Universitas Airlangga Official Website

Enterokolitis Nekrotikan pada Neonatus dengan Ibu Positif Covid-19

Foto by Alodokter

Epidemi COVID-19 di Cina secara cepat menyebar ke berbagai negara dan menjadi masalah kesehatan global yang luas. Sejak dinyatakan menjadi pandemi global di tahun 2019, banyak ibu hamil dan bayinya yang mengalami masalah kesehatan akibat COVID-19. Berdasarkan laporan POGI pada bulan April 2021, terdapat lebih dari 500 kasus dari ibu yang terinfeksi COVID-19, 16 diantaranya meninggal dunia. Ibu hamil merupakan populasi yang rentan terkena COVID-19 dibandingkan dengan populasi dewasa lainnya. Selain itu, COVID-19 dapat meningkatkan risiko komplikasi-komplikasi kehamilan seperti risiko persalinan prematur dan dapat mempengaruhi sistem organ bayi baru lahir. Satu dari beberapa organ yang terpengaruh oleh infeksi COVID-19 adalah sistem gastrointestinal sehingga dapat menyebabkan kejadian Enterokolitis Nekrotikan (EKN) pada neonatus. EKN telah dikenal sebagai inflamasi yang buruk dari sistem gastrointestinal pada neonatus yang seringkali membutuhkan proses operasi. Bayi-bayi dengan EKN mungkin mengalami pertumbuhan yang kurang dan gangguan perkembangan saraf. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi kejadian EKN pada bayi lahir prematur dengan ibu COVID-19 yang mana berkorelasi dengan kondisi ibu yang mengalami RDS selama persalinan, asfiksia dan hasil PCR positif pada bayinya. Bagaimanapun, belum ada penelitian yang meneliti hubungan usia gestasi atau berat lahir dengan peranan infeksi COVID-19 pada ibu hamil dengan bayi EKN. Oleh karena itu perlu adanya penelitian yang menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan EKN pada neonatus yang dirawat dengan ibu positif COVID-19 dan menginvestigasi apakah faktor-faktor tersebut berhubungan dengan kematian pada bayi.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan EKN pada neonatus dengan ibu SARS-CoV-2 serta hubungannya dengan kematian. Subjek dalam penelitian ini adalah neonatus yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Soetomo yang mana ibunya terkonfirmasi positif SARS-CoV-2. Penelitian ini dilakukan dari Mei 2020 – Maret 2021. Terdapat 125 sampel dalam penelitian ini dimana dari 5 neonatus yang mengalami EKN dan hanya satu yang bertahan hidup. Faktor-faktor yang berhubungan secara signifikan dengan EKN adalah bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), usia gestasi rendah, positif SARS-CoV-2, asfiksia, dan mortalitas. Mortalitas secara signifikan berhubungan dengan usia gestasi rendah, lahir sesar, dan asfiksia.

Sejak penyakit SARS-CoV-2 meluas, dampaknya tidak hanya pada beban penyakit tapi juga pada semua aspek kehidupan. Penyebab utama dari mortalitas pada ibu hamil dengan positif COVID-19 adalah kegagalan nafas, pre-eklampsia berat, dan pendarahan. Selain itu faktor-faktor maternal antenatal dapat meningkatkan risiko EKN pada neonatus. Selama pandemi, terlepas dari kebijakan lockdown, ibu hamil di negara kita memiliki ketakutan yang tinggi terhadap fasilitas kesehatan sehingga kondisi kesehatan dan kehamilan mereka tidak terpantau secara baik. Selain itu, persalinan prematur meningkatkan konsekuensi organ-organ yang belum matang dan imunitas pada bayi baru lahir yang bisa membuat neonatus rentan terhadap berbagai infeksi. Pada penelitian ini 5% dari semua neonatus yang lahir dari ibu positif SARS-CoV-2 memiliki hasil PCR positif dari SARS-CoV-2 dan 40% dari mereka mengalami EKN. Meskipun penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa tidak ada bukti yang memadai bahwa terdapat transmisi vertikal dari SARS-CoV-2, ada juga pasien neonatus yang lahir dari ibu terinfeksi SARS-CoV-2 meningkatkan tekanan darah dari antibodi IgM yang melawan SARS-CoV-2 dalam 2 jam kelahiran, yang mana memungkinkan kalau SARS-CoV-2 berpotensi menular secara vertikal, meskipun risikonya kecil. Oleh karena itu, protokol untuk skrining SARS-CoV-2 pada semua ibu hamil dikontrol secara ketat dan dilakukan pemantauan pada bayi baru lahir yang berisiko terkena SARS-CoV-2. Selain faktor-faktor antenatal maternal, terdapat juga faktor nutrisi yang seharusnya menjadi pertimbangan terhadap kejadian EKN pada neonatus dengan ibu positif SARS-CoV-2. Seperti yang telah diketahui, ASI adalah salah satu nutrisi yang paling efektif untuk mencegah EKN. Meskipun coronavirus belum terdekteksi pada ASI, tetap saja waktu yang disediakan untuk ibu dengan infeksi coronavirus untuk menyusui bayinya dibatasi dan ini dapat menyebabkan mekanisme pertahanan yang rendah bagi sistem gastrointestinal bayi. Penelitian ini juga mendemonstrasikan bahwa kejadian EKN berhubungan kuat dengan mortalitas. Berat lahir rendah dan usia gestasi mungkin menjadi faktor yang meningkatkan kematian pada kasus EKN dengan mempertimbangkan bahwa semua pasien EKN dalam penelitian ini memiliki berat lahir rendah dan usia gestasi rendah.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, jumlah sampel dalam penelitian ini cenderung sedikit. Bagaimanapun, infeksi SARS-CoV-2 merupakan penyakit yang baru, sedangkan dampaknya tidak tetap dan bisa sangat berat efeknya pada suatu populasi. Kedua, penelitian ini dilakukan pada gelombang pertama dan di awal gelombang kedua dari pandemi SARS-CoV-2 di Indonesia. Hasilnya mungkin berbeda pada gelombang berikutnya. Oleh karena itu, penelitian jangka panjang diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan lebih jauh dari neonatus yang lahir dari ibu positif SARS-CoV-2.

Penulis : Dr. Risa Etika, dr., SpA(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.1016/j.amsu.2022.103711.

Angelika D, Etika R, Kusumawardani N N, Mithra S, Ugrasena I D G. Observational study on necrotizing enterocolitis in neonates born to SARS-CoV-2-positive mothers. Annals of Medicine and Surgery, 2022 78. Published May 2022