Luka adalah hilang atau rusaknya beberapa jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, bahan kimia, terbakar, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Kerusakan ini menyebabkan tingkat morbiditas yang signifikan di seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang efektif untuk memfasilitasi proses penyembuhan agar cepat pulih. Luka terbuka di permukaan tubuh dapat menyebabkan perdarahan. Pada kasus ringan, perdarahan berhenti dengan cepat, akan tetapi jika cukup lebar dan dalam, maka membutuhkan waktu lebih lama untuk berhenti.
Perdarahan gigi pasca pencabutan dapat menyebabkan komplikasi berat seperti perdarahan yang tidak terkontrol dan infeksi. Luka setelah pencabutan gigi harus dikeringkan dengan baik karena ada berbagai jenis bakteri infeksius di rongga mulut. Pembekuan darah adalah serangkaian proses kompleks untuk mencapai keadaan hemostasis yang mencegah kehilangan darah yang berlebihan setelah cedera. Saat terjadi perdarahan, ada tiga proses utama hemostasis dan koagulasi yang meliputi penyempitan vasokonstriksi, agregasi trombosit, dan aktivasi faktor pembekuan darah. Oleh karena itu, trombosit memiliki peran utama dalam fase hemostatik dengan membentuk sumbat darah dan mengaktifkan faktor pembekuan. Oleh karena itu, pentingnya analisis hemostatik untuk memperkirakan fungsi trombosit, yang dapat dilakukan pada apusan darah tepi di bawah mikroskop cahaya.
Ada beberapa tanaman berkhasiat obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan luka dan mencegah infeksi dengan efek samping yang minimal, sehingga banyak digunakan sebagai tanaman berkhasiat obat. Selain itu, ditemukan bahwa tanaman dengan bahan aktif tersebut berperan penting dalam penyembuhan luka. Di Indonesia, pohon pisang telah terbukti mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, tanin dan lektin yang memiliki berbagai manfaat kesehatan seperti efek antihipertensi dan antidiabetes. Selanjutnya, getah pisang ambon memiliki berbagai efek terapeutik sebagai antioksidan, antibiotik, dan akselerator penyembuhan luka. Aplikasi getah batang pisang ambon pada konsentrasi 30% mempercepat penyembuhan luka dengan meningkatkan ekspresi platelet-derived growth factor-BB (PDGF-BB). Induksi peningkatan PDGF-BB pada pengobatan topikal model hewan coba dengan kondisi penyembuhan luka yang tertunda, telah terbukti mampu meningkatkan perbaikan jaringan.
Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan jumlah trombosit pada apusan darah tepi dan waktu perdarahan dari luka ekor mencit menggunakan ekstrak batang pisang ambon (ABSE) sebagai obat untuk hemostatik.
Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan (Mus musculus), dengan berat antara 20 – 30 g berat badan (BB). Ukuran besar sampel diperoleh dari formulasi studi kesehatan sebanyak 6 sampel setiap kelompok. Pada kelompok kontrol negatif (K-), mencit hanya diberi karboksimetil selulosa (CMC) secara oral. Kelompok kontrol positif (K+) diberi aspirin secara peroral 100 mg/kg BB dengan pelarut CMC 1% selama 7 hari. Kelompok perlakuan-1 (P1) diberi aspirin secara peroral 100 mg/kg BB yang dilarutkan dengan CMC 1% selama 7 hari, dan diberi asam traneksamat secara peroral 50 mg/kg BB, 30 menit sebelum pemotongan ekor. Kelompok perlakuan-2 (P2) diberi aspirin secara peroral yang dilarutkan dalam 1% CMC selama 7 hari, dan diberi ABSE secara peroral konsentrasi 30%, 30 menit sebelum pemotongan ekor. Volume larutan yang diberikan secara oral adalah 1 mL/10 g berat badan.
analisis fitokimia kualitatif pada zat aktif dalam ekstrak batang. Hasil positif diperoleh dari uji flavonoid, tanin dan saponin. Uji flavonoid positif karena warna larutan berubah menjadi jingga kekuning-kuningan. Selain itu uji tanin positif karena terjadi perubahan warna menjadi hijau tua setelah penambahan pereaksi FeCl3. Selanjutnya uji saponin positif karena terlihat terbentuknya buih yang stabil selama kurang lebih 10 menit. Berdasarkan data yang diperoleh, pemberikan asam traneksamat dan ABSE tidak menunjukkan penurunan jumlah trombosit pada pemeriksaan hapusan darah tepi dari luka, dibandingkan dengan kelompok yang diberi aspirin. Kelompok asam traneksamat dan ABSE mendekati jumlah trombosit yang hampir sama dengan kelompok CMC (kontrol negatif). Waktu perdarahan kelompok CMC adalah 115 detik, sedangkan kelompok aspirin adalah 232,5 detik. Hal ini berarti waktu perdarahan pada kelompok aspirin lebih lama dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (CMC). Pemberian asam traneksamat dan ABSE
dapat mempersingkat waktu perdarahan pada luka ekor mencit. Waktu perdarahan pada kelompok ABSE adalah 95 detik, artinya lebih pendek dibandingkan dengan kelompok aspirin. Oleh karena itu, waktu perdarahan ABSE mirip dengan waktu perdarahan kelompok asam traneksamat (82,5 detik). Ini berarti bahwa ABSE memiliki efikasi yang besar sebagai agen hemostatik.
Pemberian ekstrak batang pisang ambon (Musa Paradisiaca var. Sapientum (L.) Kuntze) mempersingkat waktu perdarahan pada luka ekor mencit tanpa mengganggu jumlah trombosit. Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, kami telah menentukan bahwa penting untuk memisahkan dan memurnikan bahan kimia aktif yang ditemukan pada tanaman. Dengan memanfaatkan teknik NMR, kita dapat menganalisis struktur kimia untuk mengidentifikasi molekul aktif yang terlibat dalam proses pembekuan darah.
Penulis: Dr. Hendrik Setia Budi, drg., M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Setia Budi H, Elsayed Ramadan D, Anitasari S, Widya Pangestika E. Estimation of Platelet Count and Bleeding Time of Mice Treated with Musa paradisiaca var. sapientum (L.) Kuntze Extract. J Exp Pharmacol. 2022;14:301-308. https://doi.org/10.2147/JEP.S358105





