Universitas Airlangga Official Website

FEB UNAIR Hadirkan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Bahas Isu Perdagangan dan Kerja Sama Global

Pemaparan oleh Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert dalam Kuliah Tamu Internasional FEB UNAIR pada Jumat (13/2/2026) (dok: pribadi)
Pemaparan oleh Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert dalam Kuliah Tamu Internasional FEB UNAIR pada Jumat (13/2/2026) (dok: pribadi)

UNAIR NEWS – Dinamika perdagangan global menjadi sorotan utama dalam Kuliah Tamu Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Daniel Blockert. Dalam kesempatan tersebut, ia membahas dinamika perdagangan global dan peluang penguatan kerja sama bilateral antara Swedia dan Indonesia. 

Bertempat di Aula Fadjar Notonagoro Kampus Dharmawangsa-B, Dubes Swedia tersebut menjelaskan bahwa Swedia mempunyai luas wilayah kurang lebih sebesar Pulau Sumatera, namun kerap terkenal sebagai negara dengan banyak perusahaan berskala global, seperti Volvo hingga IKEA. Di balik capaian tersebut, ia menyampaikan bahwa Swedia tumbuh sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional. Menurutnya, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan melemahnya sistem perdagangan dunia, negara perlu memperkuat kolaborasi dan keterbukaan ekonomi. 

“Swedia adalah negara yang bertumpu pada perdagangan. Lebih dari 50 persen PDB kami berasal dari perdagangan, dan kami merupakan ekonomi terbuka. Dalam hal ini, Swedia juga cukup berbeda karena kami tidak memandang impor sebagai sesuatu yang buruk. Bahkan, hampir sepertiga nilai ekspor dari seluruh produk yang kami ekspor berasal dari impor,” ungkap Daniel. 

Tantangan Perdagangan Global 

Dalam paparannya, Daniel menekankan bahwa Indonesia perlu menyeimbangkan agenda swasembada dengan upaya menarik investasi asing, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Ia menilai keterbukaan ekonomi dan hubungan dalam pasar rantai global menjadi faktor penting agar investasi dapat tumbuh. Daniel juga menyebut bahwa kebijakan swasembada penuh, khususnya di sektor pangan, akan sulit diterapkan secara realistis oleh negara mana pun.

“Ada beberapa bidang strategis yang mungkin perlu dipertimbangkan untuk menjadi lebih mandiri, seperti energi, ketahanan pangan, dan beberapa sektor lainnya. Namun, untuk menjadi 100 persen swasembada pangan, misalnya, hal itu tidak akan berhasil untuk Indonesia, dan tidak akan berhasil juga untuk Swedia,” bahas Daniel.

Kolaborasi Sektor Kesehatan

Sementara itu, Daniel menyinggung adanya program doktoral dan penelitian bersama antara Karolinska Institute dari Swedia dengan universitas di Indonesia sebagai salah satu contoh nyata kerja sama akademik di sektor kesehatan. Isu kesehatan memperlihatkan secara jelas bagaimana rantai pasok global dan kebijakan perdagangan dapat memengaruhi akses masyarakat terhadap vaksin, obat-obatan, hingga peralatan medis.

“Pada awal pandemi, banyak negara menghadapi keterbatasan akses akibat penutupan pasar dan terhentinya aktivitas perdagangan. Namun dalam perkembangannya, situasi menjadi lebih baik dan saya melihat Indonesia turut mengembangkan kapasitas produksi vaksin. Universitas Airlangga (UNAIR) termasuk institusi yang berperan dalam produksi vaksin COVID-19,” pungkas Daniel. 

Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista. 

Editor: Ragil Kukuh Imanto