C. calcitrans merupakan salah satu spesies laut yang termasuk kedalam diatom bersel tunggal yang dikelompokkan kedalam kelas Bacillariophyceae. Pengelompokan ordo bacillariophyceae memiliki perbedaan pada bentuk (fisik) tubuh dan habitat. Diatom kelompok centrales tergolong diatom yang memiliki habitat di air laut dan bentuk tubuh silinder sedangkan diatom kelompok pennales memiliki ciri tubuh lonjong dan habitat di air tawar.
Chaetoceros sp. tergolong plankton yang memiliki bentuk bulat dan segi empat pada bagian sisi lainnya dengan ukuran yang berbeda. Bentuk tubuh bulat memiliki diameter ukuran tubuh berkisar 4-6 mikron, sedangkan sisi chaetoceros berbentuk segi empat memiliki diameter berkisar 8-18 mikron. Chaetoceros sp memiliki setae sebagai alat gerak. Struktur setae yang dimilikinya memanjang dari sudut permukaan tubuh. Kandungan pigmen kuning Chaetoceros sp lebih dominan dibandingkan pigmen hijau. Kandungan pigmen dominan yang terdapat pada Chaetoceros sp adalah xanthophyl dan karoten. Chaetoceros sp. memiliki sel pembungkus tubuh yang tersusun atas silikat. C. calcitrans merupakan plankton yang memiliki sel tunggal dengan bentuk sentris uniseluler. C. calcitrans dilengkapi setae yang berfungsi sebagai alat gerak. C. calcitrans bewarna coklat dengan ukuran 4 mikron. Plankton jenis ini bergerak secara pasif. C. calcitrans bereproduksi dengan cara aseksual, proses reproduksi dilakukan dengan cara pembelahan.
C. calcitrans memiliki pigmen klorofil yang hampir selalu didapati pada semua spesies mikroalga dikarenakan memiliki peranan penting pada mekanisme fotosintesis. Pigmen klorofil berfungsi pada proses fotosintesis sebagai katalisator karena mampu mempercepat aktivitas fotosintesis. Klorofil didalam mekanisme fotosintesis, berfungsi menghasilkan energi bagi diatom dengan bantuan CO2 dan cahaya matahari. Diatom memiliki beberapa kandungan, diantaranya adalah pigmen. Pigmen warna yang dimilikinya berupa klorofil a, klorofil c, karoten, dan diatomin.
Kandungan klorofil yang terkandung di dalam C. calcitrans terdiri dari klorofil-a dan klorofil-c. Fitoplankton kelas Bacillariophyceae mengandung klorofil-a dan klorofil-c. Klorofil a memiliki komposisi C55H72O5N4Mg yang berpusat pada atom Mg. Klorofil-a memiliki gugus CH3 dengan berat molekulnya adalah 893. Klorofil a pada mikroalga hijau berfungsi sebagai penyerap cahaya, selain pigmen lainnya yang dimiliki mikroalga seperti karotenoid dan xantofil.
Peningkatan jumlah klorofil C. calcitrans berpengaruh terhadap kemampuan fotosintesis Pada tumbuhan klorofil berfungsi sebagai penyerap cahaya. Tingkat nutrient di lingkungan dapat mempengaruhi aktivitas produksi klorofil. Peningkatan jumlah klorofil juga dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan sel mikroalga. Peningkatan kandungan klorofil di dalam kultur fitoplankton sejalan dengan peningkatan jumlah dan kepadatan sel. Kenaikan pertumbuhan dan jumlah sel akan menyebabkan peningkatan aktivitas fotosintesis sehingga memacu peningkatan kandungan klorofil dalam sel.
Penelitian ini menggunakan karbon yang merupakan zat berbentuk gas yang terbentuk dari senyawa dua atom oksigen dan memiliki ikatan kovalen dengan atom karbon. Karbon dioksida termasuk komponen minor penyusun atmosfer dengan jumlah 0,33 % dari total komponen penyusunnya. Keberadaan karbon penting karena kemampuannya untuk bergabung dengan unsur-unsur penting lainnya, seperti oksigen, nitrogen, dan fosfor, dan dengan hidrogen untuk membentuk molekul organik yang penting untuk metabolisme dan reproduksi sel. Karbon dioksida berasal dari proses respirasi yang dihasilkan oleh manusia, hewan, dan tumbuhan. Selain itu, sumber lain karbon dioksida adalah sisa pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida dapat terbentuk secara alami dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa serta hasil dari perubahan penggunaan lahan dan proses sektoral lainnya.
Proses produksi senyawa metabolit dan biomassa memerlukan karbon dioksida sebagai bahan pembentukan. Karbon dioksida tersebar dalam jumlah besar di darat dan perairan . Perukaran karbon antara atmosfer dan bisofer atau sebaliknya terjadi melalui proses fotosintesis dan respirasi. Siklus karbon mencakup proses transfer karbon ke atmosfer melalui proses mekanis, biologi, dan kimia. Penyerapan CO2 di perairan terjadi melalui mekanisme penyerapan CO2 terlarut oleh fitoplankton di laut, mekanisme penyerapan ini terjadi pada saat proses fotosintesis, dan reproduksi sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan CO2 terlarut berpengaruh terhadap tingkat hidup mikroalga di perairan. Tingkat kultivasi CO2 yang berasal dari aerasi udara (0,003%) tidak dapat mendukung kebutuhan optimal kultur mikroalga, sehingga perlu ditambahkan CO2 murni.
Penulis: Luthfiana Aprilianita Sari, S.Pi., M.Si
Link Jurnal: http://www.jeeng.net/pdf-156149-83414?filename=The%20Effect%20of%20Different.pdf





