Universitas Airlangga Official Website

Efektivitas Mouthwash Berbahan Dasar Ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita

Foto by Greeners

Masalah kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi di masyarakat dan memerlukan penanganan yang serius. Hampir setengah dari populasi penduduk dunia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut khususnya karies gigi. Di Indonesia, karies gigi menempati proporsi terbesar dalam masalah gigi nasional yakni sebesar 45,3%. Prevalensi karies gigi di Indonesia menunjukkan pola peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar, prevalensi karies gigi pada tahun 2007 sebesar 43,4% meningkat menjadi 53,2% pada 2013, dan semakin meningkat pada tahun 2018 menjadi sebesar 88,8%. Karies gigi merupakan penyakit akibat aktivitas bakteri yang menyerang jaringan keras gigi sehingga menimbulkan demineralisasi gigi. Strain bakteri utama yang menyebabkan karies gigi adalah Streptococcus mutans.

Salah satu upaya mencegah karies gigi adalah melalui penggunaan mouthwash. Mouthwash merupakan larutan dengan kandungan antimikroba yang digunakan untuk memberikan kesegaran pada rongga mulut dan membersihkan plak serta mikroorganisme patogen penyebab penyakit rongga mulut. Mouthwash yang beredar di pasaran pada umumnya mengandung alkohol yang cukup tinggi, padahal penggunaan mouthwash dengan kandungan alkohol 25% atau lebih meningkatkan resiko kanker mulut sebesar 50 persen.

Alternatif yang dapat dipilih untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan mouthwash berbahan dasar ekstrak tumbuhan herbal yang memiliki aktivitas antibakteri seperti teh hijau (Camellia sinensis) dan peppermint (Mentha piperita). Teh hijau (Camellia sinensis) memiliki kandungan katekin yang sangat tinggi. Katekin merupakan senyawa polifenol dari golongan flavonoid yang berperan sebagai antimikroba karena dapat merusak dinding sel mikroorganisme. Streptococcus mutans yang dibuktikan dengan hasil uji aktivitas antibakteri dan uji One-way ANOVA yang menunjukkan bahwa ekstrak polifenol Camellia sinensis 100% kontrol positif memiliki daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dibandingkan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50 %. Kandungan senyawa lain pada daun teh  hijau yang turut berperan sebagai antimikroba adalah alkaloid, saponin, tanin, fenol, steroid dan glikosida. Pada daun peppermint (Mentha piperita) terdapat kandungan minyak atsiri yang mengandung mentol dan menthone yang memiliki aktivitas antimikroba. Minyak atsiri dalam peppermint dapat berperan sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dengan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan MBC Minimum Bactericidal Concentration (MBC) masing masing sebesar 10,5 μg/mL dan 16,3 μg/mL.


Selain itudaun peppermint juga mengandungsenyawa fenolik, tanin, flavonoid, menthofuran, dan triterpenoid yang memiliki kemampuan membunuh bakteri. Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukan penelitian untuk menguji efektivitas mouthwash berbahan dasar kombinasi ekstrak Camellia sinensis (teh hijau) dan Mentha piperita (peppermint) sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Pemilihan teh hijau didasarkan pada penelitian yang menemukan bahwa teh hijau merupakan salah satu tanamandengan kandungan flavonoid tertinggi dan termasuk dalam komoditas perkebunan utama di Indonesia. Sementara itu peppermint dipilih karena memiliki kandungan menthol paling tinggi diantara spesies tanaman mint serta adanya kecenderungan masyarakat yang lebih menyukai produk herbal dengan aroma dan rasa peppermint. Penerapan kombinasi keduanya tanaman ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa multi-plan extracts (ekstrak yang dibuat dari campuran beberapa tanaman) memiliki aktivitas antibakteri yang lebih superior dibanding single plant extracts.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mouthwash ekstrak teh hijau dan peppermint sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Aktivitas antibakteri ditentukan melalui pengukuran zona hambat pada uji difusi. Mouthwash dibuat dalam 5 formula yaitu F1, F2, F3, F4, F5 dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Dibuat pula FA (mouthwash ekstrak teh hijau 20%) dan FB (mouthwash ekstrak peppermint 20%) sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak teh hijau dan peppermint maka semakin besar diameter zona hambat. Rata rata zona hambat F1 dan F2 8,34 dan 9,80 mm (daya hambat sedang). Rata rata zona hambat F3, F4 dan F5 masing masing 11,64 mm, 14,63 mm dan 15,91 mm (daya hambat kuat). Rata rata zona hambat FA dan FB 7,45 dan 6,20 mm (daya hambat sedang). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa mouthwash ekstrak Camellia sinensis dan Mentha piperita efektif sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans.

Penulis: dr. Yuani Setiawati, M.Ked

Link Jurnal : http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.php/Meditek/article/view/2314/version/2304