organisasi mereka dalam hal keberlanjutan.
Hasilnya menarik. Ternyata, eco-spirituality tidak langsung meningkatkan kinerja keberlanjutan. Namun, ketika nilai-nilai spiritual ini diterjemahkan ke dalam praktik bisnis yang inovatif dan berorientasi pada lingkungan serta sosial yang disebut sustainable business model innovation (SBMI) barulah dampak positifnya terlihat. Artinya, spiritualitas perlu ‘diolah’ dalam bentuk strategi dan inovasi nyata agar bisa memberi kontribusi pada usaha.
Kami juga menemukan bahwa BUMDes yang berada di desa adat cenderung lebih unggul dibandingkan BUMDes di desa dinas. Desa adat lebih kuat dipengaruhi oleh tradisi dan spiritualitas lokal, yang ternyata mendorong munculnya inovasi dan komitmen lebih tinggi terhadap keberlanjutan. Hal ini tidak terlepas dari filosofi hidup masyarakat Bali, seperti Tri Hita Karana—sebuah prinsip yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Filosofi inilah yang membentuk cara pandang para pengelola BUMDes terhadap tanggung jawab mereka, tidak hanya kepada pemilik modal, tetapi juga kepada masyarakat dan lingkungan.
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa spiritualitas bisa menjadi sumber kebijaksanaan praktis, atau dalam istilah ilmiah disebut phronesis. Dengan panduan nilai-nilai spiritual, para manajer BUMDes tampak lebih bijak dan inovatif dalam mengambil keputusan, terutama saat merancang model bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Apa maknanya bagi masyarakat secara luas? Bagi pembuat kebijakan, pengelola usaha, maupun masyarakat luas, hasil studi ini memberi pesan penting: jangan remehkan nilai-nilai lokal dan spiritualitas dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Di era di mana keberlanjutan menjadi tuntutan global, menggali kembali kearifan lokal bisa menjadi salah satu kunci utama. Nilai-nilai ini telah terbukti bukan hanya mampu menjaga keseimbangan hidup masyarakat selama ratusan tahun, tetapi juga dapat menjadi fondasi kuat bagi inovasi bisnis masa depan. Keberlanjutan sejati bukan hanya soal teknologi dan angka, tetapi juga tentang cara kita memaknai kehidupan dan tujuan bersama. Maka dari itu, sudah saatnya spiritualitas dan budaya lokal mendapat tempat yang lebih sentral dalam diskursus pembangunan dan kebijakan ekonomi.hidup di tengah masyarakat kita bisa menjadi inspirasi yang justru paling relevan dan kuat untuk perubahan.
Penulis: I Putu Fery Karyada dan La Ode Sabaruddin





