Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang parah secara global. Berbagai kampanye dan kegiatan termasuk vaksinasi telah dilakukan untuk mengatasi pandemi tersebut. Setiap jenis vaksin COVID-19 memiliki tingkat efikasi dan kondisi penyimpanan yang berbeda. Efek samping vaksin dilaporkan oleh 50% hingga 90% peserta uji klinis vaksin COVID-19. Hasil uji klinis menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 sangat aman, namun hanya sedikit bukti yang membandingkan keamanan vaksin tersebut. Reaksi negatif terhadap vaksin COVID-19 sangat penting untuk kepercayaan publik terhadap vaksinasi. Tingkat keraguan dan penolakan terhadap vaksin COVID-19 masih tinggi disebabkan keyakinan negatif terhadap vaksin COVID-19 yang menimbulkan kerugian dan kemungkinan reaksi merugikan yang serius. Hal tersebut menjadi hambatan paling signifikan dalam vaksinasi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek samping vaksin COVID-19 yang dilaporkan dalam sejumlah studi observasional.
Penelitian ini merupakan scoping review dengan melakukan pencarian pada tiga database (PubMed, Science Direct, dan CINAHL) di awal pandemi COVID-19 Tahun 2020 hingga Juni 2022. Penelitian ini menggunakan boolean “OR dan “AND” dengan kata kunci (“COVID-19” OR “COVID 19” OR “COVID”) AND (“vaccine” OR “vaccination”) AND (“adverse effect” OR “adverse event” OR “adverse reaction” OR “complication”). Pencarian dengan kata kunci menghasilkan 400 artikel dan diperoleh 320 artikel setelah artikel duplikat dan artikel yang tidak memenuhi kriteria inklusi dihilangkan. Artikel yang lolos eligibilitas sebanyak 55 artikel dan 11 artikel yang diikutsertakan dalam studi ini.
Mayoritas studi dilakukan di negara maju dengan konteks yang sama namun dilakukan pada populasi yang bervariasi. Tujuan mayoritas penelitian adalah menyelidiki efek samping vaksin COVID-19. Efek samping vaksin COVID-19 dikelompokkan menjadi dua yaitu kejadian terkait vaksin dan reaksi alergi. Mayoritas penelitian menujukkan reaksi negatif vaksinasi dan tidak ada reaksi alergi. Reaksi negatif vaksin COVID-19 yang paling banyak dilaporkan adalah injeksi lokal dan efek samping sistemik. Efek lokal lebih besar terjadi pada individu yang sebelumnya pernah terinfeksi COVID-19. Efek samping sistemik seperti, demam, menggigil, kelelahan, sakit kepala, mual, mialgia, pireksia, dan dispnea. Efek samping kardiovaskular seperti, sinus takikardia dan kontraksi ventrikel prematur.
Efek samping pada peserta vaksinasi COVID-19 dosis pertama umumnya sederhana seperti rasa sakit pada bekas suntikan dan demam. Reaktogenisitas sedang hingga berat lebih sering diamati pada perserta vaksinasi COVID-19 dosis kedua. Beberapa kasus kematian juga dilaporkan namun disebabkan oleh penyakit jantung dan COVID-19.
Jenis vaksin yang termasuk dalam penelitian ini adalah Pfizer-BioNTech, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, dan Moderna. Efek samping pada penerima vaksin Sinopharm dosis pertama 2,9 kali lebih umum. Penerima vaksin Pfizer-BioNTech 1,4 kali lebih mungkin mengalami reaksi negatif setelah pemberian dosis kedua. Peserta vaksin Sinopharm dengan komorbiditas dan peserta vaksin Pfizer-BioNTech dengan riwayat infeksi COVID-19 memiliki persentase efek samping yang lebih tinggi.
Laporan serius vaksin Pfizer-BioNTech antara lain dispnea, kematian, pireksia, kelelahan, dan sakit kepala. Mayoritas penerima Pfizer-BioNTech memiliki efek samping ringan hingga sedang. Efek samping vaksin Oxford-AstraZeneca seperti, kelelahan, sakit kepala, nyeri tekan, mialgia, demam, astenia, indurasi, dan alergi kulit. Efek lokal vaksin Oxford-AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech lebih jarang diamati setelah dosis kedua. Moderna memiliki efek samping yang mirip dengan vaksin Oxford-AstraZeneca, namun tidak menyebabkan reaksi lokal atau sistemik yang serius. Peserta vaksin Moderna dengan riawayat penyakit jantung dan COVID-19 memiliki efek samping yang lebih serius. Mayoritas peserta vaksinasi mRNA mengalami efek kardiovaskular dalam waktu 7 hari setelah menerima dosis pertama dan kedua.
Mayoritas reaksi bersifat ringan sampai sedang sehingga tidak berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, namun minoritas reaksi mengganggu kapasitas individu untuk melakukan tugas sehari-hari. 60% peserta vaksin Pfizer-BioNTech mengalami efek samping sedang dan 75% peserta merasa hanya sedikit pengaruh vaksinasi terhadap aktivitas sehari-hari. Wanita lebih mungkin mengalami efek samping sedang hingga berat yang dapat mengganggu aktivitas.
Beberapa strategi harus diterapkan pada individu, organisasi, dan populasi untuk menghilangkan keraguan terhadap vaksinasi. Studi selanjutnya dapat menyelidiki efek samping vaksin berdasarkan usia dan kondisi medis.
Penulis: Inge Dhamanti
Artikel lengkap dapat diakses di https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.2147/IJGM.S400458





