Dalam dunia forensik, identifikasi korban sering kali menjadi tugas yang rumit, terutama dalam kasus bencana massal atau kejahatan di mana catatan identitas tidak tersedia. Sebagai bagian dari pedoman Disaster Victim Identification (DVI) tahun 2023, Interpol merekomendasikan tiga metode utama untuk mengidentifikasi manusia: analisis DNA, sidik jari, dan catatan gigi. Di antara metode tersebut, identifikasi gigi telah menunjukkan potensi besar karena gigi menyimpan banyak informasi penting, seperti jenis kelamin, usia, dan afinitas populasi. Selain itu, gigi cenderung lebih tahan lama dibandingkan jaringan tubuh lainnya, sehingga dapat diandalkan dalam kondisi ekstrem.
Penentuan usia melalui gigi, atau estimasi usia gigi, telah menjadi fokus utama dalam berbagai penelitian forensik. Usia yang akurat penting untuk banyak keperluan hukum, termasuk penegakan hukum dalam hal tanggung jawab kriminal, penentuan usia saat masuk sekolah, menikah, atau bekerja. Selain itu, estimasi usia sangat berguna dalam identifikasi korban bencana atau kejahatan yang tidak dapat diidentifikasi secara konvensional.
Studi terbaru yang dilakukan di Indonesia mengeksplorasi dua metode utama dalam estimasi usia gigi pada anak-anak dan remaja, yaitu Metode Nolla dan London Atlas of Tooth Developments. Penelitian ini melibatkan analisis 104 radiografi panoramik gigi (Orthopantomograms atau OPG) dengan tujuan menilai keakuratan dua pendekatan tersebut dalam mengestimasi usia anak-anak Indonesia.
Metode Nolla, yang mengklasifikasikan perkembangan gigi menjadi sepuluh tahap berdasarkan tingkat kalsifikasi tujuh gigi permanen, dinilai lebih tepat dalam menentukan usia biologis dibandingkan London Atlas, terutama dalam kelompok usia tertentu. Sementara London Atlas, yang menggunakan pendekatan atlas atau peta perkembangan gigi, menunjukkan kecenderungan melebih-lebihkan usia anak-anak dan remaja. Meski begitu, kedua metode ini terbukti memiliki korelasi yang signifikan dengan usia kronologis, menjadikannya alat penting dalam penentuan usia di ranah forensik.
Namun, hasil studi ini juga menyoroti perbedaan perkembangan gigi yang bisa terjadi antar populasi. Studi lain menunjukkan bahwa variasi etnis dan populasi dapat memengaruhi hasil estimasi usia, karena perkembangan gigi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan. Misalnya, penelitian yang dilakukan pada populasi Turki dan Brasil menunjukkan hasil yang berbeda dengan studi pada populasi Eropa, meski menggunakan metode yang sama. Oleh karena itu, para peneliti menyarankan pengembangan standar estimasi usia gigi yang spesifik untuk populasi tertentu, termasuk Indonesia, guna meningkatkan akurasi hasil.
Pentingnya estimasi usia gigi dalam identifikasi forensik tidak dapat diabaikan. Di Indonesia, yang rawan bencana alam dan memiliki populasi besar dengan catatan sipil yang terkadang kurang lengkap, metode ini menjadi kunci dalam mengidentifikasi korban bencana atau kejahatan. Selain itu, dalam kasus-kasus hukum yang melibatkan anak-anak atau remaja, penentuan usia secara akurat dapat memengaruhi keputusan hukum, termasuk penegakan undang-undang yang berkaitan dengan usia.
Penelitian ini juga memberikan wawasan penting untuk perawatan gigi ortodontik. Sebagai bagian dari perencanaan perawatan ortodontik, penentuan usia gigi sangat penting untuk menentukan waktu terbaik dalam memulai terapi, seperti pemasangan kawat gigi. Penundaan dalam memulai perawatan ortodontik bisa memperpendek durasi perawatan dan meningkatkan stabilitas hasil.
Metode Nolla dan London Atlas: Kelebihan dan Keterbatasan
Metode Nolla terbukti sangat andal dalam mengestimasi usia gigi pada populasi Indonesia, dengan margin kesalahan yang relatif kecil. Metode ini mengkategorikan tahap perkembangan gigi secara detail, yang menjadikannya sangat berguna untuk anak-anak yang berada dalam rentang usia kritis 9 hingga 11 tahun. Studi ini juga menunjukkan bahwa metode Nolla cenderung lebih akurat untuk anak laki-laki daripada perempuan, sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya di beberapa populasi lainnya.
Sebaliknya, London Atlas menunjukkan kecenderungan untuk melebih-lebihkan usia baik pada anak laki-laki maupun perempuan, dengan margin kesalahan lebih tinggi. Namun, atlas ini tetap menjadi alat yang berguna dalam situasi di mana metode lain tidak dapat digunakan, terutama karena kemudahan penggunaannya dan ketersediaan data atlas perkembangan gigi secara luas.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa tidak ada metode yang sempurna untuk estimasi usia gigi di semua populasi. Keakuratan metode sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ukuran sampel, distribusi populasi, dan analisis statistik yang digunakan. Karena itu, penting bagi para ahli forensik di Indonesia untuk terus mengembangkan metode yang sesuai dengan karakteristik populasi setempat.
Hasil penelitian ini memperkuat urgensi pengembangan metode estimasi usia gigi yang lebih spesifik untuk populasi Indonesia. Selain memberikan kontribusi bagi identifikasi forensik, hasil penelitian ini juga berpotensi mendukung berbagai aspek hukum, termasuk dalam penegakan hak asasi manusia dan tanggung jawab pidana anak-anak dan remaja. Pengembangan lebih lanjut di bidang ini diharapkan dapat membawa kemajuan signifikan dalam praktik forensik di Indonesia, sekaligus memberikan alat yang lebih akurat dan andal dalam mendukung upaya identifikasi korban bencana dan kejahatan.
Studi ini menyoroti bahwa meskipun metode Nolla dan London Atlas bermanfaat, pendekatan yang lebih spesifik dan terperinci sangat diperlukan agar hasil estimasi usia gigi dapat semakin mendekati usia kronologis sebenarnya. Bagi Indonesia, di mana identifikasi korban kerap menjadi tantangan dalam kondisi bencana, penelitian ini merupakan langkah penting menuju sistem forensik yang lebih efisien dan akurat.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Link Artikel: https://doi.org/10.52083/UJVG7422
Baca juga: Penerapan Artificial Intelligence untuk Estimasi Usia Gigi di Bidang Odontologi Forensik





