Universitas Airlangga Official Website

Evaluasi lapangan pengobatan herbal etnoveteriner untuk pengelolaan kesehatan bebek berkelanjutan pada sistem peternak kecil di Desa Palembon, Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Peternakan bebek merupakan komponen penting mata pencaharian pedesaan di seluruh Indonesia, di mana rumah tangga petani kecil mengintegrasikan unggas ke dalam sistem pertanian campuran tanaman-ternak untuk mendiversifikasi pendapatan, meningkatkan ketahanan pangan, dan mengoptimalkan interaksi agroekologis [1,2]. Bebek menyediakan telur dan daging untuk pasar lokal sekaligus memberikan jasa ekologis seperti pengendalian hama di sawah dan daur ulang nutrisi melalui pengendapan pupuk kandang. Peran multifungsi ini menjadikan produksi bebek sangat berharga di lingkungan pedesaan yang kekurangan sumber daya, di mana ketahanan pertanian bergantung pada sistem produksi terpadu dan adaptif [1]. Terlepas dari manfaat tersebut, produksi bebek skala kecil tetap sangat rentan terhadap kendala ekonomi dan kesehatan. Meningkatnya biaya pakan, terbatasnya akses ke layanan veteriner, dan wabah penyakit yang berulang sering mengurangi produktivitas dan meningkatkan angka kematian [3]. Di banyak daerah pedesaan, petani menghadapi keterbatasan ketersediaan layanan diagnostik, vaksin, dan agen antimikroba, yang mengakibatkan keterlambatan pengobatan dan kerugian ekonomi yang dapat dicegah [4]. Implementasi biosekuriti seringkali tidak konsisten, yang semakin meningkatkan kerentanan terhadap penyakit menular [2]. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat umumnya bergantung pada sistem pengetahuan tradisional untuk perawatan kesehatan hewan. Pengobatan etnoveteriner (EVM) mencakup kepercayaan, praktik, dan pengobatan berbasis tumbuhan yang dikembangkan melalui pengalaman lokal selama beberapa generasi untuk menjaga kesehatan hewan [5]. Di seluruh Asia dan Afrika, pengobatan etnoveteriner tetap banyak diterapkan dalam sistem unggas karena aksesibilitas, keterjangkauan, dan penerimaan budaya [6,7]. Di Indonesia, petani sering menggunakan daun pepaya (Carica papaya) untuk gangguan pencernaan, kunyit (Curcuma longa) untuk peradangan dan stimulasi kekebalan tubuh, jahe (Zingiber officinale) untuk meningkatkan nafsu makan, dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza ) untuk tujuan antimikroba dan hepatoprotektif [8].

Fokus global yang diperbarui pada resistensi antimikroba semakin meningkatkan minat pada pendekatan fitoterapi . Penggunaan antibiotik yang berlebihan dalam produksi ternak berkontribusi pada munculnya patogen resisten yang berdampak pada kesehatan hewan dan manusia [4]. Banyak tanaman obat mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, dan minyak esensial dengan sifat antimikroba, antiinflamasi, dan antiparasit yang telah terbukti [5]. Akibatnya, strategi etnoveteriner dapat mewakili alternatif yang disesuaikan dengan konteks yang mendukung kesehatan hewan sekaligus mengurangi ketergantungan farmasi. Namun, meskipun praktik etnoveteriner tertanam secara budaya, penerapannya seringkali empiris dan kurang memiliki dosis standar, metode persiapan, dan orientasi pencegahan [8]. Sebagian besar studi yang ada tetap bersifat deskriptif atau inventaris etnobotani tanpa evaluasi kuantitatif intervensi pendidikan atau perilaku [6,9]. Bukti empiris yang menilai apakah pelatihan terstruktur dapat meningkatkan pengetahuan petani dan mendorong penggunaan obat herbal yang lebih sistematis dalam sistem khusus bebek masih terbatas. Studi ini mengatasi kesenjangan ini melalui evaluasi kuasi-eksperimental berbasis lapangan di Desa Palembon , Indonesia. Kami berhipotesis bahwa pendidikan etnoveteriner terstruktur akan secara signifikan meningkatkan pengetahuan petani tentang pengobatan herbal untuk manajemen kesehatan bebek. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat pengetahuan dasar, mengevaluasi hasil pembelajaran pasca intervensi, dan memeriksa implikasinya terhadap sistem peternakan skala kecil yang berkelanjutan. Dengan memperkuat praktik perawatan kesehatan hewan yang berakar pada budaya namun berdasarkan bukti, penelitian ini berkontribusi pada upaya yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani skala kecil, mempromosikan sistem pertanian berkelanjutan, dan mendukung ketahanan pangan pedesaan [1].

Penulis: Dr. Rimayanti, drh., M.Kes

Link: https://www.researchgate.net/publication/401358536_Field_evaluation_of_ethnoveterinary_herbal_medicine_for_sustainable_duck_health_management_in_smallholder_systems_in_Palembon_Village_Indonesia