Gelatin merupakan bahan standar dalam pembuatan kapsul cangkang keras, namun keterbatasan sumber hewani serta kebutuhan alternatif berbasis nabati mendorong eksplorasi material pengganti yang aman dan fungsional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi hidrolisat karagenan (HC) dan kombinasi hidrolisat karagenan–maltodekstrin (HC–MD) sebagai bahan kapsul cangkang keras non-gelatin, dengan fokus pada karakteristik mekanik, wettability, swelling, waktu disintegrasi, serta profil pelepasan eritromisin pada berbagai kondisi pH yang merepresentasikan lingkungan saluran cerna.
Kapsul dibuat melalui metode dip-coating menggunakan pin kapsul ukuran 0, dengan formulasi gelatin 20% (b/b), HC 20% (b/b), dan HC–MD (total 20% (b/b) pada rasio HC:MD = 6:1), ditambah sorbitol 1,5% sebagai plastisiser. Proses pengeringan dilakukan pada 60°C selama 60 menit, kemudian kapsul diisi eritromisin sebanyak 500 mg per kapsul. Semua formulasi memenuhi uji variasi bobot dengan rata-rata massa isi yang konsisten (sekitar 502–504 mg). Evaluasi mekanik menunjukkan bahwa HC–MD memiliki kekuatan tertinggi, diikuti HC, lalu gelatin (elastic stiffness dan tensile force meningkat signifikan pada formulasi dengan MD). Pengujian kadar air menunjukkan nilai yang relatif sebanding pada ketiga kapsul, yakni sekitar 15–17%, sehingga perbedaan performa terutama disebabkan oleh komposisi polimer, bukan kadar air.
Secara fungsional, kapsul berbasis karagenan memperlihatkan kemampuan hidrasi yang jauh lebih tinggi dibanding gelatin. Nilai swelling gelatin hanya sekitar 124%, sedangkan HC meningkat hingga 365% dan HC–MD mencapai 376%, menunjukkan kapasitas penyerapan air yang sangat besar. Wettability turut mendukung temuan ini: sudut kontak gelatin sebesar 44,6°, lebih tinggi dibanding HC (39,2°) dan HC–MD (40,3°), menandakan permukaan gelatin relatif lebih sulit dibasahi. Sejalan dengan peningkatan hidrasi, waktu disintegrasi rata-rata menunjukkan HC paling cepat (10,83 menit), diikuti HC–MD (12,50 menit), sementara gelatin paling lambat (14,83 menit). Dalam uji disolusi, pelepasan eritromisin menunjukkan ketergantungan kuat terhadap pH. Pada pH 1,2, gelatin cenderung memperlihatkan pelepasan yang relatif lebih baik dibanding kapsul karagenan, yang diduga akibat kelarutan karagenan yang menurun pada kondisi sangat asam. Namun pada pH 4,5 dan 6,8, kapsul HC dan HC–MD memperlihatkan pelepasan eritromisin yang lebih tinggi dibanding gelatin, konsisten dengan tingkat swelling dan disintegrasi yang lebih cepat. Studi kinetika pelepasan memperlihatkan kecocokan terhadap beberapa model (zero-order, first-order, Higuchi, Hixson–Crowell), yang mengindikasikan pelepasan dikendalikan oleh kombinasi difusi dan perubahan luas permukaan kapsul.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa HC dan terutama HC–MD berpotensi menjadi bahan kapsul cangkang keras non-gelatin dengan keunggulan pada kekuatan mekanik, hidrasi, dan performa pelepasan obat pada pH mendekati netral hingga basa. Temuan ini mendukung pengembangan kapsul nabati sebagai alternatif gelatin, namun masih diperlukan studi lanjutan untuk optimasi proses produksi, evaluasi stabilitas termal, dan validasi performa yang lebih komprehensif.





