Efektivitas produksi ternak sangat bergantung pada reproduksi. Infeksi uterus yang mengakibatkan kelainan reproduksi dapat memperpanjang waktu antara melahirkan dan kehamilan, yang dapat mengakibatkan kerugian finansial yang besar bagi peternakan sapi perah. Salah satu penyakit reproduksi yang umum dan secara signifikan mengurangi keuntungan industri peternakan adalah endometritis. Endometritis adalah peradangan yang terjadi pada mukosa uterus (endometrium), yang merupakan lapisan dalam dinding uterus. Sebagian besar kasus endometritis terjadi karena kontaminasi bakteri pada lumen uterus setelah 3 minggu melahirkan, tergantung pada keseimbangan antara mikroba, imunitas inang, dan faktor lingkungan. Escherichia coli, Fusobacterium necrophorum, Arcanobacterium pyogenes, Trueperella pyogenes, dan Prevotella melaninogenicus adalah bakteri patogen yang paling relevan yang terlibat.
Infeksi bakteri patogenik masuk melalui vagina, melewati serviks, dan mengontaminasi uterus dalam kasus endometritis. Performa reproduksi ternak dapat terpengaruh secara negatif oleh endometritis, yang dapat mengakibatkan kelainan reproduksi sementara (infertil) atau permanen (fertil). Ada 2 jenis endometritis pada sapi: Endometritis subklinis (SCE) dan endometritis klinis (CE). Endometritis subklinis ditandai dengan peningkatan persentase sel polimorfonuklear (PMN) di endometrium tanpa penyakit klinis, sedangkan endometritis klinis didefinisikan sebagai adanya cairan vagina purulen atau mukopurulen yang diidentifikasi 3 minggu atau lebih pascapersalinan. Sapi yang terkena tidak menunjukkan tanda-tanda luar apa pun. Endometritis sering kali bersifat sementara dan hilang dengan sendirinya ketika uterus sapi terpapar berbagai kontaminan bakteri dalam 2 minggu pertama setelah melahirkan.
Tanda klinis utama endometritis meliputi rahim yang membesar dan diameter serviks yang membesar, serta keluarnya cairan vagina yang bernanah. Secara histologis, kelainan ini ditandai oleh banyaknya defek epitel permukaan, infiltrasi sel inflamasi, kongesti vaskular dan edema stroma, serta berbagai tingkat akumulasi limfosit dan sel plasma. Endometritis terus menjadi penyebab utama perkawinan ulang dan bertanggung jawab atas 46% masalah reproduksi pada sapi. Sejumlah masalah reproduksi, termasuk anestrus dan penyakit ovarium kistik, dikaitkan dengan endometritis. Ini adalah salah satu alasan utama penurunan kesuburan pada sapi, bersama dengan retensi plasenta, metritis puerperal, pyometra, dan infeksi uterus nonspesifik lainnya.
Karena endometritis merupakan kondisi yang kompleks, mengidentifikasi komponen yang berkontribusi memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber pengetahuan yang perlu diperhitungkan untuk pencegahan dan terapi. Penelitian sebelumnya telah menemukan sejumlah parameter, termasuk waktu melahirkan, laktasi, distosia, nutrisi, lahir mati, hipokalsemia, aborsi, mastitis, retensi plasenta, metritis, kelahiran kembar, keseimbangan energi negatif, dan siklus ovarium yang tertunda. Sensitivitas teknik diagnostik dan periode pascapersalinan saat pemeriksaan dilakukan menentukan terjadinya endometritis. Dalam kedokteran hewan, pemeriksaan vaginoskopi dan palpasi rektal sering digunakan untuk pemeriksaan. Disarankan untuk mengobati endometritis sesegera mungkin karena dapat menyebabkan pyometra atau memiliki konsekuensi negatif lainnya bagi kesuburan hewan di masa depan.
Kinerja bisnis susu global dipengaruhi secara negatif oleh endometritis; kerugian finansial terkait dengan biaya pengobatan penyakit, produksi susu yang lebih rendah, dimulainya kembali aktivitas ovarium yang tertunda, dan peningkatan jumlah layanan per konsepsi. Sejauh ini, belum banyak kajian yang membahas tentang endometritis pada sapi. Tujuan penulisan kajian ini adalah untuk menjelaskan etiologi, epidemiologi, kasus reproduksi berulang, kisaran inang, patogenesis, respons imun, gejala klinis, diagnosis, penularan, faktor risiko, pengobatan, dan pengendalian endometritis. Mengetahui secara spesifik tentang kondisi reproduksi ini sangat penting untuk memilih tindakan pencegahan dan terapi terbaik guna mengidentifikasi endometritis sejak dini.
Artikel review ini disusun berdasarkan kolaborasi penulisan antara Herry Agoes Hermadi, Aswin Rafif Khairullah, Yenny Damayanti, Erma Safitri, Wiwiek Tyasningsih, Sunaryo Hadi Warsito, Muhammad Khaliim Jati Kusala, Syahputra Wibowo, Ikechukwu Benjamin Moses, Moh.Adiba Kurniawan, Bantari Wisynu Kusuma Wardhani, Saputro Teguh Prasetyo, Dea Anita Ariani Kurniasih, Anggreani Desi Ramadhani Rahajeng, Ima Fauziah, Catherine Britta Vidhianty, Arif Nur Muhammad Ansori, Wasito Wasito, dan Riza Zainuddin Ahmad.
Artikel ini telah terbit pada Trends in Sciences (https://doi.org/10.48048/tis.2025.9587) pada 20 April 2024. Trends in Sciences merupakan jurnal internasional bereputasi dengan CiteScore 1,8; Highest percentile 59% (Q2, 81/200), SJR 0.231, dan SNIP 0.429. Endometritis in Cattle: A Review of Current Understanding and Practical Causes of Repeat Breeding. Trends in Sciences 22(6): 9587, April 2025 | DOI: 10.48048/tis.2025.9587





