UNAIR NEWS – Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memperkuat jejaring akademik internasional. Hal tersebut seiring dengan berlagsungnya Collaborative Teaching – International Guest Lecture bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM). Kegiatan ini berlangsung secara daring pada Selasa (30/12/2025).
Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari UNAIR dan UiTM untuk membahas isu strategis di bidang akuntansi, keuangan, riset, dan keberlanjutan. Gelaran ini terbuka untuk umum sebagai upaya memperluas wawasan akademik di era digital dan global.
Netnografi,Pendekatan Riset Akuntansi Manajemen di Era Digital
Pemaparan pertama oleh Dr Anak Agung Gde Satia Utama SE MAk Ak CA dari Departemen Akuntansi. Membahas mengenai netnografi dalam riset akuntansi manajemen, Satia menyampaikan bahwa netnografi mempelajari budaya yang sedang berlangsung di ruang digital. Penempatan netnografi adalah sebagai bagian dari antropologi digital yang berfokus pada pengamatan terhadap komunitas online secara alami, sehingga mampu menangkap secara lebih autentik.
Satia menekankan bahwa netnografi tetap berfokus pada pengamatan interaksi komunitas di ruang digital, namun dapat menjalin kombinasi dengan metode lain jika peneliti membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam.
“Dalam beberapa kasus, ketika peneliti ingin melakukan eksplorasi yang lebih mendalam terhadap interaksi, peneliti dapat menambahkan metode lain seperti wawancara. Namun, ketika penelitian sudah dikombinasikan dengan interaksi fisik, maka itu tidak lagi disebut sebagai netnografi murni, melainkan pendekatan campuran, karena netnografi murni hanya dilakukan secara online tanpa interaksi tatap muka,” ucap Satia.
Analisis Investasi dan Akuntansi Keberlanjutan
Materi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), oleh Syamsul Samsudin dan Oswald Timothy Edward yang membahas evaluasi kinerja keuangan serta peran analisa investasi dalam menjembatani informasi akuntansi dengan pengambilan keputusan di pasar modal.
Syamsul memaparkan pentingnya menilai kesehatan perusahaan melalui pendekatan fundamental, salah satunya menggunakan kerangka 3M Model sebagai indikator kinerja utama. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa analisis laporan keuangan tidak hanya berhenti pada angka, tetapi juga pada kualitas bisnis dan tata kelola perusahaan.
“Ketika kita ingin berinvestasi pada suatu perusahaan, kita tidak seharusnya hanya melihat angka laba semata. Kita perlu menilai apakah model bisnis perusahaan tersebut kuat, apakah manajemennya kompeten, serta apakah indikator keuangannya menunjukkan sinyal yang positif. Keseluruhan unsur ini membantu kita memahami apakah sebuah perusahaan benar-benar berada dalam kondisi yang sehat atau tidak,” jelas Syamsul.
Oswald juga menyoroti bagaimana pasar modal membaca dan menginterpretasikan informasi akuntansi. Ia menegaskan bahwa harga saham mencerminkan ekspektasi masa depan, sehingga investor tidak hanya melihat angka laba, tetapi juga bagaimana informasi tersebut dapat menjadi prospek pertumbuhan dan risiko perusahaan.
Sementara itu, Dewi Sriani SA MSc dari UNAIR membahas mengenai Environmental Management Accounting (EMA) sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam kinerja bisnis. Dewi mengungkapkan, “EMA tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aspek lingkungan. EMA membantu organisasi mengubah inisiatif keberlanjutan menjadi kinerja bisnis yang terukur dan mendukung strategi jangka panjang,” ungkap Dewi.
Penulis: Kania Khansa Nadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





