Infeksi Helicobacter pylori merupakan faktor risiko utama kanker lambung sehingga eradikasi yang efektif sangat penting, namun keberhasilan terapi semakin terhambat oleh meningkatnya resistensi antibiotik, terutama terhadap klaritromisin dan metronidazol. Meskipun terapi kuadruple bismut direkomendasikan sebagai lini pertama, kompleksitas regimen menurunkan kepatuhan pasien. Keberhasilan eradikasi sangat bergantung pada supresi asam lambung yang optimal, dan vonoprazan sebagai P-CAB memberikan supresi asam yang kuat dan stabil. Namun, efektivitas kombinasi vonoprazan amoksisilin di Asia Tenggara masih suboptimal, kemungkinan terjadi akibat faktor genetik metabolisme obat.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga bekerjasama dengan peneliti internasional berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Scientific Reports. Pada penelitian ini, pasien yang terkonfirmasi positif infeksi H. pylori kemudian diacak untuk menerima rejimen sekali sehari selama 7 hari atau 14 hari yang terdiri dari vonoprazan 40 mg, klaritromisin-MR 1 g, levofloksasin 500 mg, dan bismut subsalisilat 1,048 mg. Pemeriksaan polimorfisme CYP3A4 serta uji kepekaan antimikroba (menggunakan uji Epsilometer atau pemeriksaan GenoType® HelicoDR) dilakukan. Keberhasilan eradikasi dikonfirmasi dengan hasil negatif uji napas urea ¹³C yang dilakukan setidaknya empat minggu setelah terapi selesai.
Selanjutnya, diperoleh sebanyak 312 pasien dispepsia yang menjalani EGD disaring, dan 102 pasien (32,7%) didiagnosis terinfeksi H. pylori. Seluruh pasien tersebut diikutsertakan dan diacak ke dalam dua kelompok terapi: 51 pasien menerima terapi bismut berbasis vonoprazan sekali sehari selama 7 hari, dan 51 pasien menerima rejimen selama 14 hari. Karakteristik dasar kedua kelompok serupa, kecuali prevalensi hipertensi yang lebih tinggi pada kelompok rejimen 7 hari (49% vs. 27,5%; p=0,025).
Angka keberhasilan eradikasi pada rejimen 7 hari adalah 88,2% (45/51) berdasarkan analisis intention-to-treat (ITT) dan 89,6% (43/48) berdasarkan analisis per-protocol (PP). Sementara itu, rejimen 14 hari mencapai angka eradikasi 88,2% (45/51) pada analisis ITT dan 93,8% (45/48) pada analisis PP. Perbedaan risiko keberhasilan eradikasi pada analisis PP adalah 4,17% (95% IK: −6,86 hingga 15,19; p=0,71).
Kejadian efek samping sebanding antara kedua rejimen, yaitu 35,3% (18/51) pada kelompok 7 hari dan 38,8% (19/51) pada kelompok 14 hari (p=0,130). Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah tinja berwarna hitam (35,3% vs. 38,8%; p=0,130). Efek samping lain meliputi mual dan muntah (15,7% vs. 22,5%; p=0,742), rasa pahit di mulut (17,7% vs. 18,4%; p=1,000), serta pusing (7,8% vs. 6,1%; p=0,113). Seluruh efek samping bersifat ringan dan hilang spontan tanpa memerlukan intervensi medis, serta tidak ditemukan efek samping serius.
Berdasarkan penelitian ini, regimen 14 hari menunjukkan tingkat eradikasi yang sangat baik (>90%) terlepas dari adanya polimorfisme CYP3A4. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi vonoprazan, levofloksasin, klaritromisin-MR, dan bismut selama 14 hari merupakan alternatif terapi lini pertama yang menjanjikan, khususnya di wilayah dengan tingkat resistensi klaritromisin dan metronidazol yang tinggi.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada: https://doi.org/10.1038/s41598-025-27876-z





