Universitas Airlangga Official Website

Efikasi Edukasi Kader tentang MP-ASI

Ilustrasi oleh Pinterest

Kader dapat kita sebut sebagai ujung tombak dari pencegahan dan penanggulan masalah gizi di Indonesia, termasuk Stunting karena kader “dekat” dengan masyarakat dan mampu untuk membantu masyarakat dalam berperilaku sehat. Kota Surabaya sedang gencar dalam upaya eliminasi stunting (EMAS) sehingga banyak sekali kegiatan yang dilakukan, salah satunya adalah revitalisasi kader, baik dalam segi jumlah maupun kapasitas dan pengetahuan kader. Peran kader untuk melakukan penyuluhan kepada kesehatan kepada masyarakat juga tertuang dalam Permenkes Nomor 8 tahun 2019. Karena peran tersebut, kader harus memiliki pengetahuan gizi dan kesehatan yang baik agar dapat melakukan penyuluhan dengan optimal. Mengingat bahwa pencegahan stunting optimal di 1000 hari pertama kehidupan, maka pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan hingga 24 bulan menjadi krusial. Pada penelitian ini, peneliti memberi edukasi kepada kader terkait dengan MPASI dengan metode ceramah konvensional dan workshop demo masak agar peserta dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembuatan MPASI serta dapat lebih baik dalam mengingat materi yang diberikan.

Metode dan Hasil

Tim peneliti melakukan penelitian edukasi ini dengan desain eksperimental, pengisian kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah sesi edukasi. Peserta edukasi yaitu Kader Surabaya Hebat (KSH) Kelurahan Kapasari, Kota Surabaya sejumlah 49 orang. Pendidikan gizi dilakukan melalui edukasi konvensional terkait dengan stunting dan MPASI (prinsip, jenis, jumlah, frekuensi, tekstur) selama 60 menit lalu diikuti dengan demo masak MPASI awal atau menu lumat selama 30 menit. Pada edukasi ini kami juga mengedepankan penggunaan pangan lokal untuk menu MPASI karena sejatinya menu MPASI harus affordable dan mudah dimasak. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia kader yaitu 43 tahun; 57,1% lulusan SMA/MA. Tingkat pendidikan kader juga perlu diperhatikan karena termasuk dalam dapat membaca dan menulis termasuk salah satu dari 7 kriteria yang harus dimiliki oleh seorang kader. Berdasarkan 15 pertanyaan seputar stunting dan MPASI, jawaban benar paling sedikit yaitu pada pertanyaan ke-3 terkait ciri bayi siap mendapatkan MPASI. Kesalahan pemahaman terkait ciri bayi yang siap mendapatkan MPASI dapat berdampak pada pemberian MPASI dini yang lebih besar. Lalu, sebelum edukasi, kader juga belum banyak mengetahui tentang prinsip MPASI 4 kuadran sehingga ditekankan pada saat edukasi. Kelompok kader memiliki skor peningkatan yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok non-kader. Namun, hal tersebut juga dapat dilatarbelakangi nilai pre-edukasi pada kader yang lebih rendah. Nilai kader meningkat dari 8,47 menjadi 9,73. Kader yang terlatih dan memiliki pengetahuan yang baik dapat menjadi ujung tombak dalam pencegahan dan penanganan masalah gizi pada anak; serta menjalankan program gizi secara sustainable / berkelanjutan.

Penulis: Qonita Rachmah, Lailatul Muniroh, Dominikus Raditya Atmaka, Anisa Lailatul Fitria, Azizah Ajeng Pratiwi, Asri Meidyah Agustin, Aliffah Nurria Nastiti, Damar Aditya Bayu Sukma Arum, Siti Helmiyati, Maria Wigati

Artikel dapat ditemukan pada link berikut:

https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/40692

Penulis Artikel Populer: Qonita Rachmah