Psoriasis adalah penyakit autoimun yang dimanifestasikan sebagai plak bersisik merah tebal kronis dan berulang pada kulit. Penyakit ini dipengaruhi oleh kerentanan genetik, proses imunologi, dan faktor pencetus dari lingkungan dan sering disertai radang sendi, kelainan jantung dan pembuluh darah, dan gangguan psikososial. Angka kasus psoriasis berkisar antara 0,09-11,4% dari populasi global. Di Asia, kasus psoriasis sekitar 0,4%. Dipercaya bahwa 2-6 juta orang Indonesia menderita psoriasis. Perawatan topikal seperti kalsipotrien, kortikosteroid, tar, dan anthralin; fototerapi dengan ultraviolet B (UVB) dan psoralen dengan ultraviolet A (PUVA); obat imunosupresan sistemik seperti acitretin, metotreksat, dan siklosporin tersedia untuk psoriasis.
Metotreksat, antagonis asam folat, memberikan efek antimitotik pada lapisan kulit dengan menghambat pembentukan DNA. Siklosporin adalah siklik dekapeptida yang memiliki efek menekan peradangan. Mekanisme kerjanya pada psoriasis menghambat aktivasi sel T helper, dan sitokin seperti interleukin-2 (IL-2). Siklosporin dan metotreksat telah lama ada digunakan untuk mengobati psoriasis sedang hingga berat. Di Indonesia, kedua agen tersebut masih dianggap sebagai pengobatan sistemik lini pertama untuk moderat sampai psoriasis berat. Beberapa uji klinis telah dilakukan menunjukkan bahwa metotreksat dan siklosporin adalah terapi yang efektif untuk moderat psoriasis berat. Ada juga beberapa studi yang menggabungkan dua obat bersama-sama untuk mengobati psoriasis vulgaris dan psoriasis kuku. Menurut penelitian meta-analisis baru-baru ini, kedua obat tersebut kurang efektif dibandingkan agen biologis yang lebih efektif dan aman. Agen biologis semakin banyak dipilih pada negara maju, sedangkan terapi sistemik konvensional mulai ditinggalkan. Penggunaan agen biologis di negara berkembang seperti Indonesia dibatasi oleh harga yang relatif tinggi. Sebagai hasilnya, pengobatan sistemik konvensional, khususnya metotreksat dan siklosporin, tetap menjadi pengobatan pilihan dalam praktek klinis. Efektifitas kedua obat ini pada pasien di Indonesia harus dievaluasi.
Metotreksat dan siklosporin adalah dua agen sistemik yang secara tradisional digunakan untuk mengobati psoriasis sedang-berat. Keparahan psoriasis menjadi penilaian penting untuk memutuskan pilihan pengobatan. Ada banyak pilihan yang tersedia untuk tujuan ini, menurut Body Surface Area (BSA), Physician Global Assessment (PGA), PASI, dan Dermatology Life Quality Index (DLQI). PASI dan DLQI adalah metode yang paling sering digunakan menentukan keparahan psoriasis secara klinis, terutama untuk terapi sistemik pasien. Berdasarkan Skor PASI, kategori keparahan terbagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang, berat. Psoriasis ringan ditandai sebagai PASI 5, sedang dengan 5-10, dan psoriasis berat dengan PASI >10.
Metotreksat dan siklosporin efektif dalam mengobati psoriasis parah pada suatu rumah sakit tersier Indonesia. Skor PASI berkurang secara signifikan pada pasien yang menerima siklosporin atau metotreksat dalam penelitian ini. Siklosporin lebih efektif, namun perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Sebuah meta-penelitian analisis menemukan bahwa siklosporin lebih efektif daripada metotreksat dalam mencapai PASI-75, meskipun secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan. Penelitian Heydendael pada tahun 2003 menunjukkan bahwa pemberian metotreksat 15 mg/minggu dan siklosporin 3 mg/hari selama 16 minggu dapat menurunkan skor PASI pada 94% pasien dengan setidaknya 25%. PASI-75 dicapai oleh 60% subjek dalam kelompok metotreksat dan 71% pada kelompok siklosporin. Flystrom et al. melakukan studi klinis lain pada tahun 2007 yang mengevaluasi metotreksat dan siklosporin tanpa plasebo. Perubahan rata-rata skor PASI pada kelompok siklosporin adalah 72% dan 58% pada kelompok metotreksat, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik. Sandhu et al. menemukan bahwa kedua obat tersebut efektif untuk psoriasis berat. Metotreksat lebih unggul efektivitas dalam uji klinis ini, menurunkan Skor PASI sebesar 98,5% dibandingkan dengan 85,6% pada kelompok siklosporin setelah 12 minggu pemberian.
Baik metotreksat dan siklosporin memiliki efek samping yang harus diperhatikan, karena terjadi pada lebih banyak dari separuh pasien dalam penelitian tertentu. Studi Heydendael mengungkapkan efek samping metotreksat, sebanyak 14 pasien dalam kelompok metotreksat drop out karena peningkatan enzim hati yang tidak normal. Efek samping lain yang dilaporkan termasuk mual, terutama pada hari pemberian obat, ketidaknyamanan otot, kelelahan, dan parestesia di jari. Peningkatan kadar kreatinin adalah yang paling umum efek samping siklosporin, diikuti oleh tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol, depresi, dan sakit kepala. Keterbatasan penelitian ini meliputi kesulitan dalam menunjukkan efek samping jangka panjang metotreksat dan siklosporin setelah selesai pemberian pengobatan karena beberapa pasien melewatkan kunjungan rawat jalan lanjutan.
Metotreksat dan siklosporin tampaknya berhasil mengurangi keparahan klinis psoriasis berat, dengan pasien siklosporin memiliki penurunan skor PASI yang lebih tinggi tetapi lama tinggal di rumah sakit lebih lama. Sangat penting untuk mengevaluasi respon klinis terhadap terapi tersebut sebelum beralih ke obat biologis.
Penulis : Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)
Evaluation of methotrexate and cyclosporine for severe psoriasis: A retrospective analysis from tertiary hospital in Indonesia
Menul Ayu Umborowati, Made Putri Hendaria, Sylvia Anggraeni, Irmadita Citrashanty, Damayanti, Afif Nurul Hidayati, Anang Endaryanto, Ingrid S Surono, Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada: https://www.jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/1997





