Dilatar belakangi oleh etidakkonsistenan hasil penelitian sebelumnya, dan fenomena gap yaitu sukuk korporasi yang semakin meningkat dalam beberapa tahun, oleh karena itu penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang diturunkan dari tiga teori dan menghasilkan tiga variabel financial disclosure quality (FDQ), accounting based risks (ABRs) dan earnings management (EM).
Secara umum, hasil penelitian ini sejalan dengan teori agensi, asimetri, dan signaling. Teori ini mengasumsikan bahwa semua pemangku kepentingan (khususnya investor sebagai agen dan manajemen sebagai prinsipal) harus fokus, minat, dan lebih memperhatikan perusahaan mereka dalam rangka mencapai GCG, sehingga kinerja perusahaan yang lebih baik (ditunjukkan oleh peringkat Sukuknya) dapat diperoleh. Penelitian ini menyetujui bahwa FDQ dan ABRs berpengaruh signifikan dan positif terhadap peringkat Sukuk, sedangkan manajemen laba yang menyesatkan atau moral hazard yang buruk berpengaruh negatif terhadap peringkat Sukuk. Hasil ini berarti memberikan sinyal kepada manajemen perusahaan untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan, transferensi, akuntabilitas, dan kredibilitas sebagai kebiasaan dalam budaya perusahaan.
Dalam konteks investasi sukuk sebagai bagian dari obligasi syariah, investor dapat mempertimbangkannya melihat kelengkapan dan kualitas laporan keuangan perusahaan yang diungkapkan kepada publik dibandingkan dengan mengukur praktik manajemen laba dan leverage perusahaan. Selain itu, FDQ yang direpresentasikan dengan proksi relevansi dan reliabilitas laporan keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap peringkat Sukuk. Selain itu, ABR diwakili oleh proksi rasio leverage dan dihitung dengan rasio hutang terhadap ekuitas berpengaruh tajam dan signifikan terhadap peringkat Sukuk. Manajemen laba yang dihitung dengan model Jones yang dimodifikasi berpengaruh terhadap peringkat Sukuk. FDQ yang diwakili oleh proksi relevansi dan reliabilitas laporan keuangan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba. Selain itu, ABRs mempengaruhi manajemen laba.
Manajemen laba tidak dapat dengan benar memediasi hubungan antara ABR dan peringkat Sukuk. Namun, hal tersebut dapat memediasi hubungan antara peringkat FDQ dan Sukuk. Teori hubungan yang digunakan yaitu teori keagenan dan asimetri, termasuk teori signaling, memiliki peran penting dan signifikan dalam mengembangkan peringkat Sukuk. Semua variabel yang diturunkan dari teori hubungan berpengaruh signifikan terhadap peringkat Sukuk. Kajian selanjutnya dapat menambahkan pendekatan lain terkait investor dan prinsipal pada investasi Sukuk.
Penulis: Rahmat Heru Setianto, SE,. M.Sc.
Link Jurnal: https://www.mdpi.com/2227-9091/10/8/150





