Udara merupakan elemen penting dan tak tergantikan bagi kehidupan manusia. Kualitas udara yang bersih merupakan faktor utama untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan manusia. Saat ini kualitas udara Indonesia sedang dalam kondisi yang tidak baik terkhusus di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan data satelit, polusi udara terkonsentrasi di wilayah Jawa, khususnya di wilayah metropolitan Jakarta dan sebagian wilayah Sumatera. Udara yang terkontaminasi oleh polutan seperti partikel debu, bahan kimia berbahaya, dan gas beracun dapat menyebabkan masalah pernapasan seperti iritasi saluran pernapasan, batuk, asma, dan bahkan penyakit pernapasan serius seperti penyakit paru obstruktif kronis. Di DKI Jakarta, rata-rata penduduknya diperkirakan kehilangan 5,5 tahun harapan hidup jika tingkat polusi udara terus berlanjut sepanjang hidupnya. Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap pencemaran udara adalah gas nitrogen dioksida (NO2). NO2 berkontribusi terhadap polusi partikel dan endapan asam serta merupakan prekursor ozon, penyebab utama kabut fotokimia. Konsentrasi NO2 meningkat secara signifikan akibat aktivitas antropogenik, dengan sebagian besar dihasilkan oleh aktivitas transportasi dan industri.
Menurut website resmi website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Februari 2023, terdapat 11 lokasi pemantauan kualitas udara di DKI Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar NO2 beragam antar lokasi. Pengukuran NO2 di 11 lokasi pantau tersebut tampaknya belum cukup menggambarkan kadar NO2 di area-area lain di DKI Jakarta yang tidak terpantau dengan alat ukur, karena adanya keberagaman karakteristik wilayah. Di luar 11 lokasi pantau tersebut, pemerintah perlu mengetahui kondisi udara di beberapa wilayah lain yang tidak teramati. Hal ini agar dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengambilan kebijakan dalam pengendalian tingkat pencemaran udara NO2 di DKI Jakarta, dalam rangka pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera. Oleh karena itu, perlu dilakukan estimasi konsentrasi NO2 di beberapa area publik lain di DKI Jakarta. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam estimasi ini adalah Co-Kriging yang mempertimbangkan variabel sekunder untuk memprediksi variabel primer. Dalam penelitian ini, variabel Sulfur Dioksida (SO2) menjadi variabel sekunder yang dianggap dapat memprediksi variabel primer NO2. SO2 adalah zat pencemar yang dapat menyebabkan hujan asam dan pencemaran partikel aerosol sulfat. Co-Kriging memanfaatkan cross covariance antara data variabel primer dan sekunder untuk meningkatkan akurasi prediksi. Dengan demikian diharapkan metode ini menghasilkan akurasi prediksi yang lebih baik dari metode interpolasi lainnya.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang terdiri dari kandungan NO2 dan SO2 dalam µppm. Data tersebut bersumber dari publikasi di website BMKG untuk kandungan kualitas udara pada Februari 2023. Pengukuran kadar NO2 dilakukan dengan metode gas pasif menggunakan peralatan passive sampler di delapan lokasi yaitu Ancol, Bandengan (Delta), Bivak, Grogol, Kemayoran, Kementen, TMII, dan Monas. Analisis sampel dilakukan di laboratorium kualitas udara BMKG menggunakan spektrofotometer. Sedangkan pengukuran gas SO2 di delapan lokasi tersebut menggunakan alat kromatografi ion.
Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kadar NO2 di Tanjung Priok yang merupakan wilayah pesisir memiliki nilai paling tinggi dibandingkan wilayah lain. Hal ini dimungkinkan karena memang kondisi lingkungan di kawasan sekitar Tanjung Priok sangat padat. Tanjung Priok terletak di Kota Administratif Jakarta Utara, Indonesia, yang dikenal sebagai pelabuhan utama Indonesia dan salah satu pelabuhan tersibuk di Asia. Selain itu, Tanjung Priok juga merupakan pusat industri dan perdagangan di Jakarta Utara, dengan pelabuhan, dermaga, gudang, fasilitas logistik, dan industri pengolahan di sekitarnya. Meskipun masih di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan BMKG sebesar 80 μppm, namun perlu ada penanganan khusus untuk mengatasi polutan NO2 di Tanjung Priok agar tidak semakin memburuk.
Penulis: Dr. Toha Saifudin
Informasi detil dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/barekeng/article/view/9107/7173





