Plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) melekat atau tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Perlekatan plasenta ini dibagi menjadi tiga sesuai dengan kedalaman plasenta yang melekat pada dinding rahim yaitu, accreta, increta dan percreta. Plasenta akreta merupakan istilah kebidanan dalam histopatologi yang pertama kali di jelaskan oleh dokter kandungan dan ahli patologi dari Amerika Serikat.
Kondisi ini merupakan hal yang serius karena dapat menyebabkan pendarahan dan bahkan kematian pada ibu. Peningkatan kejadian plasenta akreta spektrum ini berasal dari peningkatan pesat jumlah persalinan sesar. Pada salah satu penelitian menyebutkan bahwa rata- rata insiden plasenta akreta adalah 1 dari 7.000 persalinan yang dilaporkan. Insiden plasenta akreta yang dilaporkan meningkat yang mulanya dari 0,8 per 1.000 persalinan pada 1980-an menjadi 3 per 1.000 persalinan selama 10 tahun terakhir
Plasenta akreta spektrum dapat diderita oleh semua wanita hamil akan tetapi ada beberapa faktor resiko kehamilan yang berkaitan dengan angka kejadian plasenta akreta spektrum. Aisha Grayli Cahyani dan Willy Sandhika telah melakukan penelusuran literatur untuk mengumpulkan faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan plasenta akreta spektrum.
Dari penelusuran literatur yang didapat pada negara Jepang, Indonesia, UK, Mesir, Australia, New Zealand dan Iran didapatkan bahwa faktor risiko yang dapat menyebabkan plasenta akreta spektrum yaitu : usia, paritas, riwayat operasi sesar, riwayat kuretase, merokok, BMI dan plasenta previa.
Usia dikaitkan dengan kejadian plasenta akreta karena jika ibu hamil di usia > 35 tahun maka uterus akan mengalami degenerasi dan kondisi endometrium sudah mengalami perubahan, yaitu sklerosis pembuluh darah, yang akan menyebabkan abnormal plasenta.
Paritas dapat menyebabkan plasenta akreta karena semakin tinggi paritas ibu maka semakin tinggi pula risiko mengalami komplikasi dalam kehamilan. Karena pada setiap kehamilan akan menurunkan kinerja sel- sel dalam rahim plasenta akan melekat ke dalam rahim terlalu dalam begitu juga ke organ lainnya.
Riwayat operasi sesar juga dapat meningkatkan risiko plasenta akreta. Karena bekas operasi sesar dapat meninggalkan jaringan parut yang akan menyebabkan plasenta melekat terlalu dalam pada jaringan parut tersebut. Riwayat kuretase juga dapat meningkatkan risiko plasenta akreta. Karena dari tindakan kuretase dapat meninggalkan jaringan parut yang akan menyebabkan plasenta melekat terlalu dalam pada jaringan parut tersebut.
Merokok dapat menyebabkan risiko plasenta akreta karena peradangan sistemik akibat polusi dapat berdampak pada saluran genital, termasuk kerusakan epitel endometrium dan miometrium. Paparan polutan selama kehamilan menyebabkan peradangan endometrium yang berujung pada plasenta akreta.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan BMI lebih dari 30 memiliki risiko terjadinya plasenta akreta sekitar 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita dengan BMI kurang dari 25. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa semakin tinggi BMI pada usia dini. kehamilan, semakin tinggi risiko plasenta akreta.
Obesitas dikaitkan dengan plasenta akreta karena pada pasien obesitas dapat menyebabkan peningkatan risiko infeksi dan penyembuhan luka yang buruk. Pada wanita yang mengalami obesitas, persalinan sesar cenderung memerlukan waktu operasi yang lebih lama dan berhubungan dengan peningkatan risiko tromboemboli vena, infeksi luka atau endometritis, dan perdarahan postpartum.
Plasenta previa dapat menyebabkan terjadinya plasenta akreta karena biasanya plasenta menutupi bekas luka. Tingginya insiden kondisi pada wanita dengan persalinan sesar sebelumnya serta plasenta previa dapat di ketahui untuk mempertahankan indeks kecurigaan yang tinggi dari invasi plasenta abnormal dan membuat persiapan untuk persalinan yang sesuai pada kelompok wanita ini.
Berdasarkan hasil yang diperoleh diperoleh beberapa faktor risiko yang paling berhubungan dengan terjadinya plasenta akreta. Faktor risiko tersebut adalah usia, paritas, riwayat kuretase, riwayat operasi caesar, plasenta previa, BMI dan Merokok. Dari faktor risiko di atas, deteksi dini plasenta akreta dapat dilakukan dengan menggunakan USG, MRI atau C.T. scan untuk mengoptimalkan skrining pada pasien dengan faktor risiko plasenta akreta untuk mencegah adanya komplikasi sampai dengan kematian ibu.
Penulis: oleh: Dr. Willy Sandhika, dr., M.Si, SpPA(K)
Artikel ilmiah populer ini diambil dari artikel jurnal dengan judul: Risk Factors of Placenta Accreta Spectrum: a systematic review dengan penulis Aisha Grayli Cahyani dan Willy Sandhika yang telah diterbitkan pada International Journal of Research Publication, volume 137, no. 1, bulan November 2023, halaman 132 – 138. https://www.ijrp.org/paper-detail/5656





