Universitas Airlangga Official Website

Efektivitas dan Keamanan setelah Injeksi Triamcinolone Acetonide dan Bevacizumab Intravitreal

Sekitar 19 juta orang di seluruh dunia mengalami kebutaan unilateral akibat trauma okular dan secara tidak proporsional lebih banyak mengenai anak-anak, dewasa muda, dan orang tua. Kejadian ini dapat memberikan cacat pengelihatan tetap pada seperempat populasi dimana dapat menurunkan kualitas hidup serta menjadi beban ekonomi. Pada penelitian kami, kami meneliti reaksi dari sitokin inflamasi sebagai respon terhadap OGI steril dengan dan tanpa terapi. Kami berusaha untuk menentukan apakah injeksi bevacizumab dan triamcinolone acetonide (TA) intravitreal pada berbagai titik waktu akan bermanfaat dalam mencegah timbulnya PVR dalam uji coba model kelinci OGI. TA adalah kortikosteroid famili glukokortikoid yang digunakan sebagai antiinflamasi pada berbagai penyakit mata seperti edema makula dan uveitis. Terkait efektivitas dari TA pada manusia, studi RCT yang dilakukan oleh Banarjee et al. terkait penggunaan TA IVIT maupun subkonjungtiva hasilnya cukup baik pada preoperatif maupun durante PPV berdasarkan luaran perbaikan anatomis maupun tajam penglihatan. VEGF adalah salah satu bentuk dari PDGF yang berfungsi merangsang angiogenesis dan mempengaruhi permeabilitas vaskular. Pada studi in vitro juga menunjukkan bahwa VEGF, bersama-sama dengan faktor lain, menstimulasi proliferasi fibroblas pada vitreus. Pada beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penghambatan VEGF-A akan menurunkan bioaktivitas PVR di vitreus. Oleh karenanya, berbagai terapi yang menarget VEGF dan jalur lainnya terus diteliti.

Kami membuat model OGI dengan membuat luka tembus sejauh 6 mm inferior limbus dan sepanjang 5 mm pada kuadran supratemporal dengan blade no. 11 pada 5 – 6 kelinci tiap grupnya, dengan total 30 kelinci. Setelah OGI, tiga hari kemudian (kelompok T+3 dan B+3) dan tujuh hari kemudian (kelompok T+7 dan B+7), diberikan injeksi intravitreal TA 4 mg/0,1 mL atau bevacizumab 1,25 mg/50 uL (masing-masing n = 6). Lima mata kiri dipilih secara acak dari kelompok yang diberi perlakuan dan dijadikan sebagai kontrol negatif (CtrN), sedangkan kelompok OGI lain tanpa pengobatan berfungsi sebagai kontrol positif (CtrP). Penilaian tekanan anterior, posterior, dan intraokular (IOP) yang ekstensif dilakukan pada sebelum perlakuan, hari ke 3, 7, dan 21 setelah OGI, dan sebelum dekapitasi. Pada hari ke-21, bola mata dienukleasi, dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk mengevaluasi ekspresi VEGF dan TNF-α.

Setelah OGI, mata kelinci menunjukkan peningkatan regulasi VEGF dan TNF-α di kelompok kontrol positif (masing-masing 9,64 ± 1,646, p 0,0002, dan 10,44 ± 1,381, p 0,0553). Peningkatan ekspresi ini dapat berkontribusi pada pembentukan fibrosis retina dari lokasi luka masuk. Penelitian kami menunjukkan bahwa ekspresi TNF-α terlihat tinggi pada kontrol negatif yang diambil dari mata kontralateral hewan perlakuan. Hal ini berbeda dengan kelompok kontrol negatif dalam studi oleh Chen et al Keadaan stress setelah trauma mempengaruhi ekspresi kelinci secara sistemik dan menembus sawar okular-retina. Meskipun ekspresi VEGF kelompok kontrol negatif dibandingkan dengan kelompok kontrol positif signifikan secara statistik (p<0,000), kami tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara kontrol positif di TNF-α dibandingkan dengan kontrol negatif (p 0,7974). Ekspresi yang tinggi pada mata kontrol negatif dapat mendukung fakta bahwa baik TA maupun bevacizumab tidak mempengaruhi ekspresi TNF-α secara signifikan. Dalam penelitian saat ini, kami menemukan hubungan yang lemah antara ekspresi VEGF dan TNF-α, menunjukkan bahwa kedua sitokin tidak saling memengaruhi selama peradangan.

Penurunan ekspresi yang signifikan secara statistik pada kelompok perlakuan telah diamati setelah injeksi TA, tetapi tidak ada kelompok bevacizumab yang memberikan hasil statistik signifikan. TA menurunkan ekspresi VEGF dan TNF-α terutama bila diberikan tiga hari setelah trauma. Meskipun kedua agen memiliki retensi yang sama di dalam vitreus (berturut- turut waktu paruh 6,08 – 7,995 hari dan 3,91 – 6,61 hari), TA mungkin memberikan penurunan yang lebih baik karena mekanisme penghambatan peradangan yang lebih luas. Penelitian kami selaras dengan studi Zhao et al. yang menunjukkan bahwa terapi adjuvan memberikan efek terbaik tiga hari setelah trauma, dibandingkan injeksi 30 menit dan tujuh hari pasca OGI. Bevacizumab mungkin memiliki efek yang moderat terhadap TNF-α. Temuan kami berbeda dengan penelitian sebelumnya dimana ditemukan supresi yang lebih baik pada anti-VEGF oleh Zhao et al. dan TNF-α inhibitor oleh Chen et al. Hal ini dikaitkan dengan molekul yang lebih kecil sehingga memberikan efek penetrasi jaringan yang lebih baik. Meskipun bevacizumab bertahan di vitreous lebih lama, berat molekulnya lebih berat. Akibatnya, zat diserap oleh jaringan retina lebih lambat daripada anti-VEGF lainnya. Adapun PVR merupakan proses yang rumit, sehingga inhibisi mekanisme tunggal tidak cukup untuk menghentikan reaksi inflamasi.

Pemberian injeksi dapat menurunkan kadar protein pro-inflamasi secara signifikan dibandingkan dengan mata pada kelompok OGI. TA mengungguli bevacizumab dalam uji perbandingan ganda Tukey post hoc. Setelah penelitian, evaluasi klinis menunjukkan tidak ada peningkatan TIO yang signifikan. Temuan ini mendukung penelitian lanjutan TA intravitreal pada manusia sebagai pengobatan adjuvant pada pasien OGI.

Penulis: Clarisa Finanda1 , Evelyn Komaratih1 , Wimbo Sasono1 , Nurwasis1 , Citra Dewi Maharani1, Kautsar Abiyoga1 , Djoko Legowo2 , Hari Basuki Notobroto3 , Willy Sandhika4

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://www.jmchemsci.com/article_177419.html