Indonesia merupakan salah satu negara yang menghadapi beban gizi ganda. Beban gizi ganda yang dimaksud adalah kasus gizi kurang dan gizi lebih. Salah satu kasus gizi kurang yang menjadi target penyelesaian oleh Pemerintah dan dari WHO (World Health Organization) adalah pentingnya upaya penurunan kasus stunting.
Akhir tahun 2017 Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia bersama lembaga terkait membuat Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Kondisi stunting pada anak dapat menimbulkan permasalahan yang cukup kompleks tidak hanya pada anak tapi juga bagi negara. Beberapa konsekuensi dari tingginya kasus stunting didiantaranya pengeluaran biaya yang cukup besar, peningkatan risiko kematian anak, terganggunga perkembangan kognitif dan motorik anak, menurunnya kecerdasan anak saat sekolah dan turunnya produktivitas di masa depan.
Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, beberapa Provinsi masih terdapat angka prevalensi kejadian stunting diatas 40%. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya berhasil mencapai target dari kesepakatan World Health Assembly pada tahun 2012 untuk menurunkan angka kejadian stunting sampai 40%.
Penyelesaian kasus stunting tidak dapat dilakukan dalam durasi waktu singkat. Oleh karena itu diupayakan beberapa riset penunjang terkait faktor apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya kasus stunting di Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari Survei Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2018 pada Balita (bawah lima tahun) menggunakan path analysis, terdapat beberapa faktor penting yang berperan dalam kasus stunting di Indonesia, diantaranya riwayat lahir bayi dengan status BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), riwayat Pemberian Makanan Tambahan (PMT), riwayat penyakit infeksi, riwayat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) serta riwayat pemberian vitamin A.
Riwayat Bayi dengan BBLR memiliki nilai efek kepada kejadian stunting sebesar 9%. Kejadian BBLR dapat dicegah dengan rutin melakukan Antenatal Care (ANC) di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas yang diperoleh secara gratis. Dengan rutin melakukan ANC maka seorang ibu dapat terpantau gizi dan status kesehatannya selama hamil sehingga dapat mencegah bayi lahir dengan BBLR. Ibu hamil akan mendapatkan beberapa pelayanan seperti konseling tanda komplikasi, pemeriksaan tekanan darah, deteksi dini penyulit kehamilan, asupan gizi seimbang, pemberian vitamin, pemeriksaan gigi hingga konseling mental ibu hamil.
Riwayat penyakit infeksi yang pernah diderita anak memberikan pengaruh sebesar 2% terhadap kejadian stunting. Penyakit infeksi dapat mengakibatkan asupan pangan menurun sehingga absorbsi zat gizi terganggu yang berdampak pada kejadian stunting. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi riwayat infeksi anak berdasarkan hasil path analysis adalah kebiasaan merokok ayah, kebiasaan cuci tangan ibu, pemberian ASI serta pengolahan tinja di rumah.
Survei rumah tangga di perdesaan dan perkotaan di Indonesia juga menemukan bahwa perilaku merokok berhubungan dengan stunting. Merokok dapat menghambat kemajuan status gizi anak melalui kejadian infeksi saluran pernafasan bawah. Selain itu, pendidikan ibu dapat mempengaruhi kebiasaan cuci tangan ibu. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya stunting.
Ibu yang tidak tamat SD memiliki risiko 1,44 kali lebih besar memiliki anak stunting pada usia 24-59 bulan. Peran orang tua penting bagi pembentukan kebiasaan makan anak mulai dari mengatur menu, berbelanja, memasak, menyiapkan makanan serta menyajikan makanan. Keluarga merupakan pembawa pengaruh utama dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan sikap anak, sehingga penguatan calon pengantin dari segi pendidikan harus diperhatikan. Pendidikan yang tinggi seringkali dikaitkan dengan pendapatan dan status sosial ekonomi yang cukup sehingga gizi anak diperhatikan.
Riwayat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) memberikan pengaruh sebesar 1% terhadap kasus stunting. Keberhasilan IMD akan mengurangi risiko stunting karena bayi mendapat kolostrum yang penting bagi kekebalan tubuh untuk menghindari risiko terkena infeksi. Seorang ibu yang berhasil IMD akan meningkatkan keberhasilan untuk menyusui anaknya di kemudian hari. Seorang anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif sejak dini akan berisiko lebih besar mengalami stunting.
Riwayat pemberian vitamin A juga memberikan pengaruh sebesar 1% terhadap kasus stunting. Anak yang tidak mendapatkan vitamin A berpeluang 2,4 kali lebih besar mengalami stunting. Meskipun pemerintah telah mencanangkan rutinitas pembagian vitamin A pada balita dua kali dalam setahun, orang tua tetap harus menyediakan makanan sumber vitamin A di rumah seperti telur, tongkol atau pindang.
Beberapa faktor diatas dapat menjadi pertimbangan untuk dilakukan intervensi utamanya dari segi peningkatan pendidikan calon orang tua agar pencegahan kasus stunting dapat dilakukan sejak dini.
Penulis: Indah Lutfiya
Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link berikut ini:





