Laporan keuangan adalah catatan penting yang harus disiapkan perusahaan pada setiap akhir periode, yang memberikan gambaran penting tentang posisi dan kinerja keuangan mereka. Namun, pentingnya pernyataan-pernyataan ini dapat menyebabkan beberapa manajer memanipulasi pernyataan-pernyataan tersebut untuk memberikan citra yang terlalu positif, sehingga melemahkan keakuratan pernyataan-pernyataan tersebut dan berpotensi merugikan pemangku kepentingan. Pelaporan palsu seperti itu, meskipun tidak sering terjadi, namun sangat merugikan, dengan kerugian yang dilaporkan mencapai jutaan di seluruh dunia. Di Indonesia misalnya, kasus terjadi di berbagai sektor, termasuk kasus besar di perusahaan seperti PT. Garuda Indonesia dan PT Bank Bukopin Tbk. Pelaporan keuangan yang curang melibatkan praktik penipuan yang salah menyajikan data keuangan, sering kali dilakukan secara internal, sehingga menyulitkan pendeteksiannya.
Metode seperti model Beneish M-score digunakan untuk mengidentifikasi potensi manipulasi melalui rasio keuangan. Fenomena kecurangan dalam pelaporan keuangan tidak hanya terjadi di Indonesia namun meluas secara global, berdampak pada industri seperti perbankan, dimana korupsi dan penyelewengan aset juga sering terjadi. Upaya untuk memerangi penipuan tersebut mencakup penelitian berkelanjutan mengenai metode deteksi dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku penipuan, yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan keandalan dalam pelaporan keuangan, yang penting untuk pengambilan keputusan dan menjaga kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan kecurangan laporan keuangan: perspektif teori penipuan pentagon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian eksplanatori dengan menerapkan data sekunder pada perusahaan perbankan syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tekanan eksternal mempengaruhi penipuan laporan keuangan, pemantauan yang tidak efektif mempengaruhi penipuan laporan keuangan, kualitas auditor eksternal mempengaruhi penipuan laporan keuangan, pergantian auditor mempengaruhi penipuan laporan keuangan, seringnya jumlah CEO mempengaruhi penipuan laporan keuangan, tekanan eksternal mempengaruhi ukuran perusahaan, pemantauan yang tidak efektif mempengaruhi perusahaan ukuran, kualitas auditor eksternal mempengaruhi ukuran perusahaan, pergantian auditor mempengaruhi ukuran perusahaan, frekuensi jumlah CEO mempengaruhi ukuran perusahaan, ukuran perusahaan mempengaruhi penipuan laporan keuangan, ukuran perusahaan memediasi hubungan tersebut antara tekanan eksternal terhadap kecurangan laporan keuangan, ukuran perusahaan memediasi hubungan antara tidak efektifnya pemantauan terhadap kecurangan laporan keuangan, ukuran perusahaan memediasi hubungan antara kualitas auditor eksternal dengan kecurangan laporan keuangan, ukuran perusahaan memediasi hubungan antara pergantian auditor dan kecurangan laporan keuangan, ukuran perusahaan memediasi hubungan antara seringnya jumlah gambar CEO dan penipuan laporan keuangan.
Kutipan dari penelitian ini menyoroti beberapa faktor penting yang mempengaruhi penipuan laporan keuangan dalam organisasi. Tekanan eksternal, yang berasal dari tuntutan pihak ketiga seperti kreditor dan investor, menimbulkan risiko signifikan yang berpotensi memaksa manajemen untuk memanipulasi laporan keuangan untuk memenuhi ekspektasi, sebagaimana dicatat oleh Skousen dkk. (2009). Pemantauan yang tidak efektif, ditandai dengan kurangnya pengawasan dari dewan dan komite audit, menciptakan peluang terjadinya penipuan karena lemahnya pengendalian internal yang gagal mendeteksi atau mencegah pelanggaran. Kehadiran komisaris independen sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pemantauan dan mengurangi kerentanan tersebut. Kualitas audit juga menjadi hal yang sangat penting; Auditor dengan kualitas lebih tinggi lebih mahir dalam mengungkap aktivitas penipuan, khususnya dalam lingkungan di mana pengendalian internal diabaikan oleh manajemen, sehingga memengaruhi integritas pelaporan keuangan secara keseluruhan.
Pergantian auditor, terkadang dilakukan untuk menghindari deteksi, dapat mengganggu kesinambungan pengawasan dan berpotensi memfasilitasi praktik penipuan dengan mengaburkan penyimpangan yang terjadi sebelumnya. Frekuensi gambar CEO dalam laporan tahunan menandakan arogansi CEO, yang berpotensi menyebabkan pengabaian terhadap pengendalian internal, sehingga meningkatkan risiko perilaku curang. Ukuran perusahaan selanjutnya memediasi dinamika ini; perusahaan-perusahaan besar, yang menghadapi biaya keagenan yang lebih tinggi dan tekanan eksternal yang lebih besar, mungkin menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap penipuan kecuali jika terdapat tata kelola yang kuat dan mekanisme pemantauan yang ketat untuk memitigasi risiko-risiko ini secara efektif. Temuan ini menggarisbawahi hubungan rumit antara tekanan eksternal, tata kelola internal, kualitas audit, karakteristik CEO, dan ukuran organisasi dalam membentuk kemungkinan dan deteksi penipuan laporan keuangan
Author: Sarwenda Biduri and Bambang Tjahjadi
Journal of Islamic Accounting and Business Research
Emerald Publishing Limited
ISSN 1759-0817
DOI https://doi.org/10.1108/JIABR-08-2022-0213
Link Jurnal: https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/JIABR-08-2022-0213/full/html





