Universitas Airlangga Official Website

Emerging Contaminants dalam Air Minum: Tantangan dan Peluang Riset Epidemiologi di Asia

Ilustrasi Air minum (foto Enesis)

Seiring dengan pesatnya industrialisasi dan urbanisasi di negara-negara Asia, berbagai tantangan baru dalam pengelolaan lingkungan muncul, salah satunya adalah meningkatnya jumlah kontaminan baru yang dikenal sebagai emerging contaminants atau Contaminants of Emerging Concern (CECs). Kontaminan ini mencakup berbagai zat kimia sintetis dan alami yang ditemukan di lingkungan dan memiliki potensi membahayakan kesehatan manusia, terutama jika terdapat dalam air minum. Contoh umum dari CECs meliputi produk sampingan dari proses desinfeksi, pestisida, pengganggu endokrin, dan patogen yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dihilangkan dengan teknologi pengolahan air yang ada saat ini.

Karena sifat CECs yang tersebar luas di ekosistem perairan, keberadaannya dalam sistem air minum menjadi hal yang sulit dihindari. Sayangnya, meskipun bahaya potensial dari kontaminan ini mulai disadari, upaya penelitian epidemiologi yang memadai untuk menilai dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di Asia masih sangat terbatas. Mengingat bahwa air minum adalah salah satu sumber utama konsumsi manusia sehari-hari, memahami lebih dalam mengenai potensi risiko kesehatan akibat paparan CECs menjadi sangat penting.

Kontaminan yang baru muncul ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan pencemar konvensional. Banyak dari CECs yang tidak terdeteksi dalam pengujian kualitas air konvensional, yang berarti bahwa dampaknya terhadap kesehatan sering kali tidak segera terlihat. Misalnya, beberapa CECs dapat memicu gangguan hormon dalam tubuh, mempengaruhi sistem reproduksi, atau bahkan meningkatkan risiko kanker. Namun, teknologi pengolahan air yang ada mungkin tidak secara khusus dirancang untuk menangani CECs, sehingga risiko kesehatan tetap ada.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi negara-negara di Asia, yang masih berjuang untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi yang pesat dan perlindungan kesehatan masyarakat. Tanpa pendekatan yang terkoordinasi dan dukungan dari kebijakan kesehatan lingkungan, upaya untuk mengatasi kontaminan ini dapat gagal, karena sumber daya yang ada mungkin diarahkan pada pencemar yang dianggap lebih mengancam, padahal sebenarnya ada pencemar yang lebih berbahaya yang tidak terpantau.

Dalam upaya untuk memahami lebih lanjut tentang dampak CECs terhadap kesehatan masyarakat, kajian ini dilakukan untuk mengidentifikasi studi epidemiologi terkait dengan kontaminan dalam air minum di negara-negara Asia selama dekade terakhir. Penelitian ini mencakup analisis berbagai studi epidemiologi yang menilai keberadaan CECs dalam air minum dan dampaknya terhadap kesehatan.

Dalam proses pengumpulan data, penelusuran literatur dilakukan di dua basis data utama, yaitu PubMed dan Scopus, hingga Februari 2024. Dari hasil penelusuran awal yang mencapai 3198 studi, hanya 15 studi yang relevan dengan topik ini. Studi-studi tersebut menilai berbagai jenis CECs, termasuk disinfection byproducts (10 studi), endocrine disruptors (2 studi), pestisida (2 studi), dan patogen protozoa (1 studi).

Namun, hasil kajian ini menunjukkan bahwa penelitian di Asia terkait CECs di air minum dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat masih sangat kurang. Sebagian besar penelitian hanya menilai beberapa jenis CECs, seperti produk sampingan desinfeksi, sementara banyak jenis kontaminan lain yang belum diteliti secara memadai. Dengan demikian, masih ada gap besar dalam pemahaman mengenai dampak CECs terhadap kesehatan masyarakat di wilayah ini.

Kajian ini merupakan upaya komprehensif pertama untuk mengevaluasi perkembangan studi epidemiologi terkait CECs di air minum. Dengan mengisi kekosongan kritis dalam penelitian ini, kajian ini menjadi langkah awal penting dalam mengembangkan kumpulan literatur yang lebih kuat, yang difokuskan untuk menghadapi tantangan terkait CECs di sistem air minum di Asia.

Sebagai sebuah studi scoping review, penelitian ini juga memberikan wawasan berharga mengenai kelayakan melakukan tinjauan sistematis di masa depan dalam bidang ini serta saran bagi penelitian berikutnya. Penelitian epidemiologi memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik dan memengaruhi kebijakan. Tanpa informasi yang memadai mengenai risiko kesehatan dari CECs, kebijakan yang dibuat untuk melindungi masyarakat mungkin tidak cukup efektif. Oleh karena itu, sangat penting bagi peneliti di negara-negara Asia, khususnya di bidang kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai berbagai jenis CECs serta berbagai potensi dampak kesehatannya.

Penulis: Rinaldy Jose Nathanael

Sumber: https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e39236